Manhaj Salaf Solusi Problematika Umat Islam

Ilustrasi, Manhaj Salaf jaminan kebenaran
Ilustrasi, Manhaj Salaf jaminan kebenaran
Ilustrasi, Manhaj Salaf jaminan kebenaran
Ilustrasi, Manhaj Salaf jaminan kebenaran

An-Najah.net – Tatkala Aa’ Gym, da’i kondang dari Bandung memutuskan berpoligami, pembicaraan tentang poligami tiba-tiba mencuat di publik Indonesia. Dari tukang becak sampai tukang obral janji di gedung DPR, ikut-ikutan meramaikan suasana yang sudah hangat.

Perdebatan pun merembet ke media massa. Ada yang menarik dalam sebuah acara debat yang tayang di salah satu TV swasta, beberapa tokoh liberal yang menolak poligami dengan meyodorkan ayat-ayat Al-Quran. Kurangajarnya, mereka menganggap bahwa poligami itu haram, tidak dibolehkan dalam Al-Quran.

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian,” (Qs. An-Nisa’: 129)

“Adil adalah syarat dalam poligami. Sementara dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa laki-laki tidak akan bisa berbuat adil. Jadi poligami merupakan haram,” tutur perwakilan liberal.

Tentunya, yang membolehkan poligami juga memakai ayat Al-Quran. Sebab Al-Quran membicarakan ini dengan tegas dan juga dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman;

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

“Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (Qs. An-Nisa’: 3)

Fenomena serupa banyak ditemui di tengah masyarakat. Yaitu sama-sama menggunakan dalil tetapi berbeda dalam menyimpulkan hukum. Sebagai contoh, para ulama telah bersepakat bahwa batasan maksimal poligami adalah empat istri dalam satu waktu. Tapi, bagi sebagian orang, batasan poligami adalah sembilan istri. Uniknya, kedua kubu berdalil dengan QS. An-Nisa: 3 di atas.

Perbedaan tersebut bermula dari perbedaan dalam memaknai kata wa dalam ayat tersebut. Yang membolehkan berpoligami hingga sembilan istri, mengartikan kata wa sebagai akumulasi atau tambah. Jadi, 2+3+4=9.

Fenomena fenomena di atas dan yang semisal, menegaskan bahwa dalam memahami serta mengamalkan Islam, seorang muslim tidak sekedar bersungguh-sungguh kembali Kepada Al-Quran dan as-sunnah. Tetapi ada yang lebih urgen dari, itu yaitu memilih metode yang benar dan tepat dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber hukum.

Perkara ini disebut oleh para ulama dengan istilah manhaj istidlal (metodologi berdalil). Sebab banyak orang yang sudah sepakat kembali kepada Al-Quran dan as-Sunnah tetapi berbeda dalam memahaminya karena beda metodologi. Manhaj istidlal adalah tatacara memahami dalil dan etika dalam berinteraksi dengan nash nash syar’i; Al-Quran maupun as-Sunnah.

Manhaj Salaf

Seringkali yang membuat seseorang tersesat dari sirotol Mustaqim adalah kesalahan dalam memahami dalil atau kesalahan dalam manhaj istidlal. Hal ini telah disadari oleh para ulama. Para ulama telah bekerja keras dalam menyusun serta menjelaskan metodologi berdalil yang benar. Misalnya, Imam Syafi’i menyusun buku berjudul ar-risalah untuk menjelaskan bagaimana etika berinteraksi dengan nash-nash syar’i dan bagaimana memahami nash-nash syar’i tersebut. Baca juga makalah (manhaj salaf solusi perpecahan umat islam)

Secara umum manhaj istidlal yang dijamin kebenaran dan keselamatan abadi adalah mengikuti metodologi (manhaj) para Salaf dalam berinteraksi dan memahami nash-nash syar’i. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits-hadits Rasulullah SAW juga ditegaskan kembali oleh para ulama Salaf maupun para ulama kontemporer.

