Liberalisasi Agama Islam, Baca Al Qur’an Dengan Langgam Jawa

Muhammad Yaser Arafat
Muhammad Yaser Arafat

Jakarta (An-najah.net) – Pembacaan Alquran dengan langgam Jawa pada peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara, Jumat malam (15/05) lalu terus menuai kontroversi. Saat itu Muhammad Yasser Arafat melantunkan Surah An-Najm 1-15 dengan cengkok atau langgam Jawa.
Bahkan ada pertanyaan dari pakar pengajar Al qur’an dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), bagaimana kalau lagu Indonesia Raya saat acara kenegaraan dinyanyikan dengan langgam Jawa atau suku yang lain? “Apakah orang Indonesia terima?”. Tentu ini akan merusak kelaziman, apalagi membaca al Qur’an dengan langgam jawa.
Sementara itu menurut Ustadz Toha Husain al-hafidz, murid Imam Masjidil Haram Syaikh Su’ud Ash Shuraim di Purwokerto, ada 3 kesalahan dalam membaca Qur’an dengan lagu dandanggulo [Jawa]:
1. Kesalahan tajwid. maadnya dipaksa ikuti kebutuhan lagu.
2. Kesalahan logat. Alquran harus diucapkan dengan logat Arab. Biasanya dengan qiraat sab’ah atau qiraat asyrah.
3. Kesalahan takalluf. Memaksakan untuk meniru lagu yang tak lazim untuk Qur’an.
Acara itu dihadiri Presiden Joko Widodo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pimpinan MPR/DPR, sejumlah pejabat tinggi negara dan duta besar negara Arab.

Pakar pengajaran Alquran dari Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII), Dr Ahmad Annuri, MA., menuding pemerintah melakukan liberalisasi agama Islam.

Menurut Ahmad, cara membaca Alquran seperti di Istana Negara itu tidak boleh terjadi lagi dan harus dihentikan. Sebab, kata dia, hal itu memaksakan untuk meniru lagu yang tidak lazim untuk baca Alquran, dan yang paling fatal ketika ada kesalahan niat.

“Yaitu merasa perlu menonjolkan citra rasa lagu ke-Nusantara-an atau keindonesiaan dalam membaca Alquran,” kata doktor bidang Alquran ini dalam pernyataan yang disebar ke media sosial, Ahad (17/05).

Menurut Ahmad Annuri, langkah itu membangun sikap hubbul wathoniyyah yang salah, seolah bahwa lagu Nusantara untuk membaca Quran adalah sesuatu yang layak dan sah-sah saja. Cara membaca Alquran seperti itu, kata dia, akan merusak kelaziman.

Contoh lain, ujar dia, bagaimana jika imam salat membaca Al-Fatihah dengan langgam Jawa? Jadi, dia menegaskan, pembacaan Quran dengan langgam etnis lokal lebih besar mudarat daripada manfaatnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa adalah murni idenya. Dia membantah gagasan itu dari Presiden Jokowi.

“Tujuan pembacaan Alquran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air,” cuit Lukman pada akun Twitter-nya.
Dia menyimak kritik yang berkeberatan dengan adanya pembacaan Alquran dengan langgam Jawa. “Tapi saya juga berterima kasih kepada yang mengapresiasinya,” kata Lukman. (Anwar/annajah/SI)