Lintasan Hati, Salah Satu Pintu Kemaksiatan

Lintasan hati
Lintasan hati

An-Najah.net – Peruntukkan akal pikiran kita hanya untuk Allah Ta’ala. Lintasan hati ini sifatnya lebih sulit untuk dihadapi. Dia merupakan awal mula kebaikan dan keburukan. Dari sini pula lahir kehendak, kemauan dan hasrat yang kuat. Barang siapa yang berhasil menjaga lintasan benaknya, maka dia akan mampu menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsunya.

Sebaliknya, orang yang terkalahkan olehnya, maka dia akan lebih dikuasai oleh hawa nafsunya. Barang siapa meremehkan lintasan-lintasan benaknya itu, maka dia akan terseret menuju kebinasaan.

Baca juga: Bahaya Dosa Terhadap Ruhani dan Jasmani

Dia merupakan sesuatu yang paling berbahaya bagi manusia karena bisa menyebabkan kelemahan, ketidakberdayaan, kemalasan, penyimpangan, penyia-siaan perintah Allah Ta’ala, kepayahan, dan juga penyesalan. Orang yang berangan-angan dan sudah kehilangan realitas dengan jasmaninya, maka dia akan mengubah realitas itu hanya dalam bentuk khayalan di dalam hatinya. Kemudian dia cukup puas dengan sebuah gambaran fiktif dan khayal yang terilustrasikan dalam pikirannya.

Macam Lintasan Hati yang Wajib Dimiliki

Selanjutnya, lintasan hati ini masih terbagi lagi menjadi empat macam, Pertama, lintasan hati yang bisa mendatangkan keuntungan (manfaat) duniawi. Seperti memikirkan pekerjaan, pembelajaran, jabatan dan lain sebagainya demi meraih keberlangsungan hidup yang sejahtera.

Kedua, lintasan hati yang bisa menolak atau menghindarkan dari kerugian-kerugian (madharat) duniawi. Seperti memikirkan keamanan rumah, mencegah berbagai hal yang bisa menyebabkan bencana alam, dan  lain semisalnya agar terhindar dari kerugian-kerugian duniawi.

Ketiga, lintasan hati yang bisa mendatangkan kemaslahatan Ukhrawi. Seperti dzikrul maut (mengingat kematian), muhasabah, memikirkan keselamatan keluarga dan sanak kerabat agar sukses di akhirat, memikirkan pendidikan anak, jodoh, pekerjaan yang sejalur dengan perintah Allah Ta’ala.

Baca juga: Pantaskah Diri Kita di Sisi Allah Ta’ala?

Keempat, lintasan hati yang bisa dijadikan untuk menolak madharat-madharat ukhrawi. Seperti memikirkan keabsahan pemahaman para shalafus shaleh, para ulama, yang bisa menjadi perisai kemadharatan kelak di akhirat.

Batasi Lintasan Hati!

Oleh karena itu, seorang hamba hendaklah membatasi lintasan hati, pikiran dan hasratnya hanya pada keempat bagian ini. Jika sudah demikian, maka dia akan mampu mendahulukan yang terpenting dari yang penting. Dia akan menunda apa yang tidak penting. Selanjutnya dia akan memiliki dua hal lagi, yaitu yang penting dan yang tidak penting.

Pada saat itulah seseorang akan mengalami keraguan dalam bersikap, mana seharusnya yang lebih didahulukan. Jika dia mendahulukan tiga hal pertama, maka dia akan kehilangan satu yang lain.

Jika pada akhirnya ada dua hal yang sulit dikompromikan. maka yang berperan dalam hal ini adalah akal, pemahaman agama dan fikih serta pengetahuan. Ketinggian derajat dan keberhasilan seseorang ditentukan oleh keputusannya di dalam menyikapi antara benturan-benturan berbagai kepentingan tersebut.

Yang bijak dalam menyikapi masalah ini adalah mengikuti kaidah agung, yaitu mementingkan yang terbesar dan tertinggi dari dua kemaslahatan atau kepentingan yang berbenturan, walau kemungkinan dia harus kehilangan satu kemaslahatan demi meraih kemaslahatan yang lebih besar.

Baca juga: Berhati-hati Cara Untuk Selamat

Berbagai kemaslahatan dunia tidak akan bisa berdiri kecuali dengan syariat Allah Ta’ala. Pikiran yang paling tinggi, paling agung dan paling bermanfaat adalah manakala pikiran tersebut diperuntukkan hanya untuk Allah Ta’ala dan kampung akhirat.

Peruntukkan Akal Pikiran Kita Hanya Untuk Allah Ta’ala

Ibnu Qoyyim menjelaskan, jika Akal pikiran tersebut sudah diperuntukkan hanya untuk Allah Ta’ala, maka dia terbagi menjadi beberapa jenis:

Pertama, memikirkan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan serta terikat erat dengannya. Mentadaburi dan meng-imani seluruh firman-Nya tanpa ada ragu di dalamnya.

Kedua, memikirkan ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan di alam nyata serta mengambil pelajaran darinya. Seperti firman-Nya yang berkaitan dengan astronomi dan alam semesta.

Ketiga, memikirkan nikmat-nikmat Allah Ta’ala dan kemurahan-Nya. Seperti firman-Nya yang berkaitan dengan kenikmatan surga, kemurahan rahmat dan ampunan-Nya.

Keempat, memikirkan berbagai cacat diri dan berbagai penyakitnya serta memikirkan cacat amalan yang dilakukannya. Bermuhasabah diri atas segala kealpaan dan kelalainya kepada Allah Ta’ala

Kelima, memikirkan kewajiban dan tugas yang terkait dengan waktu. Seperti mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, berhaji dan lain sebagainnya. (Ibnu Qoyyim, Ad-Da’u wad Dawa’, cet I, hal. 357)

Jika akal pikiran kita tidak masuk dari kelima hal di atas, maka yang terjadi adalah waswas (godaan, bisikan) dari setan atau angan-angan batil dan tipuan bohong. Orang yang terkena penyakit ini adalah seperti orang yang mabuk.

Allah Ta’ala telah merangkai dua jenis nafs (hati) pada manusia; yaitu nafs ‘ammarah (jiwa yang memerintahkan berbuat jahat dan nafs muthma’innah (jiwa yang tenang). Keduanya saling berlawanan dan bermusuhan. Sesuatu yang terasa ringan bagi salah satunya tentu terasa berat bagi yang satunya lagi. Peperangan ini terus berlanjut dan tidak akan pemah berhenti kecuali telah habis masanya.

Baca juga: Menikmati Jalan Kebenaran

Kebatilan selalu berpihak dan bersekongkol dengan setan dan nafs ‘ammarah sedangkan kebenaran (al-haq) itu selalu bergabung bersama malaikat dan nafs muthma’innah. Perang adalah kompetisi, sedangkan kemenangan itu akan menyertai kesabaran.

Semoga Allah Ta’ala selalu membing kita di jalan-Nya hingga akhir hayat. Sehingga segala anggota tubuh kita -termasuk lintas hati- tidak bermaksiat kepada-Nya, amin. Wallau Ta’ala ‘Alam [] Ibnu Alatas