Membaca Perlawanan Jihad Global di Suriah

mideast-yemen-47-390x285(An-najah) – Jihad Suriah seolah menjadi momentum mendekatkan jarak antara kekinian dengan fenomena dan simbol-simbol dalam rekam sejarah masa lalu umat Islam. Kita seakan tersedot tanpa sadar oleh pusaran daya tarik masa lalu baik sebagai sejarah maupun nubuwat. Jika di negeri kita seratus tahun yang lalu terasa sangat jauh dengan kekinian kita, tapi tidak dengan Timur Tengah. Nubuwat dan jejak sejarah seribuan tahun yang lalu terasa dekat dengan kekinian umat Islam di sana.

Romantisme masa lalu memang mengasyikkan untuk dikenang, bahkan ingin selalu diulang, apalagi jika masa lalu berupa kemenangan gemilang plus dukungan ‘statemen ideologis’ bernama nubuwat yang memberi garansi bakal terulangnya kenangan manis itu, misalnya hadits yang menyebut akan kembalinya pemerintahan dengan sistem kenabian di akhir zaman. Banyak romantisme masa lalu yang akhir-akhir ini aktual kembali, baik sebelum kasus Suriah maupun sesudahnya. Sebut saja misalnya terminologi Khilafah, Dinar, Dirham, panji hitam dengan tulisan la ilaha illallah Muhammad rasulullah, dan terbaru kian populernya istilah Syam untuk mengganti Suriah dan sekitarnya.

Jargon Masa Lalu untuk Jihad Global
Entah siapa pencetus pertama bendera hitam dengan tulisan dua kalimat syahadat berwarna putih itu. Tanpa ada komando yang jelas, nyaris semua anak muda jihadis di seluruh pelosok dunia Islam bangga dengan panji hitam itu dan merasa punya ikatan emosional yang kuat. Di mana-mana berkibar panji itu, seolah memiliki ‘daya magis’ untuk melahirkan keberanian dan keteguhan untuk jihad.

Secara kelakar, kita boleh uji. Misalkan kita menyodorkan dua model panji perjuangan, yang satu berupa panji hitam dengan tulisan dua kalimat syahadat khas Al-Qaeda itu, dan satu lagi panji hitam dengan tulisan khat modern – misalnya Tsulutsiy – kira-kira panji mana yang akan dipilih anak-anak muda jihadis ? Hampir pasti, panji yang dipilih adalah panji ala Al-Qaeda, padahal tidak ada perbedaan yang serius, hanya jenis khatnya. Panji ala Al-Qaeda menggunakan khat sederhana dan ‘jadul’ sedangkan satunya justru lebih modis dan modern, tapi justru karena itu mengingatkan romantisme masa lalu. Apalagi tulisan Muhammad Rasulullah dengan gaya stempel Nabi makin menguatkan kesan masa lalu era kenabian.

Sambung rasa antara masa kini dengan masa lalu menjadi poin pembeda. Panji hitam itu seolah menghubungkan kekinian dengan masa lalu yang gemilang, dan tampaknya berpeluang menjadi bendera resmi Khilafah sekiranya kelak tegak. Uniknya, kepopuleran panji hitam itu beriringan dengan tingkat penerimaan terhadap pendekatan jihad ala Al-Qaeda yang global. Panji hitam menjadi simbol de facto jihad global.

Antara Suriah dan Syam
Kian populernya nama Syam menggantikan nama Suriah menjadi fenomena lain soal ‘salafisasi’ gerakan jihad global. Sekat geografis bernama Suriah yang bisa melahirkan fanatisme jahiliyah, diruntuhkan dengan mengembalikan umat Islam kepada istilah masa lalu, Syam, meski juga tak ada jaminan dengan istilah Syam otomatis fanatisme jahiliyah akan hilang. Setidaknya istilah ini meliputi wilayah luas, empat negara di kawasan, cukup mengurangi potensi lahirnya kembali fanatisme kedaerahan.

Usaha mengembalikan kata Suriah menjadi Syam sebagaimana sejarah masa lalunya, bisa menjadi salah satu kunci dalam merobah jihad lokal menjadi bercitarasa global, atau paling tidak menjadi jihad regional Syam yang meliputi Palestina, Lebanon dan Yordania dalam satu paket. Umat Islam bisa diajak untuk menyambungkan diri secara vertical sesuai garis lurus sejarah masa lalu umat Islam, tak lagi tersekat oleh batas-batas geografis kekinian.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Timur Tengah, bahkan merambah hingga kawasan nusantara. Awalnya, forum lintas ormas umat Islam yang punya kepedulian terhadap krisis Suriah diberi nama Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS), tapi kini telah berobah menjadi Forum Indonesia Peduli Syam (dengan singkatan tetap FIPS). Kika Bashar Asad benar-benar lengser, dan Suriah makin kacau, nama Syam akan kian menguat sebagai bagian dari fenomena ‘salafisasi’ jihad modern.

