Masih Percaya Demokrasi!‎

pengertian-demokrasi
pengertian-demokrasi

An-Najah.net – Demokrasi hanyalah virus. Di era moderen ini, demokrasi dianggap sebagai “alternatif”  perjuangan umat manusia dalam rangka mewujudkan cita-cita “ideologisnya” (cara pandang dan berfikirnya seseorang).

Demokrasi dianggap mampu memberikan jaminan keamanan, kedamainan, keadilan, dan kesejahteraan umat yang memeluk sistem tersebut. Bahkan, lebih dahsyat lagi, ada yang berkeyakinan bahwa demokrasi adalah puncak tertinggi sistem kehidupan manusia (mendewakan demokrasi).

Pemilu acara berbanderol trilyunan rupiah tersebut merupakan acara wajib bagi sebuah negara yang menerapkan demokrasi sebagai sistem pengaturan pemerintahan. Sistem yang diadopsi dari barat dengan Amerika sebagai “The fouding father” (julukan bagi 68 orang tokoh Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing)

Sebagian kaum muslimin masih ikut andil memperjuangkan Islam lewat pemilu, sebuah misi yang selama beberapa dekade (masa 10 tahun) silam selalu kandas di tengah perjalanan. Sudahkan kita mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut?

Belum cukupkah bukti sejarah kehidupan sistem demokrasi yang dimenangkan oleh partai Islam di banyak tempat, yang hasil akhirnya hanyalah kehancuran! Mulai dari Mesir dengan Ikhwanul Musliminnya, Aljazair dengan FIS (Partai politik di Al-Jazair), kemudian Turki dengan Refahnya, dan Palestina dengan Hamasnya. Kemenangan demi kemenangan di tangan partai Islam. Namun, kemenangan itu tidak bertahan lama, semuanya tumbang tak tersisa, Junta (dewan pemerintahan) sekuler dan militerlah yang menghadang kemenangan partai Islam.

Virus Pembodohan Umat

Jika ada seseorang berpendapat dalam berdemokrasi ada kebebasan berpendapat, berekpresi, beragama, kepemilikan dan kebebasan-kebebasan yang lainnya, itu hanyalah ilusi belaka yang dusta dan tidak dibenarkan dalam agama Islam.

Jika kita diberi kebebasan berpendapat, maka kita akan menerobos “halal dan haram” yang lebih mengedepankan hawa nafsu menurut kaca mata Islam. Lantas buat apa kita beriman kalau kita tidak meyakini syariat Islam!

Dari segi Implementasinya (pelaksanaan), jika kebebasan diperlakukan dalam pelaksanaanya maka budaya korupsi dimana-mana, ghibah, pergaulan bebas, bicara tanpa fakta, dan budaya-budaya yang lainnya. Dan itu semua jika dinalar sudah tidak layak apalagi dilihat dari kaca mata Islam.

Dan kebebasan-kebebasan yang lainnya yang semuanya itu tidak debenarkan syariat Islam. Jika kita memang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya maka kita harus tunduk dengan syariat (undang-undang, peraturan) yang telah Allah Ta’ala tetapkan kepada kita.

Di sinilah sesungguhnya, demokrasi menyuburkan sekularisme dan leberalisme, virus yang ditularkan secara “cerdas” oleh Yahudi. Perlu diketahui bahwa  demokrasi berpihak pada kapitalisme (hartawan), dan dengannya para penganut kapitalisme membuat para pemilik modal semakin kokoh. Faktor penyebabnya keadaan rakyat semakin parah, jurang pemisah antara kaya dan miskin semakn jauh dan lebar. Lantas, masih percayakah demokrasi?

Suatu kenyataan jika partai politik sebenarnya hanyalah sebagai kendaraan bagi segelintir orang untuk mengubah nasib atau memperkaya diri sendiri dan keluarganya, dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan!

“Mereka” mengatakan demokrasi dari rakyat, untuk rakyat, oleh rakyat. Apakah benar? Yang ada hanyalah para penjual  “suara rakyat” untuk memperkaya diri, mempercepat mejadi tenar dan terkenal, menjadi orang yang “berpengaruh” atas nama topeng “wakil rakyat”. Lantas, apakah ini yang dinamakan demokrasi?

Saudaraku, bila kita beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, maka cukuplah syariat (undang-undang) Allah Ta’ala sebagai pengatur kehidupan keseharian kita. Apakah kita ragu dengan syariat Allah Ta’ala? Atau syariat Allah Ta’ala sudah tidak layak lagi diterapkan di era ini?

Jika statement tersebut muncul dari hati kita, maka perlu dipertanyakan keiman kita. Apakah kita  bener-benar beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita di jalan-Nya hingga akhir zaman, amin. Wallahu ‘alam

Penulis : Ibnu Jihad

Editor   : Ibnu Alatas