Masa’il Jahiliyah: SEMANGAT BERIBADAH, TEGUH DALAM KESYIRIKAN

Oleh: Mas’ud Izzul Mujahid

Wanita-wanita Syi'ah Sujud di Hadapan Kuburan Para Imamnya
Wanita-wanita Syi’ah Sujud di Hadapan Kuburan Para Imamnya

Diantara ciri jahiliyah adalah, semangat beribadah tetapi teguh dalam kesyirikan. Mereka beribadah kepada Allah k dengan menjadikan orang-orang  sholeh sebagai sekutu bagi Allah k , dengan harapan Allah mencintai mereka dan orang-orang sholeh (orang-orang sholeh ) dapat memberikan syafaat bagi mereka. Mereka mengira sholihin menyukai perbuatan ini. Allah berfirman:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Qs: Azzumar: 3).

Menurut syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, karakter jahiliyah yang paling berbahaya dan takut adalah mereka memilki semangat dalam beribadah kepada Allah  tapi sayangnya, mereka juga melakukan kesyirikan kepada Allah SWT. Salah satu bentuk kesyirikan yang di sebut olej Syekh dalam matan ini adalah mereka berdo’a dan bertawassul melalui perantara orang-orang sholeh.

Orang-orang jahiliyah berdo’a dan melakukan tawassul kepada orang-orang sholeh didasari anggapan bahwa hal itu sangat di sukai oleh Allah saw. Tapi melalui az-Zumar: 3 ini, Allah mengatakan bahwa berdo’a kepada mereka berarti beribadah kepadanya.  Akhirnya mereka telah berbuat syirik, karena menyelewengkan ibadah kepada selain Allah saw.

Allah berfirman:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi ?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).( Qs: Yunus: 18).

Dalam ayat ini Allah k  menjelaskan dua perkara penting.

1.  Allah SWT  mengistilahkan berdo’a atau bertawasul kepada kepada orang-orang sholeh sebagai sebuah bentuk peribadatan kepada mereka. Allah SWT menegaskan bahwa mereka telah berbuat syirik. Hal ini berdasarkan realiti masyarakat jahiliyah ketika ayat ini diturunkan orang-orang jahiliyah pada masa itu berdo’a dan meminta pertolongan kepada berhala-berhala mereka yang berbentuk patung-patung orang-orang sholeh.  Dalam hadist, Rasulullah menjelaskan bahwa  do’a adalah ibadah. 

An-Nu’man bin Tsabit a  meriwayatkan bahwa Rasulullah `   bersabda:

Artinya:“Do’a adalah ibadah”  kemudian beliau menbaca ayat.

Artinya: “Dan rabbmu berfirman: Berdo’alah kepada-ku niscaya akan ku perkenannkan bagimu. Sesunggunya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Qs: Ghafir : 60).

2.  Do’a yang di panjatkan oleh orang-orang jahiliyah  kepada orang-orang shaleh tidak memberikan pengaruh apa-apa. Pun sholeh tersebut tidak bisa memberi manfaat atau membahayakan mereka.

Dalam ayat lain Allah menjelaskan, orang-orang jahiliyah sering mencampur-adukan antara ibadah dengan syirik.  Allah berfirman

Artinya: Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (Qs: Yusuf: 106).

Hakikat Syirik.

Ta’rif (pengertian) syirik yang disampaikan oleh para ulama beragam,  tapi definisi yang paling luas dan mencakup adalah, “Menyamakan Allah dengan selain-Nya  dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah.” (Kitab al-Madkhal, DR. Al-Buraikan, hal.242).

Ta’rif ini sesuai pendapat para ulama ahlus Sunnah wal-jama’ah. Ibnu Taimiyah rhm berkata, pangkal syirik adalah engkau mensejajarkan Allah dengan makhluk-makluk-Nya, dalam beberapa perkara yang meruapakan hak perogratif (khusus) Allah, ia adalah Musyrik. (kitab al-Istiqamah: 1/ 344).

