Loyalitas Seorang Muslim

سيs

Oleh: Ustadz Amru Kholis

Dalam ajaran Islam dikenal istilah al-Wala’ dan al-Bara’. Al-Wala’ atau muwaalaatu artinya mencintai, menolong mempercayai atau teman dekat. Al- Bara’ al-mu’aadaatu artinya menjauhi, membenci dan memusuhi. Al-Wala dan al-Bara’ merupakan ajaran pokok dalam Islam. Menjadikan orang-orang kafir sebagai musuh dan menjadikan orang-orang Islam sebagai kawan merupakan ciri orang yang beriman. Ketika sifat ini tidak ada, keimanan hilang dan seseorang telah keluar dari Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

….Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Ahmad dan Al-Hakim, silsilah Ahadits Shahih no. 1728)

Syaikh Hammad bin ‘Atiq mengatakan “ Adapun perihal memusuhi orang-orang kafir dan musyrik, maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah mewajibkan hal itu dan menekankan kewajiban ini dan Allah mengharamkan berwali kepada mereka dan menegaskan keharamanya. Sehingga dalam Kitabullah tidak ada hukum yang lebih banyak dalilnya dan lebih gamblang penjelasanya setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik melebihi masalah ini.” (Nawaqhidh al-Iman al-Quliyah wal ‘Amaliyah hal. 359), jadi masalah terpenting setelah tauhid adalah wala’ dan bara’ ini.

Hukum Membantu Orang Musyrik

Aqidah wala’ dan bara’ yang agung ini sudah banyak dilanggar oleh umat Islam pada hari ini, baik secara sengaja maupun karena ketidak tahuan. Peristiwa hari-hari ini bisa mejadi contoh paling kongkrit dan aktual.

Ketika AS dibantu oleh sekutu-sekutunya melakukan invasi dan agresi militer ke negeri-negeri islam, seharusnya pemeritah negara-negara berpenduduk muslim mengulurkan tangan untuk membelanya. Namun justru, mereka mendukung invasi AS untuk mendapatkan keuntungan politis, ekonomi dan  militer dari AS. Mereka memberikan dukungan ide, logostik, pangkalan militer, pasukan reguler, tidak mengutuk, menolak pemutusan diplomasi dan lainya, padahal jelas-jelas yang diperangi adalah umat Islam.

Pada sisi yang lain secara tegas presiden George W. Bush sendiri menyebut serangan ini sebagai Crussade, perang salib. Toni Blair lebih hati-hati, dia bilang prang Iraq hari ini merupakan perang kesejarahan, untuk menghindari kalimat “crussade” yang sensitif. Artinya perang Kristen intrnasional melawan umat Islam. Kissinger menegaskan bahwa kekalahan AS di Iraq adalah kekalahan bangsa barat seluruhnya.

Dalam Islam, jihad di Iraq yang diserang oleh musuh yang datang meng-invasi adalah jihad dhifa’i (jihad difensif). Para ulama telah berijma’ (sepakat) bahwa hukumnya fardu ‘ain bagi penduduk yang diserang seperti wajibnya shalat lima waktu dan shaum Ramadhan. Bila penduduk Iraq belum mampu mengusir musuh, maka kewajiban mengusir musuh  meluas terus kepada penduduk negeri-negeri terdekat, begitu seterusnya sampai kewajiban mengusir musuh mengenai seluruh umat Islam, bila musuh tidak bisa diusir kecuali dengan dengan keterlibatan seluruh umat Islam. (Ad-Difaa’ ‘an ‘Araadl al-Muslimin hal. 10-16, Ilhaq bi al-Kafilah  hal. 35-37).

Sebagai bentuk wala’ kepada kaum muslimin Iraq, seluruh umat Islam di muka bumi hari ini dituntut untuk membantu mereka sesuai dengan kemampuan yang disanggupinya. Lewat media massa yang menyuarakan pembelaan, dana untuk kaum muhajirin, bantuan militer untuk mujahidin, tekanan terhadap AS dan sekutunya lewat jalur diplomasi politik, boikot produk AS dn sekutunya serta berbagai bantuan yang mungkin dilaksanakan, termaksud do’a.

Sebagai bentuk bara’ haram hukumnya umat Islam memberi bantuan kepaada AS, Inggris, NATO, dan sekutunya dalam menyerang Iraq dan negeri Islam lainya. Karena itu, para ulama Islam Internasional memfatwakan keharaman mendukung AS dan sekutunya dalam memerangi Iraq dan negeri Islam. Serta wajib hukumnya membantu mereka dalam memerangi agresos. Fatwa datang dari 26 ulama biladul haromain, dintaranya  Syikh Abdul Aziz Al-Ghomidy, Safar al-Hawali, Abdul al-Wahab ibnu Nashir At-Turoiqy dan lainya. Fatwa yang lain juga datang dari Yaman, Shomalia dan yang lainya.

