Manhaj Salaf, Jalan Perjuangan Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah

An-Najah.net – Tahun 656H menjadi babak kelam dalam sejarah Islam. Pada tahun tersebut Daulah Abbasiah runtuh setelah berkuasa kurang lebih lima abad lamanya.

Kekalahan dalam menghadapi invasi Mongol menyebabkan malapetaka yang belum pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia.

Pasukan Mongol yang terkenal bengis menghancurkan seisi Baghdad. Sultan Al-Mu’tashim dan keluarga istana dieksekusi dengan kejam.

Semua warga dibantai tanpa pandang bulu; laki-laki, perempuan dan anak-anak. Orang yang melarikan diri tetap dikejar dan dihabisi hingga di atap-atap rumah.

Kota yang semula ramai mendadak sepi. Asap membumbung dari berbagai sudut kota. Air bercampur darah mengalir ke loronglorong. Baghdad bak kota mati.

Suasana horor seperti itu juga terjadi di kota-kota Islam yang dilewati Pasukan Mongol. Menurut Ibnu Atsir, ”Pasukan Mongol bisa berbuat seperti itu karena tidak mendapatkan rintangan.”

Ulama ahli sejarah tersebut mengungkapkan bahwa para sultan yang berkuasa saat itu membunuh raja kerajaan-kerajaan kecil sehingga tidak memiliki pendukung saat menghadapi invasi bangsa Mongol.

Secara logika, tak mungkin sebuah imperium sebesar Daulah Abbasiah yang telah mapan hancur lebur menghadapi serangan kekaisaran Mongol yang baru berumur Setengah abad.

Dr Muhammad Sayyid AlWakil menganalisa bahwa kekalahan berantai Ummat Islamlebih disebabkan oleh akumulasi faktor-faktor yang bersifat internal yang melemahkan eksistensinya.

Pada masa itu, negara Islam terpecah menjadi kerajaankerajaan kecil yang dipimpin oleh para sultan. Umumnya mereka tidak akur dan tak mau menolong sultan lain yang sedang menghadapi musuh.

Banyak tokoh aliran sesat menjadi panutan ummat dan dekat dengan penguasa. Di lain sisi, taklid dan fanatisme buta para pengikut ajaran sesat kian melemahkan ummat.

Bisa dibilang bahwa ummat berada pada level kritis dalam hal ruhiah dan kepemimpinan. Meskipun dalam bidang ilmu pengetahuan mencapai kemajuan pesat.

Meskipun kondisi sedemikian sulit, namun banyak tokoh-tokoh besar muncul menjadi penyelamat ummat. Salah satunya yaitu Ibnu Taimiyah AI-Harrani.

Siapapun mengakui kiprah perjuangan beliau sungguh besar. Beliau mampu mempengaruhi dan menggerakkan para sultan dan rakyat dalam rangka iqomatuddin. Terkhusus melawan penjajah Mongol.

Syaikh Aid AI-Qarni dalam buku Ala Sahili Ibni Taymiyyahmengungkapkan bahwa beliau hidup pada masa yang penuh dengan penyimpangan ajaran Islam. Kurang lebih ada empat problem besar.

Pertama, Syirik merajalela. Syirik melemahkan ghirahummat dalam memperjuangkan agama. Syirik menawarkan ilusi amal mudah yang berpahala besar. Banyak orang meyakini bahwa amalan syirik dapat menuntunnya masuk surga.

Kedua, masuknya ilmu filsafat Yunani ke dunia intelektual Islam tanpa filter.

Ketiga, sufisme, bukan hanya pada tataran konsep pemikiran melainkan sudah menjadi aliran yang memiliki banyak pengikut.

Keempat, tikaman kelompok Syiah Rafidhah dan Nushairiyah yang banyak berperan sebagai aparatur negara.

Konon, Muayyiduddin Ibnu Alqami, seorang wazir besar yang menganut syiah mengurangi jumlah tentara reguler dan diamdiam bekerja sama dengan Hulaghu khan.

Ibnu Taimiyah meyakini perlu melakukan evaluasi total. Kerusakan telah menyentuh berbagai lini. Beliau sangat terinspirasi oleh ucapan Imam Malik yang berbunyi, “Lan yasluha akhiru hadzihil ummah illa bima sholuha bihi awwaluha.”

Ummat ini takkan bisa jaya tanpa mengikuti petunjuk generasi pertama. Karena itu, ide dasar beliau untuk melakukan perubahan ialah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih. Langkah-langkah riil yang beliau tempuh sebagai berikut:

Pertama, Memurnikan akidah ummat dengan meluruskan kembali pendapat yang salah.

Beliau meredam penyebaran fikrah para cendekiawan muslim sesat dari kelompok jahmiyyah, mu’tazilah hingga syiah. Secara tegas beliau jelaskan kepada ummat bahwa pengasung fikrah jahmiyyah telah keluar dari Islam karena mendeskripsikan Allah secara batil.

Seperti mengatakan Allah berada di setiap tempat. Untuk meredam syubhat yang dilancarkan orang-orang syiah, beliau menulis puluhan jilid kitab berjudul Minhajus Sunnah An-Nabawiyah.Kitab itu berisi bantahan total terhadap ajaran syiah.

Kedua, menyatukan ummat.

Ibnu Taimiyah mendamaikan perseteruan antara dua kelompok besarpengikut Madzhab Hanbali dan Asyari. Beliau menekankan kepada kedua belah pihak agar bersatu dan menghilangkan rasa benci. Kepada para

pengikut Abul Hasan Al Asyari beliau jelaskan sebuah fakta; Meskipun Abul Hasan pakar ilmu kalam beliau banyak mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Abu Hasan kerap menyinggung hal itu dalam bukunya.

Kepada para pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal beliau jelaskan sosok Imam Al-Asyari yang sebenarnya. Meski ia belajar kepada para cendekiawan mu’tazilah tapi tetap menyerap ilmu hadits dan meriwayatkan hadits dari para rawi.

Di akhir hidupnya beliau bertobat. Ajaran Asyariyah beliau lepaskan seluruhnya dan kembali kepada petunjuk ahlu sunnah wal jamaah.

Ketiga, terjun langsung dalam jihad fi sabilillah.

Beliau mengamalkan apa yang beliau ucapkan di mimbar-mimbar. Beliau benarbenar menggerakkan semua elemen ummat untuk membela agama.

Beliau menghimbau kaum muslimin untuk bertahan dan ia bangkitkan para amir untuk berjihad. Dikisahkan bahwa beliau datang ke Mesir guna meyakinkan Sultan Nashir muhammad bin Qalawun.

Dari pertemuan itu tercatat sebuah ungkapan penting, ”Jika kalian tidak mau berjihad melindungi syam (dari pasukan mongol), kami akan mengangkat sultan baru yang mau melindungi Syam dan memperbaikinya di masa-masa aman.”

Alhasil, langkah beliau membuahkan kemenangan Islam atas bangsa Mongol. Daulah Islamiyah pun kembali tegak dan menata kota-kotanya.

Meski kemenangan tersebut terkait banyak faktor, namun peran beliau tetap tidak kecil. Yang lebih penting lagi, beliau berhasil membuktikan bahwa konsep kembali kepada manhaj salaf akan membawa kemenangan.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 89 Rubrik Tema Utama

Penulis : dyn

Editor : Helmi Alfian