Makna Dan Tuntutan Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah
Ukhuwah islamiyah
Ukhuwah islamiyah
Ukhuwah islamiyah

An-Najah.net – Persaudaraan karena iman adalah persaudaraan yang paling kuat. Karena ia adalah persaudaraan aqidah karena Allah Ta’ala. Inilah yang membedakan dengan ikatan-ikatan persaudaraan yang lain. Ia lebih kuat dibanding persaudaraan karena rahim atau keturunan. Ukhuwah Islamiyah juga lebih kuat dibandingkan persaudaraan karena kesukuan, warna kulit, bahasa dan yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat : 10)

Maka ukhuwah Islamiyahlah yang akan menjadikan seluruh saudara seiman di berbagai belahan bumi manapun sebagai saudara yang harus dicintai. Mereka memiliki hak atas kita dan kitapun memiliki hak atas mereka. Maka derita kaum muslimin di Suriah, Yaman, Iraq dan bumi manapun menjadi bagian dari derita kita. Sebaliknya, kemenangan dan kejayaan kaum muslimin di manapun menjadi kebahagiaan kita pula.

Yang membedakan ukhuwah Islamiyah dengan yang lain adalah, visi dan misi yang sama yaitu memakmurkan bumi dengan syariat Islam. Menebar keadilan, memerangi kezaliman dan kesyirikan. Maka ukhuwah Islamiyah adalah sebuah jalan yang harus dilalui dalam rangka cita-cita besar tegaknya syariat Islam. Ukhuwah Islamiyah adalah jalan untuk memberantas thagut dan menebar keadilan. Dimana Rasulullah SAW telah mempersaudarakan muhajirin dan anshar dalam ikatan ukhuwah Islamiyah sehingga tegaklah daulah Islam Madinah dan Islam berkuasa di bumi. Baca juga (Seakan Musuh bersatu, tetapi hati mereka bercerai berai)

Tuntutan ukhuwah

Ma’asyiral muslimin rahimmakumullah.

Persaudaraan karena iman adalah perintah agama. Ia memiliki tuntutan yang harus direalisasikan dalam kehidupan. Antara lain;

Pertama, terus mencitai saudaranya karena Allah Ta’ala selama ia masih berada di atas jalan keimanan.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadist;

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Kalian tidak masuk jannah sampai beriman. Dan belum diaggap beriman sampai saling mencintai.” (HR. Muslim)

Cara yang dilakukan adalah saling memberikan hadiah, saling bersalaman, dan juga ucapan salam kepada saudara sesama muslim. Jika kita diberikan kelebihan harta, menyantuni mereka yang lemah, menanggung kebutuhan mereka dengan harta dan tenaga adalah bentuk lain dari saling mencintai sesama muslim. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا ظَهْرَ لَهُ وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ قَالَ فَذَكَرَ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ مَا ذَكَرَ حَتَّى رَأَيْنَا أَنَّهُ لَا حَقَّ لِأَحَدٍ مِنَّا فِي فَضْلٍ

Siapa yang memiliki kelebihan tempat pada kendaraannya, hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki tempat, dan siapa yang memiliki kelebihan perbekalan hendaklah dia memberikannya kepada orang yang tidak memiliki perbekalan.” (HR. Muslim)

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala.

Perlu diketahui bahwa mencintai saudara sesama mukmin menjadi syarat terpenting dalam ukhuwah Islamiyah. Maka sudah selayaknya bagi kita untuk melihat diri kita sendiri, apakah kecintaan ini telah tertanam? Atau ia masih tercampuri dengan berbagai kotoran ukhuwah berupa kedengkian dan yang lainnya?

Kedua, menolong saudaranya yang terzalimi, menjaga darah, harta dan kehormatannya dan membebasakan mereka dari penjara musuh.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” Qs. Al Anfal 72.

Ayat ini turun terhadap mereka yang telah berbaiat kepada Rasulullah SAW tetapi belum berhijrah ke Madinah. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan agar mereka ditolong untuk hijrah atau dengan memerangi musuh yang menguasai mereka. Semua ini karena agungnya ukhuwah Islamiyah.

Ibnu Katsir berkata, “Jika orang orang badui tersebut meminta tolong kalian, yaitu mereka yang belum berhijrah, maka tolonglah mereka. Maka sesugguhnya wajib atas kalian menolong mereka karena mereka adalah saudara kalian seagama. Dan inilah riwayat Ibnu Abbas.” [Tafsir Ibnu katsir 3:353.]

Ayat ini menjadi ayat yang sangat mulia sebagai pengingat akan kelemahan kita. Berapa banyak saudara kita yang setiap harinya meminta tolong pada kita di Suriah, Iraq, Afghanistan, Palestina dan belahan bumi yang lain. Mereka dirampas hartanya, dilecehkan kehormatanya dan dibunuh karena imannya. Jika datang untuk membantu dengan tega belum mampu, wajib menolong mereka dengan harta, tulisan dan juga do’a.

Rasulullah SAW bersabda;

مَا مِنْ امْرِئٍ يَخْذُلُ امْرَأً مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ تُنْتَهَكُ فِيهِ حُرْمَتُهُ وَيُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ وَمَا مِنْ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْضِعٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ نُصْرَتَه

Tidaklah seseorang menghinakan seorang muslim di tempat yang dilecehkan dan dirusak kehormatannya, kecuali Allah akan hinakan orang itu di tempat yang dia ingin mendapat pertolongan. Tidaklah seorang menolong seorang muslim di tempat yang dilecehkan dan dirusak kehormatannya, kecuali Allah akan menolongnya di tempat ia berharap mendapat pertolongan (H.R Abu Dawud, dihasankan oleh Syaikh al-Albany).

Darah muslim adalah darah yang satu. Kehormatan dan juga harta mereka adalah harta yang satu. ‘Ali RA berkata;

اَلْمُؤْمِنُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ

Orang mukmin itu sama hak darahnya; orang yang (terpandang) rendah di antara mereka boleh melakukan sesuatu atas tanggungan mereka; mereka bagaikan satu tangan melawan orang lain”. (HR. Ab daud, Ahmad, An Nasa’i dan dishahihkan oleh al Hakim)

Mereka bagaikan satu tangan melawan orang lain” yaitu mereka bersatu untuk memusuhi musuhnya. Tidak boleh melemahkan, tetapi saling menolong satu dengan yang lainnya. Maka setiap darah seorang muslim tertumpah, seolah olah darahmu juga tertumpah. Setiap kehormatan saudaramu dihinakan, maka sesungguhnya kehormatanmupun juga dihinakan. Dan setiap harta saudaramu yang dirampas, maka merasalah bahwa hartamu juga sedang dirampas.

Sedangkan perintah untuk membebaskan saudara-saudara kita dari penjara adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari;

فُكُّوا الْعَانِيَ -يَعْنِي الْأَسِيرَ وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ

Siapakah yang harus dibebaskan dari penjara musuh? Yaitu mereka para muwahhidiin. Berapa banyak hari ini para da’i dan muwahhidin berada di penjara-penjara dengan tuduhan yang tidak jelas. Berbagai siksaan mereka rasakan hanya karena keimanan mereka kepada Allah Ta’ala. Maka wajib bagi saudaranya untuk menyantuni keluarganya, mendampingi mereka dalam proses peradilan, mengunjungi mereka agar tetap tegar dan istiqamah.

Ketiga, bekerjasama dalam kebaikan dan takwa. Seorang mukmin ibarat satu bangunan. Saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Allah Ta’ala berfirman;

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS. Al Ma’idah : 2)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam sebuah hadist riwayat Bukhari;

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin satu denga yang lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan sebagian satu dengan yang lain”.

Termasuk dalam tolong menolong di sini adalah menyantuni orang orang miskin dan anak yatim, dan juga kebaikan lainya. Dan tolong menolong yang paling tinggi nilainya adalah tolong menolong untuk iqomatud diin dan tegaknya daulah. Tegaknya syariat Islam dan memakmurkan bumi dengan kebaikan. Usaha ini tidak akan bisa dilakukan sendiri sendiri, kecuali harus bersama sama dalam ikatan ukhuwah Islamiyah dan dalam sebuah organisasi yang rapi.

Keempat, mendo’akan kebaikan saat masih hidup, dan memintakan ampunan setelah kematiannya.

Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ دَعَا لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ : آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Siapa saja yang berdoa untuk saudaranya di luar sepengetahuannya, para malaikat akan berkata, ‘Amin. Semoga

Seorang muslim tidak boleh meninggalkan hal tersebut, akan tetapi terus dan senantiasa mendoakan saudaranya pada waktu-waktu yang mustajabah. Demikian beberapa konsekuensi ukhuwah Islamiyah. Masih banyak kewajiban-kewajiban lain yang belum dibahas karena keterbatasan waktu. Tetapi yang sedikit tersebut semoga menjadi pengingat pada kita sekalian agar tetap menjaga ikatan ukhuwah Islamiyah.

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah Ta’ala

Demikian khotbah yang kami sampaikan. Jika ada kebenaran di dalamnya, itu datang dari Allah Ta’ala. Jika ada kesalahan, itu datang dari saya pribadi karena bisikan setan.

Dikutip : Dari Majalah An-Najah edisi 130 Rubrik Khotbah Jum’at hal 31.

Penulis : Ust Amru Kholish

Editor : Anwar