Masyarakat Islami Lebih Penting daripada Negara Islam? Bila Intelektual Muslim Salah Orientasi

(an-najah.net) – Ada yang membingungkan dalam pernyataan Mahfud MD di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat kemarin (14/12/2012).

“Islam menjadi hidup dalam keseharian masyarakat tanpa paksaan dari siapa pun dan tanpa memaksa siapa pun, yang bisa membuat orang menjadi takut atau jengkel. Itulah sebabnya masyarakat islami dipandang lebih penting daripada negara Islam,” katanya. [1].

Membingungkan karena saya yakin, aktivis ataupun kelompok Islam yang memperjuangkan penegakan negara Islam, tujuan utamanya adalah mewujudkan masyarakat islami.

Ini berarti ada persepsi yang berbeda tentang “masyarakat islami” antara intelektual Muslim, seperti Mahfud MD, dan ulama atau kelompok Islam yang menyuarakan pendirian negara Islam.

Menurut Mahfud, yang kemarin menjadi keynote speaker dalam peluncuran buku “Wajah Toleransi NU” karya Dr. Phil. Gustiana Isya Marjani itu,  Indonesia harus dibangun tanpa diskriminasi antar-kelompok (baca; Muslim dan non-Muslim). Dalam kehidupan islami, lanjut Mahfud, perlu menumbuhkan perilaku saling menghargai tanpa harus memakai simbol-simbol Islam.

“Sikap toleran atas perbedaan. Sebagai bangsa Indonesia harus dapat menerima pendapat orang lain dengan lapang dada. Kita tidak boleh menjadikannya sebagai penghalang untuk akrab dan berhubungan baik,” kata Mahfud saat. [2]

Kalau yang dimaksud masyarakat islami adalah keakraban umat Islam dengan umat beragama lain, dengan mengorbankan syariat Islam, maka ini bukan produk pemikiran yang bersumber dai Al-Qur’an dan juga tidak pernah terbukti dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw.

Memang benar, Islam tidak mengenal paksaan kepada siapa pun untuk masuk Islam. Bahkan dalam perang pembukaan Islam, para mujahid selalu memberikan kebebasan kepada penduduk setempat untuk memilih, masuk Islam dan mendapatkan perlindungan atau tetap dalam agama mereka dengan konsekuensi membayar jizyah sebagai jaminan keamanan mereka. Perang sebagai jalan terakhir hanya diterapkan ketika mereka menolak dua kebebasan itu, karena pada level ini berarti mereka telah memerang Islam dan menghambat umat manusia dari dakwah Islam.[3]

Tetapi, bila yang diinginkan adalah kepuasan setiap orang, tanpa membuat seorang pun merasa takut dan jengkel, Nabi Muhammad saw pun tidak bisa melakukannya. Simak saja kata Abdullah bin Ubai bin Salul dan rekan-rekannya pada Perang Ahzab:

“Baru kemarin Muhammad menjanjikan kemenangan atas Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi), tapi tapi hari ini kita tidak mendapatkan keamanan meski hanya untuk buang air besar.” [4]

Peristiwa tersebut diabadikan oleh Allah di surat Al-Ahzab: 12. Benar kata Imam Syafi’i, “Ridha manusia itu adalah tujuan yang tidak akan engkau dapatkan, sedangkan ridha Tuhan manusia akan didapat, dengan izin Allah.” [5]

Umat Islam, seperti disebut Allah, sering mencintai orang yang tidak mencintai mereka. Umat Islam menaruh kasih sayang kepada umat lain yang menyembunyikan kebencian. Hal ini disindir oleh Allah dalam firman-Nya:

هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ

“Beginilah kalian, kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian, dan kalian beriman kepada Kitab-Kitab semuanya.” (Ali Imran: 119)

Kebencian itu memang tidak selalu ditampakkan, bahkan kadang-kadang tampak sebaliknya.

وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ

“Apabila mereka menjumpai kalian,  mereka berkata, ‘Kami beriman,’ dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kalian.” (Ali Imran: 119)

Bermanis-manis kata (qallu amanna) memang kebiasaan mereka. Belum pernah ada bukti sejarah yang menunjukkan orang-orang di luar Islam yang tulus mencintai umat Islam. Tetapi kalau umat Islam yang perhatian terhadap nasib umat lain, menjaga keamanan mereka, mengamankan perayaan natal dengan tulus dan bentuk perhatian lainnya, maka ini banyak kita lihat. Allah Mahabenar dengan firman-Nya.

Masyarakat Madani dan Masyarakat Islami

Wacana Masyarakat Madani memang banyak menipu banyak cendekiawan Muslim. Tokoh besar, seperti KH Safi’i Ma’arif dan KH Said Aqil Siraj, di salah satu acara ILC ketika masih bernama JLC dulu, sangat bangga untuk mewujudkan Indonesia rukun seperti kehidupan pada masa Rasulullah yang terikat dengan Perjanjian Madinah. Masyarakat Muslim hidup rukun dengan bangsa Yahudi dan Nasrani dalam satu negara dan saling menghormati. Inilah barangkali maksud masyarakat islami menurut Mahfud MD merujuk kepada beberapa pernyataannya tadi.

Tetapi, bagaimana pun itu merupakan teori yang didasarkan kepada pemahaman parsial terhadap sejarah. Sebab, wujud yang diinginkan oleh teori itu berbeda jauh dengan wujud atau fakta sejarah dalam kehidupan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah saw.

Kerukunan—kalau boleh dibahasakan begitu—yang terwujud dari Perjanjian Madinah adalah bagian dari politik Rasulullah untuk pertahanan negara Islam Madinah. Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan bahwa “kerukunan” itu berada di bawah kendali syariat Islam dalam sebuah negara yang secara defacto telah diakui pasca perjanjian Hudaibiyah (6 H).

Ketika elemen dalam perjanjian itu menyimpang dari hukum yang berlaku di negara Islam waktu itu, mereka harus menanggung akibatnya. Lihat saja ketika Yahudi bani Nazhir melakukan rencana busuk saat Rasulullah saw datang ke tempat mereka untuk meminta bantuan pembayaran denda pembunuhan. Mereka diusir dari Madinah sampai bersih dan dipermalukan di mata dunia saat itu. Pengusiran Yahudi ini diabadikan oleh Allah di awal surat Al-Hasyr.

Bukti kedua yang lebih jelas, ketika bani Quraidzah berkhianat pada perang Ahzab. Kaum muslimin membuat lubang-lubang parit di pasar Madinah, lalu mereka satu demi satu digiring untuk menerima hukuman mati. [6]

Yang perlu diingat, keputusan hukuman mati itu tidak datang dari Rasulullah saw tetapi beliau mempercayakan kepada Ibnu Sa’d yang notabene memiliki hubungan yang sangat dekat kepada bani Quraizdah.

Itu menunjukkan bahwa syariat Islamlah konstitusi yang berlaku dalam Perjanjian Madinah tersebut. Kalau ini yang dikehendaki oleh cendekiawan muslim zaman ini, saya yakin semua aktivis Islam yang menginginkan negara Islam setuju, meskipun tidak dinamai sebagai negara Islam. Bila teori tentang masyarakat islami berangkat dari pemahaman sejarah yang komprehensif, kerukunan itu akan terwujud, insya Allah. Wallahu a’lam

Redaksi: Agus

___________________________

[1] http://news.liputan6.com/read/468399/mahfud-md-lebih-penting-islami-daripada-negara-islam

[2] http://news.liputan6.com/read/468399/mahfud-md-lebih-penting-islami-daripada-negara-islam

[3] Lihat analisis sejarah Dr. Ali Ash-Shalabi di buku Biografi Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab.

[4] Lihat Tafsir Naisaburi; Durus li Asy-Syaikh Salman Al-Audah, 38.

[5] Figh Dakwah Ilallah, 190.

[6] Lihat pula pengkhianatan bani Qainuqa’ di Sirah Ibnu Hisyam.