Dasar Hukum Keharaman

                Syaikh Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad penulis buku Taysiir al-‘Aziz al- Hamiid Syarhu Kitaab at-Tauhid, dalam risalah beliau yang berjudul Hukum Muwaalaat Ahli Syirki menyebutkan 21 dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menegaskan keharaman membantu Negara (institusi) dan orang kafir memusuhi umat islam. Diantara dalilnya adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim”… (Al-Maidah: 51)

Imam at-Thabari ketika menafsirkan ayat ini brkata ” Siapa yang menjadikan mereka sebagai wali dan sekutu, dan membantu mereka melawan kaum muslimin, maka ia adalah orang yang satu dien dan satu millah dengan mereka. Karena tidak ada seorangpun yang menjadikan orang lain sebagai walinya kecuali dia ridho dengan orang itu, dienya dan kondisinya. Dan jika dia telah ridho dengan diri dan dien walinya itu, maka dia telah memusuhi dan membenci lawanya, sehingga hukumnya (kedudukan dia) adalah seperti hukum walinya”. (tafsir Ath-Thabari 6/160)

Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah berkata, “ Allah menetapkan hukum yang tak akan berbah bahwa oang yang kembali kepada kekufurn (murtad) berarti telah kafir, baik dia punya udzur seperti takut atas nyawa atau harta atau keluarga atau tidak punya udzur. Sama saja apakah dia kafir dari batinya atau kafir dari lahirnya saja tanpa batinya. Sama saja apakah dia kafir dari perbuatan dan perkataan atau dengan salah satu dari keduanya. Sama saja apakah dia mengaharapkan keuntungan duniawi dari orang musyrik atau tidak. Ia tetap kafir apapun keadaanya, kecuai orang yang dipaksa. Jika seorang dipaksa dan dikatakan kepadanya “kafirlah!, kalau tidak kamu akan kami siksa atau kami bunuh1, atau orng-orang musyrik mengambilnya dan menyiksanya dan ia tak mungkin bisa selamat kecuali dengan menuruti perintah mereka. Maka boleh baginya menuruti secara dhahir saja, dengan syarat hatinya tetap mantab dengan keimananya. Adapun jikaia menuruti mereka dalam hatinya maka ia tetap kafir sekalipun dipaksa”. (Risalatu Hukmi Muwaalaati Ahli al-Isyraak dalam Al-Jami’ al-Farid hal. 428).

Beliau meneruskan, “ Allah lalu menerangkan bahwa sebab kafirnya mereka bukan karena mereka berkeyakinan syirik atau tak mengetahui tentang tauhid atau membenci agama atau mencintai kekafiran namun sebabnya adalah karna mencari keuntungan duniawi lalu mengutamakan keuntungan duniawi atas agama dan ridho Rabb semesta Alam”. (Risalatu Hukmi Muwaalaati Ahli al-Isyraak dalam Al-Jami’ al-Farid hal. 428).

Syaikh Muhammad bin Abdul al-Wahhab menyebutkan pembatalan keislaman yang kedelapan adalah membantu dan tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam, dengan dalil Al-Maidah:51. (Ad Durarru As-Sunniyah 8/90, dinukil dari Al-Wala’ wa al- Bara’ hal. 77).

Syaikh Shalih Fauzan berkata ”membantu dan saling menolong dengan orang kafir dalam memusuhi orang Islam, memuji dan membela orang kafir. Ini adalah salah satu pembatal keimanan dan penyebab kemurtadan”. (al-Wala’ wa al-Bara’ fi al-Islam hal. 9). Hal ini juga ditegaskan oleh Syaikh Abdullah bin Bazz dalam buku beliau, Aqidah Shahihah versus Aqidah Bathilah dan pembatal-pembatal islam.

Walaupun untuk Kepentingan Dunia

Dari sini, jelasa alasan akan mendapatkan keuntungan ekonomi, politik dan militer sebagaimana diperoleh oleh beberapa negara sama sekali tidak menjadi alasan yang dibenarkan agama. Pelakuya tetap keluar dari Islam, apabila bukan karena paksaan, bahkan piihan sendiri dan sukarela. Sikap pemerintahan negara-negara yang membeo dan pro dengan intervensi dan agresi militer AS ini jelas-jelas membatalkan keislaman. Mereka sudah tak memahami dan meyakini Allah sebagai As-Shamad (tempat bergantungnya makhluk). Mereka bertawakal kepada AS yang mempunyai dana dan militer terkuat di dunia hari ini dan tidak meyakini Allah lah yang memberi rizki sebenarnya. Dengan sedikit keuntungan politis, ekonomi dan militer, iman digadaikan bahkan dijual kepada kuffar. (Wallahu A’lam bis shawab) –Dinukil dari Majalah An-Najah Edisi 21 –