Lisan, Pedang Tak Bertulang Yang Mematikan

menjaga lisan
menjaga lisan

An-Najah.net – Dengan lisan seseorang bisa terjerumus ke neraka, namun bisa juga memasukkannya ke jannah-Nya, tergantung pelakunya.

Tidak dapat dipungkiri, berperang terhadap lisan merupakan perkara yang urgen. Tidak memperhatikannya, dalam artian mengumbar lisan berbicara tanpa memperhatikan aturan syar’i berakibat yang sama sebagaimana orang yang mengabaikan dan meninggalkan jihad melawan orang kafir.

Baca juga: Hilangnya Etika Beda Pendapat, Menandakan Kedunguannya

Pilar Islam Dengan Menjaga Lisan

Mengumbar lisan menuruti bisikan hawa nafsu setan dengan mengabaikan rambu-rambu syari akan menjerumuskan pelakunya terjebak ke dalam neraka. Rasulullah Saw bersabda kepada Muadz bin Jabal, setelah beliau menyebutkan Islam, Shalat, dan Jihad kepadanya: “ Maukah kukabari kepadamu tentang pilar Islam keseluruhannya ?” Muadz menjawab, ‘Iya wahai Rasulullah!’ Rasulullah Saw memegang lisannya dan bersabda, ‘Jagalah olehmu ini,’

Lalu Muadz pun berkata, Apakah kita akan disiksa karena apa yang kita bicarakan dengan lisan ini? Beliau Saw bersabda, ‘Celaka engkau wahai Muadz, tidaklah manusia dilemparkan ke dalam neraka melainkan akibat dari lisan-lisan mereka ?” (HR. At-Turmuzdi: 2616)

Sebagian kaum muslimin masih sering mengabaikan untuk menjaga lisan atau bahkan lebih banyak meremehkannya. Berkata yang tidak bermanfaat (untuk kepentingan dunia maupun akhirat). berkata dusta, berjanji palsu, gibah, mengadu domba, hingga mencela dan memaki-maki kepada orang lain.

Untuk poin yang terakhir di atas bukan hanya ditujukan kepada sesama muslimin biasa. Bahkan terkadang terhadap para mujahidin yang bertempur melawan musuh-musuh Allah Ta’ala dan rasul-Nya dengan Ungkapan sembarangan.

Menuduh berpaham Khawarij, karena tidak tunduk kepada penguasa yang sah, walaupun pemerintahnya kafir. Tuduhan jahil (bodoh), karena bukan mutakharij (lulusan) dari masyayikh atau ma’ahid (pondok-pondok) dan madaris, (sekolah-sekolah) yang direkomendir oleh syaikh tertentu.

Baca juga: Khutbah Jumat ; Masuk Neraka Karena Taklid

Atau karena jihad mereka tidak direstui dan di dukung oleh penguasa. Tuduhan-tuduhan seperti ini nyaring terlontar dari orang-orang atau kelompok yang menamakan diri “salaflyyun”.

Bencana Dan Kekacauan Merajalela

Banyak bencana dan kekacauan dalam kehidupan masyarakat yang muncul disebabkan karena tidak menjaga lisan. Rasa benci, sakit hati, saling mendiamkan, perpecahan hingga pertumpahan darah akibat tidak memperhatikan apa yang diucapkan atau yang ditulis.

Baca juga: Hikmah di Balik Musibah Palu dan Donggala

Islam mengajarkan agar kita diam tidak berbicara manakala tidak ada kata-kata yang baik. Kata-kata yang mendatangkan kedamaian hidup bersama atau manfaat berupa pahala yang pada akhirnya akan membahagiakan pemiliknya di akhirat kelak.

Bukankah Rasulullah Saw telah menjamin bagi siapa saja yang mampu menjaga lisannya dari berkata-kata yang merugikan diri sendiri dan orang dengan berita gembira, baginya jannah?

Rasulullah bersabda, “Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” (Al-Bukhari: 6474)

Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggut adalah mulut, apa yang ada di antara kedua kaki adalah kemaluan. Menjaga keduanya merupakan kunci keselamatan seseorang dari ancaman neraka dan dijamin masuk jannah.

Berpikir Sebelum Berucap

Menjaga lisan agar saudara muslim lainnya selamat dari gangguannya juga merupakan bukti bahwa seseorang itu baik. Sebaliknya, seseorang yang mengaku muslim tetapi lisannya tidak membuat muslim yang Iain nyaman dan aman di sisinya.

Sesungguhnya tak sepantasnya kita mengaku sebagai muslim yang baik. “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Saw, “Siapakah orang muslim yang paling baik ? ‘Beliau menjawab, “ Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”. (HR. Bukhari: 11)

Sering kali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan. Dan menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan. Hal itu karena biasanya apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya.

Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan perkataannya. Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Dia akan berbicara apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya. Begitu pula dia akan diam apabila tidak bermanfaat baginya.

Baca juga: Jangan Menjadi Setan Bisu

Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berani tidak paham terhadap agamanya. Diamnya adalah emas. Menyelamatkan diri dari berbagai bencana dan penyesalan.

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan-Nya. Sehingga mendapatkan ridho dan rahmat-Nya. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad
Editor               : Ibnu Alatas