Lisan Pejabat

Kantor Kementrian Agama

An-Najah.net – Entah kata apa yang pas dalam bahasa Indonesia. Mungkin jika dipaksakan agak mendekati dengan kata busuk lisan,

yaitu ungkapan yang keluar dari lisan seseorang yang menyebabkan rasa tidak suka, muak dan sejenisnya. Atau dengan kata lain, lisan yang tidak dapat dipercaya alias banyak berbohong.

Pada masa Orde Baru istilah congbos dilekatkan dengan nama Harmoko. Hampir tidak ada hari di mana menteri penerangan era Suharto ini mejeng di TV.

Kata-katanya manis, indah dan menarik. Namun faktanya berbeda dan bahkan berlawanan. Tak heran, rakyat saat itu memplesetkan nama Harmoko dengan ungkapan Hari-hari omong kosong. Mahasiswapun sering mensorakinya dengan kata-kata congbos.

Apakah istilah congbos tersebut hilang seiring runtuhnya Orde Baru? Ternyata tidak. Lihat saja, setiap euforia demokrasi, setiap datang pesta demokrasi, baik pemilihan anggota dewan di daerah maupun pusat, ataupun pemilihan kepala daerah, gubernur dan presiden, para calon berlombalomba mengumbar janji-janji manis untuk rakyat.

Sampai-sampi MUI didesak untuk mengeluarkan fatwa agar para wakil rakyat dan pejabat tidak mudah mengumbar janji saat kampanye, setelah itu melupakan.

Inilah indikasi congbos masih dipakai pejabat setelah runtuhnya Orde Baru, namun dengan pola dan bentuk yang berbeda.

Menteri Agama Era Jokowi

Bagaimana dengan pemerintahan Jokowi? Nampaknya kata-kata yang terkesan manis. namun pahit dan menyakitkan kerap terdengar.

Lebih lebih bagi umat Islam. Beberapa kali. pejabat-pejabat di lingkar Jokowl banyak mengeluarkan kata-kata yang membuat luka umat islam. Apakah Ini termasuk congbos sebagaimana era Soeharto dengan ikon Harmoko?

Berikut, beberapa ungkapan yang keluar dari lingkar penjabat Jokowi yang banyak melukai umat islam. Salah satu yang banyak mendapat sorotan adalah menteri agama Lukman Hakim Saifuddin.

Beberapa ungkapannya meresahkan umat islam. Sebut saja pengakuannya terhadap agama Bahai sebagai agama resmi di Indonesia beberapa waktu lalu. Padahal Baha’i sesat dan menyesatkan.

Ulah lain sang menteri adalah memberi kesempatan Syi’ah bermuktamar di kementrian agama di ruangan Prof. Dr. HM. Rosyidi, seorang ulama penentang Syi’ah.

Padahal tidak pernah terjadi sebelumnya kementrian agama memberi peluang orang-orang Syi’ah sebagaimana yang dilakukan Menteri agama era Jokowi ini.

Masih tentang Syi’ah, lagi-lagi menteri agama berulah dengan memberi kesempatan kepada tokoh Syi’ah untuk berpidato di Masjid Istiqlal yang belum pernah terjadi dalam sejarah sebelumnya.

Hal lain yang masih berkaitan dengan Syi’ah adalah keberaniannya memberikan pengantar buku Syi’ah yang menentang buku fatwa penyimpangan dan kesesatan Syi’ah.

Pemberian pengantar ini mengesankan Menteri agama lebih membela Syi’ah daripada membela Ahlu Sunnah di indonesia. Padahal jelas-jelas buku Syi’ah tersebut menentang buku tentang fatwa dan n syi’ah di Indonesia.

Belum selesai masalah Syi’ah dan Baha’i muncul bacaan ”AI-Qur’an dengan langgam jawa di Istana Negara saat peringatan Isra’ Mi’raj pertengahan Juni lalu.

