Keluarga benteng Aqidah

Membina Keluarga Dengan Pondasi Agama

An-Najah.net -Lahirnya seorang mujahid itu berasal dari sebuah keluarga. Tentu keluarga yang memiliki visi dan misi untuk memperjuangan islam ini. Sebagaimana lahirnya Shalahuddin al ayubi itu berasal dari keluarga yang punya cita-cita anaknya kelak yang akan membebaskan al aqsha.

Memiliki sebuah keluarga yang islami itu merupakan sebuah harapan setiap manusia yang beriman. Pasangan suami istri setelah melakukan ijab kabul. Mereka ingin menjadi sebuah keluarga yang tenang, tentram, aman dan damai.

Namun, kadang apa yang diharapkan tidak sebagaimana kenyataan. Ujian demi ujian datang silih berganti . Ibarat sebuah badai yang menerjang sebuah bangunan. Membuat bangunan rumah tangganya berantakan, bahkan rata dengan tanah.

Berkeluarga itu ibarat membangun sebuah rumah. Seorang suami  sebagai kepala rumah tangga harus merancang bangunan rumahnya. Kalau perlu dia harus bertanya kepada seorang arsitek. Agar ia benar-benar bisa membangun rumah yang kokoh.

Perkara yang penting dalam membangun rumah adalah fondasi yang menopang bangunan itu. Jika fondasinya kuat dan aman, maka bangunan itu akan tahan dari terpaan badai, angin, hujan, atau gempa yang pasti datang entah cepat atau lambat.

Kebahagian dalam sebuah rumah tangga tidak tercipta begitu saja. Permasalahan rumah tangga akan menjadi problem yang serius jika tidak mengetahui cara menghadapinya.

Sebab tidak ada satu pun pasangan dalam rumah tangga yang bebas dari ujian, godaan, percekcokan, bahkan pertikaian yang berujung pada perceraian. Yang menjadi masalah itu bukan besar kecilnya masalah, tetapi bagaimana cara jalan keluar dari masalah itu.

Oleh kerena itu, dalam membangun keluarga perlu adanya pembinaan. Sebuah proses pendidikan bagaimana anggota keluarga itu mengetahui tujuan pernikahan.

Pondasi  Agama Islam

Agama Islam merupakan agama yang universal, mengatur seluruh kehidupan umatnya dari perkara kecil sampai perkara besar. Tata cara atau adab ke Toilet saja ada aturannya. Ketika masuk mendahulukan kaki kiri, keluar dengan mendahulukan kaki kanan.

Apalagi terkait bagaimana membangun rumah tangga tentu ada aturannya. Oleh karena itu, sudah selayaknya sebagai seorang  muslim harus menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai pondasi dalam membangun rumah tangganya.

Membangun rumah tangga yang SAMARA adalah bagian dari salah satu tujuan pernikahan di dalam Islam itu sendiri. Tujuan dan manfaat pernikahan dalam Islam adalah merupakan bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah Saw yang merupakan tauladan kita dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Karena dalam ajaran Islam dan Sunnah Nabi banyak terkandung hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Untuk itulah mengetahui resep membentuk rumah tangga bahagia adalah perlu untuk diketahui dan dipahami oleh para pasangan suami istri.

Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak.

Serta memberikan solusi jika terjadi ujian dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah (memberi nafkah) dari suami kepada istrinya serta juga persoalan harta waris dalam keluarga, semua diatur oleh Islam secara rinci, detail dan gamblang.

Mengenai tujuan sebuah pernikahan dalam agama Islam adalah terdapat dalam dalil Al-Qur’an mengenai keutamaan menikah yaitu firman Allah Ta’ala yang artinya :

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berfikir.” (QS Ar Rum : 30: 21).

Rumah tangga teladan islami adalah merupakan rumah yang selalu didambakan oleh setiap pasangan suami-istri yang terdapat didalamnya ketenangan, kedamaian, kasih sayang dan dalam hadits disebut dengan Baiti jannatiy (rumahku adalah surgaku).

Banyak resep membentuk rumah tangga yang baik dengan cara di planing (direncanakan secara matang) untuk mencapainya, tetapi tentu saja planing tersebut tidak bisa mencapai sasaran yang tepat sebagaimana yang diharapkan.

Untuk mencapai hal tersebut haruslah dibutuhkan seorang yang menjadi teladan yang telah sukses dalam membina rumah tangga sakinah mawaddah warohmah. Sebagai seorang muslim, sosok teladan itu tidak ada yang lain kecuali sosok Rosululloh SAW.

Dalam Islam tujuan pernikahan itu antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Untuk Memenuhi tuntutan hasrat bilogis manusia.

  2. Untuk Membangun Akhlaq Yang Mulia.

  3. Untuk Mendirikan Rumah Tangga Yang Islami.

  4. Untuk Meningkatkan taqwa Kepada Allah.

  5. Untuk Meraih Keturunan Yang Shalih Shalihah

Potret keluarga samara

Membangun sebuah keluarga yang SAMARA itu, bukanlah sebuah pekerjaan yang ringan. Ibarat membalik menyibak tirai atau membalik tangan. Namun, didalam membangun atau membina itu memerlukan sebuah proses yang harus dilalui.

Membangun itu harus berdasarkan ilmu, dengan ilmu itu akan menuntun pada amal yang benar. Secara teori dan praktik untuk membangun keluarga SAMARA itu sudah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Maka sudah sepantasnya, jika sebuah keluarga itu ingin menjadi keluarga SAMARA harus belajar dari keluarga Rasulullah Saw. Apabila, tanpa itu akan jauh panggang dari api. Apa yang diinginkan akan jauh dari untuk terealisasikan dalam kehidupan ini.

Penulis : Anwar Ihsanuddin S.Pd

Editor : Abu Khalid

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.