Nama Syam jelas tak ada dalam percaturan komunikasi modern, baik sebagai nama geografis maupun nama negara. Tapi penggunaan secara masif nama Syam akan memiliki dampak psikologis bagi kawan maupun lawan. Bagi kawan, akan menghilangkan dikhotomi antara isu Palestina dan Suriah, sebab keduanya di masa lalu masuk dalam teritorial yang sama, Syam. Nama Syam juga akan memudahkan dalam melakukan edukasi kepada umat tentang fadhilah negeri Syam yang disebut dalam hadits-hadits Nabi saw, oleh karenanya termasuk negeri ‘impian’.

Bagi lawan, mengembalikan nama kawasan sebagai Syam, akan mengingatkan pada kegemilangan sejarah umat Islam di sana sebelum dipecah Perancis dan Eropa menjadi negara-negara kecil. Dengan nama Syam, musuh akan kesulitan memainkan isu nasionalisme seperti halnya dahulu mereka lakukan dengan jargon Pan Arabisme, kejayaan Arab. Sebab nama Syam akan mengingatkan masa-masa khilafah bahkan masa-masa kenabian.

Jabhat-Nushrah dan Syam
jabhan nusrahOrang boleh berdebat, apalah arti sebuah nama. Tapi tak bisa dipungkiri, dalam Islam nama mengandung doa. Nama juga bisa melahirkan persepsi dan fanatisme. Maka atas dasar itu, salah satu hal menarik yang bisa menjadi pelajaran buat gerakan jihad lain, adalah kepekaan untuk memilih nama dan merobah nama sesuai fase kematangan jihad di suatu wilayah seperti yang dilakukan Daulah Islam Iraq.

Pada tanggal 8 April 2013 dirilis pengumuman melalui internet berdurasi 21 menit, berisi rekaman suara pemimpin NII (Negara Islam Iraq alias Daulah Islamiyah Iraq) amirul mukminin Abu Bakar Al-Husaini Al-Quraisyi Al-Baghdadiy tentang penghapusan nama Jabhat-Nushrah dan penggabungan dua entitas gerakan jihad di dua teritorial yang berbeda, Iraq dan Suriah.

Inti pernyataannya, secara resmi mengumumkan ditariknya nama Jabhat-Nushrah dan Daulah Islamiyah Iraq, diganti dengan nama baru Daulah Islamiyah fil-Iraq wa-Syam (Negara Islam Iraq dan Syam – NIIS). Memang secara substansi pengumuman ini tak merubah realita apapun, karena hanya pengumuman penggantian nama dengan sistem kepemimpinan yang tetap sama.

Pengumuman ini hanyalah diplomasi nama yang disesuaikan dengan tingkat kematangan gerakan jihad. Nama Jabhat-Nushrah sudah saatnya diganti dengan nama yang lebih sesuai dengan masa depan jihad Suriah, yakni tegaknya pemerintahan Islam yang berdaulat. Maka secara resmi, pemilik nama Jabhat-Nushrah mengumumkan penggantian nama, sekaliguas menegaskan hubungan erat antara Iraq dan Syam dalam usaha jihad regional dan upaya menegakkan pemerintahan Islam yang diatur secara murni dengan syariat Islam.

Pada awalnya, memang nama Jabhat-Nusrah li-ahli Syam tepat sesuai kebutuhan, yang berarti Front Pertolongan untuk Penduduk Syam. Saat itu Suriah sedang kacau balau, yang diperlukan adalah pertolongan darurat secepatnya. Membangun kelompok perlawanan untuk memuluk balik kekuatan rejim.

Tapi setelah jengkal demi jengkal merebut tanah yang sebelumnya dikuasai Asad, sudah dipandang perlu untuk berevolusi menjadi cikal bakal negara yang berdaulat, sebelum keburu dipetik oleh pihak lain yang tak bertanggung-jawab. Ini sekaligus edukasi, sentimen kaum jihadis sama sekali bukan terhadap nama dan simbol, tapi kepada al-haqq. Nama boleh berganti sebagai bagian dari diplomasi, tapi tujuan tertinggi tetap memastikan berdaulatnya hukum Allah di bumi Allah. Strategi ini pernah berhasil di Iraq, dengan berdirinya Daulah Islamiyah Iraq, semoga juga berhasil di Syam, amin. Wallahu a’lam bisshowab.

 

Sumber: elhakimi.wordpress.com (dengan perubahan judul)