Sontak, bacaan ini menimbulkan kecaman luas dari umat Islam dari Indonesia, bahkan ulama-ulama Timur Tengah tidak ketinggalan memgomentarinya. Menteri agama pasang badan mengatakan bahwa inisiatif bacaan janggam Jawa tersebut murni dari dirinya.

Kini, menjelang Ramadhan muncul kembali ungkapan yang menyakitkan umat Islam. Menteri agama meminta umat Islam agar Menghormati orang yang tidak berpuasa.

Ungkapan ini, nampak pas dan benar, namun jika dikaji lebih jauh mengesankan umat Islam Padahal umat Islam sebagai mayoritas.

Seharusnya saling menghormati, lebih-lebih minoritas terhadap mayoritas. Di Bali saja, mayoritas sering menyuarakan dan memaksa agar minoritas menghargai dan menghormati mayoritas, terutama saat-saat perayaan agama mereka.

Wapres dan Larangan Putar Kaset Mengaji

Kasus lain yang melukai umat Islam adalah larangan Wapres Jusuf Kalla untuk memutar kaset mengaji sebelum shalat Subuh.

Sontak, paparan Wapres di depan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-lndonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, Jawa Tengah (8/6/2015) lalu mendapatkan sorotan luas umat Islam.

Padahal, di berbagai daerah, terutama di basis-basis NU, memutar kaset untuk membangunkan orang sekaligus persiapan shalat Subuh sudah menjadi tradisi berpuluh-puluh tahun.

Alasannya sederhana, jika pemutaran kaset dilakukan, padahal ada sekitar 800 ribu masjid dan musholla, berarti tiap 500 meter ada masjid dan musholla sehingga rawan keras-kerasan dan menimbulkan polusi suara.

“Bahwa orang jalan kaki ke masjid itu 10 menit cukup, tidak usah dibangunkan orang 1 jam sebelumnya. Jadi pengajian itu 5 menit saja sudah cukup. Kemudian tahrim 3 menit, kemudian adzan 2 menit, Iqamah 1 menit.

Kemudian kasih kesempatan orang sholat Sunnah 3 menit, saya rasa sudah cukup itu waktunya. Baru bisa aman negeri ini, kalau tidak begitu akan polusi suara dimana-mana”, ungkapnya.

Kasus-kasus lain yang melukai umat Islam

kasus-kasus lain yang melukai umat Islam dan banyak mendapat sorotan adalah rencana penghapusan kolom agama, pemblokiran situs-situs Islam, penolakan terhadap pengungsi Rohingya.

Larangan berdo’a sesuai agamanya dikelas sebelum pelajaran dimulai, penolakan pendirian kantor perwakilan HAMAS di Jakarta dan ungkapan menteri sosial, Khofifah Indar Parawansa yang menyebut banyak wanita berjilbab mengindap HIV/AIDS.

Berbagai ungkapan tersebut lebih banyak menyudutkan umat Islam, bahkan umat Islam sebagai tertuduh. Nampaknya umat Islam menjadi objek yang secara pelan-pelan perannya disingkirkan dari negeri ini.

Ambil contoh, penghapusan kolom agama akan menjadikan hak-hak sebagai seorang muslim hilang, termasuk jika terjadi kematian yang tidak diketahui identitas agamanya.

Sementara pemblokiran situs-situs Islam lebih memberikan stigma bahwa Islam adalah teroris dan radikal. Sedangkan ungkapan banyak wanita berjilbab mengindap HIV-AIDS mengesankan wanita-wanita muslimah berperilaku free sex dan menyimpang.

Tanpa sadar, berbagai ungkapan tersebut lebih membuka musuh-musuh Islam untuk menyerang Islam. Apalagi jika ungkapan tersebut sekedar untuk mendapatkan atau melanggengkan pangkat dan jabatan yang mereka miliki. Alangkah buruknya lisan-lisan tersebut.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 116 Rubrik Teropong

Penulis : Yusuf

Editor : Helmi Alfian