Media Dituntut Jujur dan Objektif Dalam Pemberitaan Terorisme

thumbJAKARTA (an-najah) – Koordinator Indonesian Journalist Forum (IJF) Media Center Muhammadiyah, Musthofa B.Nahrawardaya menghimbau seorang jurnalis seharusnya tidak mendahului pernyataan resmi dari pihak aparat terkait pemberitaan terorisme. Jika, aparat masih menggunakan diksi “terduga”, maka wartawan hendaknya tidak langsung menyebut kata teroris atau tanpa menggunakan kata terduga.

“Itu namanya melampaui batas dan kewenangan. Kalau media atau jurnalis belum dapat bukti nyata berupa fakta di depan mata, maka tidak berhak memberitakan. Jangan pula hanya mengandalkan satu sumber berita saja dari pihak kepolisian, tapi harus ada penyeimbangnya,” ujar Mustofa seusai peresmian Media center Muhammadiyah, di Jakarta, beberapa waktu lalu (13/5/2013).

Lebih dari itu, Musthofa mendesak media untuk fair dan jujur, tidak menambah-nambahkan. Selain itu, ia juga memberi masukan kepada media Islam, agar tidak berlebihan dalam menyajikan informasi, terutama dalam memberi judul.

“Sebagai contoh, jenazahnya wangi banget tujuh hari tidak busuk. Seharusnya buat judul yang wajar-wajar saja. Biasanya kalau judulnya bombastis, pembaca jadi malas membacanya. Ini agar pembaca lebih percaya kepada media kita. Kalau semua media Islam memberitakan hal yang sama terkait itu, tentu menjadi tidak lazim.” ungkap Koordinator ICAF, seperti dilansir dari kiblat.net.

Media Islam boleh memberitakan ketika ada ribuan pelayat menghantarkan jenazah yang disertai dengan fotonya. Kalau tidak ada fotonya lalu diberitakan jumlahnya ribuan, itu berlebihan.

Selain itu, ia memberi pandangan ketika seorang wartawan di lapangan berseberangan dengan Pemrednya dalam mengolah informasi terkait terorisme.

“Saya lebih memilih keluar jika tidak jujur memberitakan yang tidak sesuai dengan faktanya. Saya yakin rezeki sudah disediakan Allah,” kata Mustofa yang 10 tahun bekerja sebagai jurnalis di sebuah media ternama. (qathrunnada/kiblat.net/an-najah)