Syekh Abdul Latif bin Abdurahman Alu Syekh berkata, “Ta’rif syirik telah disampaikan oleh Rasulullah  dalam hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Mas’ud a  , ketika Ibnu Mas’ud bertanya, “ wahai Rasulullah dosa apakah yang paling besar..? “Rasulullah menjawab’ Engkau menjadikan Allah sebagai tandingan, padahal Dia telah menciptakanmu.” (HR: Bukhari, /  kitab addurar assaniyyah, 2/ 153)

Demikialah, ketika seseorang menyamakan Allah k dengan makhluknya dalam perkara-perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah k  maka ia telah berbuat syirik.

Perkara-perkara yang merupakan hak khsusus Allah SWT banyak sekali dan telah di rangkum oleh para ulama dalam buku-buku mereka, seperti; kitab Tauhid karya, syaikh Muhamad bin Abdullah Wahab; Nawaqidhl Iman, karya Syekh DR. Abdul Aziz abdul Latif. Diantara perkara-perkara yang khusus bagi Allah adalah ; shalat, puasa, do’a,  sembelihan, nadzar, membuat tasyri’ (undang-undang) menghalalkan dan mengharamkan. Jika ada seroang yang menyelewengan perkara-perkara ini selain Allah maka ia telah berbuat Musyrik.

 

Ada Apa Dengan Syirik…?

Banyak alasan kenapa syirik  begitu penting untuk dikaji dan diwaspadai, setidaknya ada dua alasan yang di sampaikan oleh Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab.

  1. Misi utama para Rasul adalah menegakan tauhid dan memberantas Syirik. Perintah para Rasul kepada kaumnya adalah satu.

 

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang lurus.( Qs: al-Bayyinah: 5).

  1. Adanya pembagian manusia menjadi muslim dan kafir,  serta disyari’atkan jihad dan permusuhan karena memberantas syirik.  Allah berfirman.

 

Artinya: Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah . Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.(Qs: Al-Anfal. 309).

Syirik Terbesar Abad Ini.

Syaikh DR. Muhamad al-Mis’ary dan Syekh Muhamad Ibrahim alu Syaikh menjelaskan, syirik besar yang melandai umat Islam hari ini adalah syirik dalam beruhukum (perundang-undangan). (Kitab Nawaqhl Iman, hal. 332).

Mayoritas kaum muslimin di dunia telah membuat atau mengadopsi perudang-undangan yang menyelisihi syari’at Islam, menjadikan undang-undang tersebut sebagai sumber rujukan dalam memutuskan segala perkara yang mereka hadapi.

Syaikh Muhamad bin Ibrahim berkata,  “ Adapun orang-orang yang menjadikan perudang-undangan sebagai aturan yang harus diikuti; semua orang harus tunduk kepadanya, maka orang ini telah kafir walaupun dia mengatakan saya bersalah, hokum syar’I lebih adil. Kekafiran ini mengeluarkan dari Islam. (Makalah syekh DR. Ahmad bin Abdul Karim).

Lebih gamblang lagi Syaikh as-Syangithi dalam tafsirnya menjelaskan. “menyekutukan Allah dalam hukum dan perkara ibadah sama saja, tidak ada perbedaan antara keduanya. Antara orang yang mengikuti aturan/ undang-undang  Allah dengan orang yang menyembah patung dan berhala hukumnya sama; keduanya sama-sama musyrik.”( Kitab tafsir al-Adhwa’un Bayan, 7/ 162).

Agar terhindar dari kesyirikan.

  1. a.                  Senantiasa berbuat ikhlas. Orang yang senantiasa meluruskan niatnya ketika beramal, tujuannya hanya untuk meraih ridha Allah SWT tidak akan digoda oleh Syaithan.  Dalam sebuah ayat disebutkan,

 

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)

artinya, Iblis menjawab:’ Demi kekusaaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,  kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (Ikhlas) di antara mereka. (Qs: Shood: 82-83).

b. Berdo’a agar Allah menjauhkan kita dari kesyrikan.

Diantara do’a agar terhindar dari kesyirikan adalah;

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

Artinya: “Ya Allah, sesunggunya aku berlindung kepadaMu dari berbuat Syirik yang saya sadari dan saya mohon ampunan kepadamu dari perbuatan syirik yang tidak saya ketahui dan diucapkan sebanyak tiga kali. (an-najah/Qowy).

*Makalah ini diadaptasi dari Majalah An-Najah