Melahirkan Generasi Rabbani

generasi rabani
generasi rabani

An-Najah.net Keluarga adalah pilar utama dalam membentuk generasi rabani. Keteguhan seorang ayah dalam membina keluarga menjadi kunci lahirnya generasi pilihan tersebut. Begitu pula kesungguhan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya menjadi faktor penentu tumbuh dan berkembangnya generasi rabani.

Keluarga rabani adalah keluarga yang berjalan di atas manhaj rabani. Menghiasi dengan ketakwaan, menghidupkan sunah-sunah Rasulullah dengan penuh keistiqomahan dan kesabaran. Faktor keluarga ini kemudian didukung dengan faktor teman yang shalih, saudara yang baik, lingkungan islami dan rezeki yang halal akan menghantarkan generasi pilihan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

أَرْبَعُ خِصَالٍ مِنْ سَعَادَةِ الْعَبْدِ، أَنْ تَكُونَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَوَلَدُهُ أَبْرَارًا، وَخُلَطَاؤُهُ صَالِحِينَ، وَمَعِيشَتُهُ فِي بَلَدِهِ

Empat tanda kebahagiaan seseorang; Istri yang shalihah, anak yang baik (shalih-shalihah), saudara-saudara yang sholeh dan rezeki yang didapat dari negerinya.” (Ahmad bin Marwan, Al-Majalis Wa Jawahirul Ilmi, jilid 2, hal. 373, No: 541)

Tarbiyah, Inti Keluarga Muslim

Tarbiyah menjadi inti lahirnya generasi rabani. Generasi Islam pertama lahir karena proses tarbiyah panjang yang dilaksanakan Rasulullah Saw. Mereka menjadi generasi-generasi pilihan, mercusuar ditengah-tengah masyarakat. Mereka dididik dengan manhaj rabani. Menguatkan akidah mereka, mendayakan potensi dengan amal nyata, tunduk dan taat terhadap perintah Allah Ta’ala, serta adanya figur uswatun hasanah dalam kehidupan mereka yaitu Rasulullah Saw.

Baca juga: Belajar Dari Tarbiyah Rasulullah, Strategi Mendidik Anak

Sayyid Quthb mengungkapkan, “Pemeluk agama ini harus benar-benar mengetahui bahwa agama ini dzatnya adalah rabbani, maka konsep operasionalnya harus rabani, berjalan paralel dengan tabiatnya. Dan tidak mungkin memisahkan agama ini dari konsep operasionalnya.

Juga perlu dipahami bahwa manhaj ini adalah konsep yang sifatnya fundamental, bukan manhaj yang temporer, geografis ataupun kondisional yang spesifik berkaitan dengan problem-problem jamaah Islam yang pertama.

Ini adalah manhaj yang mana bangunan agama ini tidak akan tegak kapan pun dan di mana pun kecuali harus dibangun dengannya. Berpegang teguh dengan manhaj tersebut merupakan perkara yang sangat vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem Islam pada setiap gerakan.”

Allah Ta’ala memerintahkan setiap muslim untuk mentarbiyah diri dan keluarganya dengan cara melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Mereka harus mencurahkan segala upaya tanpa henti untuk meluruskan anak-anaknya, memperbaiki segala kesalahannya serta membiasakan dengan berbagai amalan kebaikan. Hal ini pula yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam mendidik anak-anaknya, termasuk apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim.

Membimbing Dan Membentengi Anak Keturunan

Keluarga tidak membiarkan anak-anaknya keracunan dengan berbagai pemikiran menyimpang, karena akan mematikan tumbuhnya generasi rabani. Pemikiran menyimpang bisa masuk melalui TV, media sosial, teman pergaulan, lingkungan atau lainnya. Ibarat seorang petani –ungkap Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal Walad-, dia harus membuang duri dan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan asing atau rerumputan yang mengganggu tanaman agar dapat tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal.

Baca juga: Dahsyatnya Fitnah Akhir Zaman

Membentengi anak dari berbagai kemaksiatan sejak dini juga dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Beliau marah saat melihat Umar bin Khattab memegang dan membuka lembaran Taurat. Bahkan Beliau mengatakan,

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Seandainya Musa berada di antara kalian, kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat. Ketahuilah sesungguhnya kamu adalah bagianku di antara umat-umat yang lain. Dan aku adalah bagian kalian di antara nabi-nabi yang lain” (HR. Ahmad: 436, Al-Albani menghasankannya: 1589).

Dalam keluarga, penyimpangan sekecil apa pun harus disingkirkan dan dijauhkan dari anak-anak. Baik dalam pemikiran, sikap maupun perilaku. Orang tua harus menghilangkan berbagai penyimpangan dan kemungkaran karena jika dibiarkan akan tumbuh benih-benih yang menggerogoti lahirnya generasi rabani. Peran orang tua menjadi penentu terutama seorang ayah.

Figur Teladan Rasulullah Saw

Contoh nyata sebagai pemimpin rabani adalah Rasulullah Saw. Apa pun yang dilakukan tercermin dalam sikap dan perilakunya sebagai uswah. Sementara manhajnya tercermin dalam Al-Quran dan Sunahnya. Figur dan konsep yang terbangun dengan baik melahirkan munculnya generasi pilihan pada masa awal Islam. Tak heran, generasi awal Islam adalah generasi pilihan yang Allah memujinya sebagai generasi terbaik sepanjang masa.

Lahirnya generasi rabani sebenarnya menjadi hak anak atas orang tuanya. Hal ini sebagaimana ungkapan Umar ibn Khattab, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya.

Baca juga: Generasi Rabbani, Kebutuhan Ummat Zaman Now

Yaitu wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak baik, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suami dalam menjaga keadaan.”

Inilah harta simpanan sesungguhnya, istri-istri shalihah yang melahirkan generasi gemilang untuk mengemban risalah Islam. Generasi gemilang tidak akan lahir dari keluarga yang tidak mampu menunaikan amanahnya kepada Allah Ta’ala dan tidak mampu menjaga harta kekayaan sesungguhnya yaitu anak-anaknya dari berbagai penyelewengan terhadap fitrah yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Pertanyaannya adalah; Sudahkah Anda menjadi bagian dari umat yang akan melahirkan generasi rabani? Atau sebaliknya, menjadi bagian yang melahirkan generasi-generasi lemah yang hanya bergelimang kemaksiatan? Wallahu Ta’ala ’Alam.

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 101, hal. 48-49

Penulis             : Mulyanto

Editor               : Ibnu Alatas