Liberalisme Islam, Penistaan Terhadap Islam

Liberalisme, Penistaan Agama
Liberalisme, Penistaan Agama
Liberalisme, Penistaan Agama
Liberalisme, Penistaan Agama

An-Najah.net – Tiga puluh sembilan tahun silam, tepatnya tahun 1975 M., salah seorang tokoh Indonesia pernah mengingatkan bahaya Liberalisme bagi  Islam. Prof. DR. H.M Rasyidi, namanya, putra Indonesia yang langka ini pernah menulis surat rahasia kepada Menteri Agama dan beberapa eselon tertinggi di Depag. Laporang rahasia itu berisi kritikan terhadap buku Harun Nasution, seorang tokoh yang dikemudian hari dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas penyebaran liberalisme di tanah air.

Surat ini sebagai protes atas keputusan Departemen Agama RI yang menjadikan buku Prof. DR Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (IDBA),” sebagai buku pegangan wajib untuk mata kuliah Pengantar Agama Islam, sebuah mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa IAIN, apapun fakultasnya.

Alumni al-Azhar Kairo yang menjadi menteri agama pertama Indonesia juga menteri agama pada kabinet Syahrir ini, telah menjelaskan panjang lebar, tentang ketidakcocokan antara Islam dan metodologi memahami Islam yang ditawarkan oleh Orientalisme Barat. Salah satunya adalah liberalisme.

Beliau menulis buku Koreksi terhadap DR. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Sebab buku ini mengantarkan mahasiswa pada pemahaman liberalisme. Paham ini, menurut Rasjid, menjadikan mahasiswa berakhlak buruk dan tidak terkendali.

Beberapa tahun kemudian, kekhawatiran Prof. DR. Rasyidi ini terbukti. Penyakit pemikiran yang ditebar oleh Nasution, dan Nurcholis Majid –sebagai penerusnya- menghasilkan manusia-manusia yang durhaka kepada agama.

Mereka dididik di perguruan tinggi Islam, IAIN, STAIN dan UIN, bukan semakin yakin terhadap kebenaran Islam, bukan juga bangga menjadi seorang muslim, tidak juga menjadi seorang da’i yang menjaga akidah dan akhlak umat dari kerusakan bid’ah, khurafat maupun kesyirikan.

Namun sarjana-sarjana ini, bahkan yang masih kuliah, menjadi manusia yang paling getol menggugat Islam dan para ulama. Ibarat manusia yang sedang kerasukan jin, mereka  bertindak gila mencela Allah, benci kepada ulama-ulama yang shaleh. Bahkan berani menistakan Tuhan, Allah SWT.

Liberalisme, Penistaan Islam

Kasus yang terjadi di UIN Sunan Ampel Surabaya, Agustus lalu adalah salah satu buah pemikiran liberal yang diusung oleh Harun Nasution dan Nurcholis Majid. Ospek mahasiswa baru ini betul-betul menyedihkan. Mahasiswa baru bukan diajari berakhlak mulia, tetapi justeru diajarkan untuk menghina Tuhan. “Tuhan Membusuk,” Ini tema besar orientasi mahasiswa baru di fakultas Ushuluddin di kampus berlabel Islam tersebut.

Wajar terjadi, sebab pemikiran liberal yang diajarkan di fakultas Ushuluddin, ini sangat kotor dan sepertinya lebih kotor dari tinja manusia. Lebih merusak daripada pelacuran dan minuman keras. Jika dalam pandangan manusia pada umunya, hatta orang kafir, pelacuran itu adalah merusak serta menjijikan. Sebab siapapun tahu, ia akan merusak keturunan, rumah tangga, tatanan akhlak serta penyebab penyakit di masyarakat. Namun, bagi kaum liberal-relativisme itu baik, bahkan bisa dianjurkan.

Sebab dalam paham liberalisme, standar nilai itu bukan nash al-Qur’an maupun hadits, apalagi ijma’ maupun qiyas. Bukan. Tetapi budaya yang dianut masyarakat. Mereka juga tidak pernah meyakini kebenaran absolute (muthlak/pasti). Bagi mereka semua serba relative.

Artinya, bisa saja pelacuran itu buruk di satu masyarakat, tetapi belum tentu buruk di masyarakat lain. Misalnya, pelacuran dan minuman keras adalah buruk dalam Islam, maupun masyarakat di Makkah. Tetapi belum tentu buruk di mata masyarakat Barat, Den Haag misalnya. Bahkan, mungkin pada taraf tertentu baik. Jika masyarakatnya merasa itu baik, maka hukumnya baik.

Selain itu, kaum liberalisme adalah pemuja paham kebebasan, tidak ingin terikat dengan satu jenis keyakinan apapun, kecuali ikatan hawa nafsu.

Dalam buku, Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif, (hal. 182-184), penulisnya, Sumanto al-Qurthubiy, yang dikenal sebagai pemuja kebebasan menulis;

“Tuhan tidak ada urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan –secara eksplisit tertuang dalam alQur’an- telah membebaskan untuk memilih; menjadi mukmin atau kafir.” Tulisnya.

Ia melanjutkan, “Lalu bagaimanaa hukum hubungan seks yang dilakukan atas dasar suka sama suka, “demokratis,” tidak ada pihak yang “disubordinasi” dan “diintimidasi”?..Jika seorang dosen atau penulis boleh “menjual” otaknya untuk mendapatkan honor, atau seorang da’i atau pengkhotbah yang “menjual” mulut untuk mencari nafkah, atau penyanyi dandut yang “menjual” pantat dan pinggul untuk mendapatkan uang, atau seorang penjahit atau pengrajin yang “menjual” tangan untuk menghidupi keluarga, apakah tidak boleh seorang laki-laki atau perempuan yang “menjual” alat kelaminnya untuk menghidupi anak-istri/suami mereka?”

Liberalisme merupakan bagian dari Ghazwul Fikri ‘Perang pemikiran’ yang menyerang jantung kaum muslimin. Yang diserang itu adalah aqidah, pondasi agama islam ini. Umat islam harus mewaspadai paham ini, karena paham ini bisa menghancurkan agama islam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 107 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar