Malam Tahun Baru, Malam Maksiat Internasional!

malam tahun baru
malam tahun baru

An-Najah.net – Hingga detik ini Iblis sukses menggiring kebanyakan manusia ke jurang api neraka melalui perayaan tahun baru (Masehi).

Baca juga: Iblis Menggoda Dari Empat Arah

Dialog Kyai dan Pendeta Tentang Tahun Baru Masehi.

Pak Kyai : Maaf  Pak Pendeta, sebentar lagi 1 Januari Tahun Baru Masehi akan segera tiba, apa yang dilakukan oleh umat Kristen pada malam tahun baru 1 Januari tersebut?

Pendeta : Kami di malam tahun baru tersebut tidak ada kegiatan yang istimewa, ya seperti biasa :

– Malam pkl 19.00 – 20.00 mengadakan kebaktian di Gereja masing-masing lalu pulang.

– Pagi pkl 07.00 –  09.00 ke Gereja kembali. Itu saja kegiatan kami.

Pak Kyai : Ooo, jadi itu saja ya tidak ada aktifitas yang istimewa.

Pendeta : Iya itu saja.

Pak Kyai : Apakah dari umat Kristiani tidak ada yang turun ke jalan untuk memeriahkan tahun baru anda?

Pendeta : Tidak ada.

Pak Kyai : Kenapa mereka tidak turun ke jalan memeriahkan tahun barunya?

Pendeta : Lah buat apa kami turun kejalan, tanpa kami turun ke jalan juga umat Islam sudah memeriahkan tahun baru kami kok!

Pak Kyai : Maksudnya bagaimana?

Pendeta : Iya kami tidak perlu turun ke jalan, karena kami sangat menghaturkan terimakasih kepada umat Islam yang telah memeriahkan dan meramaikan Tahun Baru kami. Coba Pak Kyai lihat saat tahun baru kami tiba ;

– Yang dagang petasan umat Islam, yang beli petasan umat Islam, yang bakar petasan umat Islam untuk merayakan Tahun Baru kami.

Baca juga: Perayaan Tahun Baru dan Derita Muslim Dunia

– Yang dagang terompet umat Islam, yang beli terompet umat Islam dan yang meniup terompet umat Islam demi memeriahkan tahun baru kami.

– Yang dagang kembang api umat Islam, yang beli kembang api umat Islam dan yang membakar kembang api umat Islam untuk memeriahkan tahun baru kami.

Umat Islam ber-bondong-bondong ke : Ancol, TMII, Alun-alun, Puncak dan tempat-tempat hiburan. Jalan-jalan penuh dan macet dalam rangka memeriahkan tahun baru kami.

Jadi buat apa kami turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami, tanpa kami turun kejalan umat Islam sudah turun ke jalan memeriahkan tahun baru kami. Terimakasih Pak Kyai, sampaikan kepada umat Islam yang telah turut serta memeriahkan tahun baru kami.

Pak Kyai : Ooo gitu ya, iya nanti kami sampaikan ke umat Islam bahwa orang-orang Kristen sangat berterimakasih kepada umat Islam yang telah meramaikan Tahun Baru Masehi 1 Januari.

Coba kita renungkan dialog antara Kyai dan Pendeta tersebut, apakah kita umat Islam dari tahun ke tahun akan terus-terusan meramaikan dan memeriahkan Tahun Baru tersebut? Padahal orang Kristen tidak ada yang turun ke jalan… ?? Apakah ini akan terus dan kita tau terus hanya berdiam..???

Persoalannya Bukan Dzat Bulan dan Hari, Namun Budaya Tradisi dan Kebiasaan

Saudaraku, perlu di ketahui dalam perkara ini yang dipermasalahkan bukan dzat bulan dan harinya. Namun, kebudayaan dan kebiasaan yang terjadi di tahun baru tersebut. Pertanyaan apa yang dilakukan umat saat itu? banyak orang keluar rumah pada tengah malam hanya untuk melihat kembang api, berhura-hura, berfoya-foya, menghabiskan malam dengan begadang sehingga kemaksiatan merajalela di dalamnya. Entah perzinaan, pesta minuman keras, obat-obatan terlarang, tawuran, dan lain semisalnya.