Suatu waktu Sayyidina Umar bin Khattab RA menyendiri, beliau merenungkan, bagaimana umat Islam bisa bermusuhan dan pecah-belah sebagaimana dinubuatkan oleh Rasulullah SAW. Sementara kiblat mereka sama, kitab suci mereka sama, dan nabi mereka pun sama. Kegelisahan beliau ini ditanyakan kepada Sayyidina Ibnu Abbas RA.

Ibnu Abbas menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, Al-Quran turun di tengah kita. Lalu kita mengkajinya dengan benar. Kita tahu dalam kasus apa ayat itu diturunkan Sungguh, di generasi sepeninggal kita, akan muncul orang yang membaca Al-Quran, tapi tidak memahami dalam kasus apa ayat ini dan itu diturunkan. Sehingga masing-masing memiliki pendapat. Jika hal itu terjadi, mereka pun akan berselisih. Jika mereka berselisih, mereka akan berperang satu dengan lainnya.”

Dialog di atas ditulis oleh Imam Al-Qosim dalam kitabnya fadhail Al-Quran.

Sahabat Abdullah Bin Masud RA berkata;

“Kalian akan menemukan beberapa kaum yang mengklaim sedang mengajak kepada kitabullah. Padahal mereka telah membuang kitabullah ke belakang. Karena itu, jadilah orang yang berilmu. Jauhilah perbuatan bid’ah, tanathu’ (sok tahu), taammuq’. Serta kalian hendaknya berpegang teguh dengan (contoh) al-Atiq (para sahabat Rasulullah SAW).” (Dirwayatkan Ad-Darimi & as-Sunnah, imam al-Ajuriy)

Dalam kitan al-Ibanah, Ibnu Bathah meriwayatkan bahwa sahabat Hudzaifah bin Yaman RA berkata;

“Setiap ibadah yang belum pernah dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW, janganlah kamu melakukannya. Karena generasi pertama (para sahabat Rasulullah) belum pernah meninggalkan pendapat untuk orang lain. Bertakwalah kepada Allah wahai ahli Qur’an, tapakilah jalan orang-orang sebelum kalian.”

Para salaf, terkhusus sahabat-sahabat Rasulullah SAW adalah teladan sejati. Dengan mengikuti mereka, jaminan kebaikan dan kedamaian abadi akan didapatkan. Sahabat Abdullah Bin Masud RA berkata;

مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ . أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَـانُوْا خَيْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ، وَأَبَرَّهَا قُلُوْباً، وأَعْمَقَهَا عِلْماً، وأَقَلَّهَا تَكَلُّفاً، قَوْمٌ اِخْتاَرَهُمُ اللهُ لِصُحْبَةِ نَبِيِّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ونَقْلِ دِيْنِهِ فَتَشَبَّهُوْا بأَخْلاَقِهِمْ وطَرَائِقِهِمْ ؛ فَهُمْ كَانُوْا عَلَى الهَدْيِ المُسْتَقِيْمِ

“Barangsiapa yang ingin mencari teladan, teladanilah orang-orang yang telah wafat. Yaitu para sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah generasi terbaik umat ini. Yang paling bersih hatinya. Paling dalam ilmunya. Paling sedikit membebani diri mereka. Mereka adalah generasi yang dipilih langsung oleh Allah SWT untuk mengawal nabi-Nya. Serta untuk menyebarkan agama-Nya. Hendaklah kalian mencontoh akhlak mereka dan menapaki jalan mereka. Sungguh mereka berada di atas petunjuk yang lurus.” ( Jami’ul Bayan, Ibnu Abdil barr & Al-Hujjah Fi bayanil Mahajah, al-ashbahani dan Syariah, al-Ajurri)

Walakhir, tidak ada jalan yang tepat dan benar dalam memahami serta mengamalkan Islam, kecuali jalan para salaf. Kita harus menitinya, baik mujmalan (global) maupun tafshilan (terperinci) agar terhindar dari kesesatan.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 131 rubrik dirasatul firaq hal 16

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar