Memanfaatkan Barang Gadai

Barang Gadai
Barang Gadai
Barang Gadai
Barang Gadai

An-Najah.net – Assalamualaikum. Ustadz, Alhamdulillah untuk saat ini, Allah memberikan kelonggaran dalam masalah harta kepada saya sehingga saya bisa membantu saudara-saudara saya.

Ketika ada saudara saya meminjam uang yang memberikan barang kepada saya sebagai barang jaminan. Bolehkah saya memanfaatkan barang itu, dengan alasan hal itu sudah diizinkan oleh yang punya barang?
Ummu Abdullah – Bumi Allah)

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah. Shalawat dan salam semoga terlimpah ruah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Barang pinjaman yang diterima oleh orang yang memberi pinjaman uang dari orang yang meminjam disebut dengan barang gadai.

Para ulama sepakat, barang gadai tidak boleh diambil manfaatnya oleh orang yang memberi pinjaman uang. Sebab, itu termasuk manfaat yang diakibatkan oleh pinjaman.

Padahal, setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat buat orang yang memberi pinjaman adalah riba. Dan riba telah diharamkan oleh Allah di dalam al-quran. Rasulullah pun menyatakan bahwa Allah melaknat mereka yang terlibat dengan riba.

Di dalam Al-Mughni 4/431 Ibnu Qudamah menulis, “apabila orang yang meminjam mengizinkan orang yang memberi pinjaman Untuk memanfaatkan barang gadai tanpa imbalan, maka ini tidak boleh. Sebab itu termasuk pinjaman yang mengakibatkan manfaat. Hal itu haram.”

Sedangkan hadis nabi tentang binatang gajah yang boleh diperas susunya oleh orang yang memberi pinjaman, maka Selain itu adalah pengecualian – menurut para ulama’, itu dilakukan sebagai upah atas pemeliharaan yang dilakukan.

Sebagian ulama memberi catatan, apabila biaya pemeliharaan lebih murah daripada hasil yang didapat dari penjualan susu, maka selisihnya harus dikembalikan kepada pemilik binatang.

Izin dan Ridho pemilik barang gadai Tidak Dianggap. Sebab, izin dan Ridho untuk melanggar aturan Allah tidak menjadikan perkara yang diharamkan Nya menjadi halal. Izin dan Ridho di sini disebut oleh para ulama sebagai syarat yang rusak.

Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 116 Rubrik Konsultasi Islami

Editor : Helmi Alfian