Hukum Memberi Tambahan, Ketika Membayar Hutang

Ilustrasi, membayar Hutang
Ilustrasi, membayar Hutang
Ilustrasi, membayar Hutang

An-Najah.net – Ustadz, saya memiliki teman, sebut saja si A yang meminjam uang kepada saya. Kami sama-sama paham bahwa utang harus dibayar sesuai jumlahnya, tidak boleh lebih karena itu termasuk riba. Setelah jatuh tempo si A melunasi hutangnya. Bersamaan dengan itu ia memberi saya sejumlah uang dengan nominal yang tidak seberapa besar; katanya sebagai bentuk terima kasih karena saya telah sudi membantunya. Awalnya saya menolak, takut itu uang riba.

Tapi ia mengatakan tidak apa-apa karena niatnya adalah hadiah. Pun tambahan itu murni inisiatif darinya. Saya tidak mempersyaratkannya sama sekali. Bahkan berharap pun tidak. Bagaimana hukum uang pemberian tersebut? Apakah termasuk riba? (Abu Sumayyah—Solo)

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Hakekat Utang

Perlu dipahami bersama bahwa dalam Islam, utang-piutang adalah akad irfaq (mengasihi sesama). Utang-piutang tidak boleh dijadikan sebagai sarana untuk mengembangkan dana/modal yang dimiliki oleh seseorang. Jika seseorang ingin mengembangkan dana/modalnya, transaksi yang boleh dilakukannya adalah jual beli atau mudharabah dan syirkah.

Para ulama menyatakan, hukum memberi pinjaman adalah mustahab (sunnah), sedangkan hukum meminjam atau berutang adalah mubah. Bagi orang yang memberi pinjaman, Allah memberikan berbagai keutamaan. Di antara seperti yang tersebut dalam hadits,

إِنَّ السَّلَفَ يَجْرِيْ مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَةِ

“Sesungguhnya memberi utang itu sama dengan menyedekahkan separuh nilainya.” (HR. Ahmad, 1/412; dinyatakan shahih oleh al-Albaniy)

Sehubungan dengan kasus saudara, yakni sudah sama-sama tahu bahwa mempersyaratkan tambahan adalah riba, maka memberi tambahan atas pinjaman/utang saat melunasinya tidak mengapa. Bahkan Rasulullah SAW pernah melakukannya.

Belajar Dari Rasulullah Saw

Diriwayatkan dari Abu Rafi’, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah berutang seekor anak unta dari seorang laki-laki. Lalu datanglah kepada Nabi unta-unta zakat, beliau memerintahkan Abu Rafi’ untuk menyerahkan anak untanya kepada orang tersebut. Tak selang beberapa saat, Abu Rafi’ kembali menemui beliau dan berkata, ‘Aku hanya mendapatkan unta yang telah genap berumur enam tahun.’ Maka, Rasulullah bersabda kepadanya, ‘Berikanlah unta itu kepadanya, karena sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik pada saat melunasi utangnya.” (HR. Muslim, no 3615)

Membayar utang dengan tambahan atau kelebihan ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Jika menjadi kebiasaan, maka berlakulah kaidah,

الْمَعْرُوْفُ عُرْفًا كَالْمَشْرُوْطِ شَرْطًا

“Sesuatu yang menjadi kebiasaan dihukumi sama dengan sesuatu yang dipersyaratkan.” (Al-Asybah wan-Nazhair, as-Suyuthi, 92)

Wallahu a’lam.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 128 Rubrik Konsultasi Islam Hal; 42

Penulis : Ustadz Imtihan Asy Syafi’i (Mudir Ma’had Aly An-Nuur, Surakarta)

Editor : Anwar