Macam-Macam Perbedaan Yang Harus Diketahui

Perbedaan
Perbedaan

An-Najah.net – Seseorang semakin bijak jika menguasai fikih khilaf. Dalam sebuah forum, seorang hadirin mengajukan pertanyaan kepada Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar. Inti pertanyaannya seputar perbedaan dalam tubuh umat Islam hari ini. Apakah ini memang sunnatullah yang tak bisa dihindari? Adakah solusi untuk memadukan harakah-harakah Islam yang sebenarnya punya satu visi dan tujuan?

Menurut Syaikh Umar Al-Asyqar cara untuk keluar dari perbedaan diawali dengan memahami fikih ikhtilaf. Supaya perbedaan yang muncul dapat diidentifikasi, apakah termasuk perbedaan yang bersifat rahmat atau justru sebuah penyimpangan baru.

Baca juga: Hilangnya Etika Beda Pendapat, Menandakan Kedunguannya

Ikhtilaf atau perbedaan sebagaimana yang dipahami dari nash-nash Al-Qur’an ada 4 macam:

Pertama, Ikhtilaf Dalam Perkara Ushuluddin

Prinsip pertama yang wajib diyakini yaitu hanya Islam agama yang benar menurut Allah. Agama selain Islam merupakan penyimpangan beragama yang dilakukan manusia. Contohnya ialah agama Yahudi dan Nasrani yang telah mengubah drastis ajaran tauhid yang semula yang dibawa oleh para Rasul.

Perbedaan semacam ini mustahil di satukan. Usaha untuk melakukan taqrib juga akan sia-sia, karena perbedaannya sangat fundamental. Menurut beliau, pertemuan lintas agama yang diadakan hendaknya berupa forum diskusi dengan tujuan dakwah. Jadi, wakil dari pihak muslim akan memahamkan syubhat dan kekeliruan dalam agama-agama tersebut. Selanjutnya mengajak mereka memeluk agama Islam, sebagai bentuk iqomatul hujjah.

Kedua, Perbedaan Firqah.

Perbedaan kedua ialah perbedaan antar firqah dalam tubuh umat Islam. Sebagai catatan, tidak semua firqah masuk dalam kategori ini. Hanya firqah yang masih berpegang pada pokok-pokok ushul iman yang bisa diajak berdialog. Seperti iman kepada Allah Ta’ala, Kitab, hari akhir dan qadha’ dan qadar.

Adapun yang menyelisihi prinsip-prinsip tersebut dikategorikan dalam perbedaan yang pertama. Misalnya kelompok Syi’ah yang berprinsip bahwa Ali bin Abi Thalib lebih layak mendapat nubuwwah dari pada Muhammad Saw. Atau kelompok Bahai dan Ahmadiyah yang menganggap ada nabi yang diutus setelah Rasulullah Saw.

Baca juga: Anjing Akhir Zaman Berkedok Khawarij

Perbedaan pokok Iman ini tidak boleh terjadi. Usaha untuk taqrib dan rekonsiliasi justru merusak prinsip-prinsip Ahlu Sunnah wal jamaah. Antara Ahlu Sunnah dengan Syi’ah tidak bisa bersatu secara prinsip. Syi’ah meyakini jika Al-Qur’an telah diubah, kurang dan belum sempurna. Selain itu, orang Syi’ah tidak menganggap orang yang mengubah Al-Qur’an kafir.

Permasalahan tersebut tentu menyalahi prinsip ahlu sunnah tentang kemurnian Al-Qur’an dan Allah Ta’ala akan terus menjaga kitab suci ini dari perubahan. Syi’ah juga berani mengkafirkan mayoritas sahabat, terutama Abu Bakar, Umar, Utsman bahkan Aisyah istri Rasulullah tidak selamat dari fitnah mereka.

Perbedaan prinsip lainnya, Syi’ah menganggap bahwa para imam memiliki sifat ketuhanan, seperti tahu hal gaib, mengatur alam semesta dan tidak mungkin berbuat dosa atau maksum.

Ketiga, Ikhtilaf Dalam Hukum.

Perbedaan ini dikenal sebagai perbedaan mazhab. Perbedaan ulama dalam ranah fiqih ini terjadi sejak masa sahabat hingga hari ini. Namun, perbedaan dalam menyimpulkan hukum tidak terjadi begitu saja. Melainkan setelah melalui proses analisa yang mengacu pada dalil dan kaidah-kaidah ushul fiqih.

Baca juga: Bijak Dalam Perkara Bidah

Keempat, Perbedaan Dalam Amal Islami Sesama Ahlu Sunnah Wal Jamaah.

Perbedaan inilah yang sekarang terjadi dengan banyaknya lembaga, organisasi atau jamaah-jamaah Islam. Menurut Abu Hafs Al-Mauritani, bahwa jamaah atau kelompok-kelompok Islam tersebut lahir dalam situasi, kondisi dan tempat yang berbeda. Karenanya, karakter dan masalah yang dihadapi tiap jamaah juga berbeda. Perbedaan ini, membuat misi dan prioritas amal tiap jamaah berbeda. Dalam kasus tertentu, sebuah jamaah dianggap lebih mampu membaca waqi’ dan menemukan solusi yang khas untuk masalahnya.

Semoga risalah singkat ini bisa menambah wawasan kita, sehingga mempermudah dalam menjalani kehidupan keseharian kita. Amin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 110, hal 19

Penulis             : Abdullah

Editor               : Ibnu Alatas