Lima Target di Bulan Ramadhan

target
target

An-Najah.net –

Ramadhan merupakan kesempatan berharga bagi seorang muslim untuk memperbaiki kualitas diri. ia adalah adrasah Ilahi untuk menempa iman, moral dan spiritual. ia ibarat tangga yang digunakan untuk menggapai puncak ketakwaan.

Sayangnya tidak sedikit kaum muslimin yang masih bingung, bagaimana cara memperbaiki diri dan aspek apa saja yang harus diubah. Sehingga ia benar-benar merasakan buah dari madrasah Ramadhan.

Sebab kata islahu nafsi atau memberbaiki diri masih terlalu umum untuk dipahami sehingga sulit untuk menetapkan target yang harus diperbaiki.

Akibatnya bulan Ramadhan hanya dilalui dengan semarak tanpa makna, kemeriahan yang cepat berlalu. Tidak ada bekas yang bisa dirasakan pada bulan-bulan berikutnya.

Lima Sisi Yang Harus Diperbaiki

Sebenarnya banyak aspek yang harus diubah. Semua tergantung dari kondisi personal seorang muslim. Namun, setidaknya ada lima sisi yang harus diperbaiki oleh seorang muslim. Agar ia bisa mengambil faidah dari keberkahan Ramadhan. Antara lain:

Pertama, Memperbaiki Hubungan dengan Sang Khalik

ini adalah sisi yang pertama dan paling utama yang harus diperbaiki oleh setiap muslim. Sebab, ibadah yang tanpa dilandasi dengan rasa cinta, rasa takut dan mengharap kepada Allah, hanya akan menciptakan ibadah yang seperti itu hanya akan mendatangkan kemalasan.

Sebab ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan dan manisnya keimanan. Lambat laun, ia akan mulai bosan untuk mengerjakan kewajiban-kewajibannya Hingga akhirnya na’udzu billah ia akan meninggalkannya sama sekali.

Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim untuk memperhatikan hubungannya dengan Allah. Memikirikan kebesaran Nya, luasnya karunia dan kasih sayang Nya. Besarnya ancaman dan pedihnya siksaan-Nya.

Menghadirkan Allah dan segala aktivitasnya. Hingga ia menjadi orang yang ihsan. Sebagaimana pesan Rasulullah

“Kamu menyembah Allah seakan akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

Kedua, Memperbaiki hubungannya dengan Dirinya Sendiri

Maksudnya adalah dengan bermuhasabah, Merenungkan banyaknya amalan yang iuput ditunaikan. Semenara di sisi lain masih banyak pelanggaran yang masih sering dikerjakan. ini merupakan masalah besar kedua yang harus ia perbaiki. Hasan Al-Bashri berkata:

“Seorang mukmin adalah pemimpin atat dirinya sendiri. ia harus selalu bermuhasabah. Sesungguhnya yang membuat ringan hisab seorang hamba di hari kiamat adalah karena ia senantiasa bermuhasabah di dunia.

Dan yang membuat berat hisab seorang hamba di hari kiamat adalah tidak bermuhasabah di dunia.” (Hulyatui Auliya: 2/157)

Jika ia termasuk orang yang malas dalam melaksanakan ketaatan, ia memulai untuk membiasakannya. Walaupun dengan sedikit memaksa. Sebab tidak ada obat yang lebih mujarab dari orang yang malas melebihi memaksakannya.

Bukan berarti ibadah yang dikerjakan tidak berpahala karena dilakukan dengan terpaksa. Paksaan tersebut hanyalah bentuk melatih jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu yang cenderung mengajak pada kemalasan.

Termasuk melatih diri meninggalkan halhal yang tidak bermanfaat. Seperti bermain game dan perbuatan yang melalaikan lainnya. Dan puasa adalah kesempatan berharga untuk melatih meninggalkan itu semua.

Menggantikannya dengan amalan sunnah seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, memperdalam pemahaman agama dengan belajar dan taklim dan lain sebagainya.

Ketiga, Memperbaiki Hubungan dengan Keluarga dan Kerabatnya

Jika ia termasuk seorang suami yang super sibuk, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga, Ramadhan adalah momen yang tepat untuk meluangkan waktu khusus untuk keluarga. Belajar dan mendidik anak istri, berlomba dalam kebaikan dan ketaatan.

Jika ia adalah seorang istri yang juga ikut bekerja di luar rumah, Ramadhan juga merupakan waktu yang tepat untuk berdekatan dengan anak-anak, memberikan perhatian lebih kepada mereka. Sehingga anak benar-benar merasakan kasih sayang sang ibu.

Suami dan istri kembali menguatkan ikatan cinta mereka. Jika selama ini hubungan dilalui dengan hambar dan apa adanya, maka dengan momen Ramadhan mereka harus bermuhasabah, menghilangkan ego dan keras kepala.

Menyadari hak dan kewajiban masing-masing. Demi tercipta keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Ramadhan juga menjadi momen untuk mengeratkan hubungan kekerabatan. Jika selama ini kesibukan bekerja menjadi kendala untuk saling mengunjungi, atau ada urusan dunia yang memutuskan hubungan keluarga, di sinilah saat yang tepat untuk saling mengunjungi dan saling memaafkan.

Keempat, Memperbaiki Hubungan Sosial Kemasyarakatan

Jika selama ini ia termasuk pribadi yang tertutup. tidak pandai bergaul dan cenderung menarik diri, maka Ramadhan juga merupakan momen yang tepat untuk mulai terbuka dan bergaul dengan masyarakat.

Dengan shalat berjamaah, mendatangi buka bersama, mabit. i’tikaf dan acara lainnya menjadikan ia bisa belajar arti kebersamaan dan persaudaraan.

Ramadhan juga mengajarkan kepedulian kepada penderitaan kaum muslimin. Jika selama ini ia acuh tak acuh dengan kondisi kaum muslimi, maka pada Ramadhan ini ia harus belajar untuk merasakan kesedihan dan kepiluan mereka.

Karena salah satu pengajaran ramahdan adalah ikut menyelami lapamya saudara kita yang lapar. Padahal rasa lapar karena puasa belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan rasa lapar kama perang. bencana kelaparan, embargo dan lainnya.

Jika selama ini ia asik beribadah dalam kesendiriannya. maka saatnya ia menunjukkan bahwa keshalehannya bisa bermanfaat oleh masyarakat sekitarnya. Menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang di sekelilingnya.

Kelima, Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia

Seorang muslim, selain menjadi rahmat bagi sesamanya, ia juga menjadi rahmat bagi manusia seluruhnya. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang kafir.

Maksudnya ia harus bisa mencerminkan islam yang ramah tapi tidak menghinakan. Karena selama ini tidak sedikit dari kamum muslimin yang tidak bisa membedaka sikap ramah dengan sikap menghinakan diri.

Seperti ketika agamanya dihina oleh arang kalir, maka wajib untuk membelanya. Bukan malah menunjukkan toleransi salah jalan. Memaafkan penista dan malah mencela kaum muslimin yang membela kehormatan agamanya.

Di bulan Ramadhan ini ia mulai berpikir, jika selama ini ia luput dari mendakwahkan orang-orang kanr ke jalan islam, maka di bulan inilah dia mulai menyusun rencana, bagaimana orang-orang kafir tertarik dengan islam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 139 Rubrik Tema Utama

Penulis : Sahlan Ahmad

Editor : Helmi Alfian