Bisa dibilang malam tahun baru masehi merupakan “malam maksiat internasional”.  Tradisi yang tercipta pada malam tahun baru sudah biasa jika di isi dengan aktivitas maksiat, seperti zina dan minum khamer. Terbukti di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bali, Medan, Makassar, dan kota-kota lain angka penjualan kondom naik, mayoritas pembelinya adalah kalangan remaja. Inilah fakta!

Baca juga: Maksiat Merajalela di Malam tahun Baru, Kawasan Puncak Bogor Kehabisan Stok Kondom

Itu baru di Indonesia yang notabene berpenduduk yang katanya mayoritas muslim, lalu bagaimana di negeri-negeri lain yang mayoritas kaum kafir? Tentu lebih hebat lagi maksiat yang dilakukan, bahkan bukan hanya malam tahun baru, tetapi malam-malam biasa pun banyak tercipta maksiat.

Amat sangat disayangkan, malam maksiat ini terjadi secara serempak di seluruh dunia. Itu artinya kebanyakan manusia terlena dengan gemerlapan malam tahun baru, rasanya amat sangat disayangkan jika tidak melihat kembang api dan ikut memeriahkan malam tersebut dengan hura-hura. Itulah kehidupan dunia, membuat banyak orang terlena.

Melihat fenomena ini, teringat firman Allah Ta’ala surah: Al-Hijr :39-40, Iblis berkata kepada Allah Ta’ala, bahwa dia akan menyesatkan kebanyakan manusia di muka bumi ini. Hingga detik ini Iblis sukses menggiring kebanyakan manusia ke jurang api neraka melalui perayaan tahun baru.

Mengucapkan Selamat Tahun Baru Masehi

Bahkan ulama Shalih al-Munajjid pernah berfatwa, “Tidak boleh bagi kaum Muslimin saling memberikan ucapan selamat tahun baru masehi. Sebagaimana tidak boleh bagi mereka merayakannya (tidak boleh mengadakan perayaan tahun baru masehi). Karena kedua perbuatan tersebut termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, sedangkan kita dilarang melakukan hal itu. (Islamqa.info/ar/177460)

Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud: 4031)

Begitu juga fatwanya Shalih al-Utsaimin, “Tidak boleh memberi ucapan selamat hari natal atau selain itu dari hari-hari besar mereka (tahun baru masehi). Sebagaimana tidak boleh pula menjawab mereka. Ketika mereka memberi ucapan selamat terkait dengan moment hari-hari besar (raya) mereka tersebut, karena hal itu bukan termasuk hari raya yang disyariatkan di dalam agama Islam. Di sisi lain, di dalam sikap menjawab ucapan selamat tersebut, terdapat penetapan dan pengakuan terhadap hari-hari besar mereka.

Kewajiban seorang Muslim, menjadi sosok orang yang merasa mulia dengan agamanya, bangga dengan hukum-hukum agamanya. Sudah sepantasnya kita selaku umat Islam semangat mendakwahi dan menyampaikan agama Allah Ta’ala kepada mereka. (Islamqa.info/ar/69811)

Baca juga: Jangan Menjadi Setan Bisu

Jika belum mampu mendakwahi mereka, lebih baik kita gunakan malam-malam kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Baik dengan qiyamul lail, tilawah Al-Quran, tablig akbar, pengajian, shalawatan, atau semisalnya.

Mari, saling mengingatkan, paling tidak dilingkungan keluarga kita untuk tidak merayakannya. Berhubung waktu Natal atau Tahun Baru Masehi sudah dekat. Tidak ada salahnya mulai kini kita sudah saling mengingatkan sesama umat Islam. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas