Memenej Potensi Umat untuk Kemenangan Politik Islam

Total-Aksi-212
Total-Aksi-212

An-Najah.net – Dua tahun ini (2017, 2018) negara Indonesia -khususnya orang Islam- sering mengadakan berbagai aksi-aksi bela Islam. Baik aksi parade tauhid, aksi penegakan hukum penista agama, sampai aksi bela kalimat tauhid yang masih hangat isunya di telinga kita.

Ratusan ribu bahkan berjuta-juta kaum muslimin dari berbagai wilayah dan berbagai organisasi masyarakat (ORMAS) yang ada di Indonesia ikut andil, berpartisipasi untuk meraih ridho Ilahi, dengan memuliakan dan memenangkan Islam. Berbagai aksi tersebut adalah sebuah anugerah dari Allah Ta’ala, untuk menjalin, membangun komunikasi antar masyarakat.

Potensi umat yang begitu besar -tak satupun partai atau tokoh mampu menandingginya- harus dimenej dan dijadikan sebagai energi positif yang sangat besar. Jangan biarkan potensi tersebut hanyut di telan waktu dan masa begitu saja tanpa ada arahan dan bimbingan dari kelanjutan aksi-aksi tersebut.

Baca Juga : Politik Islam, Memang Ada ?

Kalau aksi ini dibiarkan begitu saja, tanpa ada upaya untuk memenej potensi umat. Maka, hasilnya kepedulian, kesemangatan, kegairahan umat dalam membangun kejayaan dan kemenangan Islam hanya sebatas saat aksi-aksi saja. Lantas bagaimana cara memenej potensi umat tersebut? Setidaknya ada tiga cara untuk memenejnya

Pertama, Duduknya Para Ulama Memikirkan Kemenangan Umat

Dengan di adakannya ijtima’ ulama baik jilid I atau pun II menandakan kepedulian ulama untuk memikirkan kejayaan dan kemenangan umat Islam (izzul islam wal muslimin). Menjadi bukti bahwa masih ada kebersamaan pada umat Islam. Ketika para ulama sudah berkumpul, dan hendak mewujudkan kemenangan umat setidaknya ada tiga syarat kemenangan umat Islam,

Pertama, keyakinan kepada Islam harus kuat. Memahamkan Islam secara kafah kepada umat. Karena Islam telah mengatur segala lini kehidupan. Dari tidur sampai tidur kemballi, baik perkara yang remeh sampai perkara yang urgen. tidak boleh tergoyah oleh pemikiran apapun. Liberalisme, sekularisme, komunisme, kapitalisme, anarkisme dan berbagai ideologi-ideologi yang lainnya.

Kedua menjaga kesatuan dan kekuatan ukhuwah umat Islam. Dengan tujuh juta umat Islam yang hadir saat bela Islam 212, serta ratusan ribu di aksi-aksi lainnya, membuktikan kekuatan ukhwah Islamiah antar kaum muslimin. Tidak membedakan ormas, suku, dan bahasa. Dari yang tua hingga balita, orang kaya raya hingga rakyat jelata, berkulit putih maupun hitam, semuanya berkumpul, bersatu padu di atas kalimat tauhid Lailaha illallah Muhammad Rasulullah.

Jangan sampai kita terpecah belah karena persoalan yang sepele lagi remeh temeh. Jangan menelan dan terpancing dengan isu-isu hoax yang bertebaran di media sosial, tanpa ada kepastian yang mendasar. Kembalikanlah kepada pakar dan ahlinya karena mereka lebih tau dan paham akar persoalan.

Ketiga, pentingnya membentuk kualitas kaum Muslimin. Memulai dengan mendidik generasi muda  dengan menghafal al-Qur’an kemudian menjadikan mereka ulama atau ilmuan, yang nantinya akan memikirkan kebangkitan dan kemenangan Islam secara kaffah. Tidak mudah menyerah dan mengeluh, selalu memunculkan ide-ide cemerlang untuk kebangkitan dan kemenangan Islam.

Baca Juga : Ulama Rabbani Dalam Kancah Pergerakan

Kedua, Menyadarkan Pentingnya Politik dalam Islam.

Hari ini umat Islam di isu kan dengan ungkapan negatif di saat Islam mengatur politik, “Jangan campur adukkan politik dengan agama”, dengan alasan agar tidak terjadi gesekan antar umat di Indonesia. Agama itu suci dan politik itu kotor. Bila agama di campur dengan politik, maka politiknya akan rusak, begitu juga sebaliknya. Bahkan, ada yang mengatakan, “Di pisah betul, sehingga rakyat tahu mana yang agama, mana yang politik”, ujar pemimpin  terkemuka di Indonesia.

Dengan ungkapan tersebut “mereka” lupa bahwa Islam itu mengatur segala seluk beluk ranah kehidupan manusia. Bahkan, dalam perkara  yang kecil seperti, masuk ke WC, bersin, bercermin, sampai perkara memotong kuku Islam pun mengaturnya. Perkara yang ringan saja Islam mengaturnya, apalagi perkara yang besar seperti berpolitik, Islam sudah membahasnya bahkan mempraktikkannya 14 abad yang lalu dalam bernegara.

Bukankah Rasulullah SAW dan para sahabatnya telah memperlihatkan kejeniusannya dengan bimbingan wahyu saat menata politik negara di Madinah. Dengan menyatukan hiruk-pikuk perselisihan kaum Aus dan Khazraj yang dipicu oleh fitnah-fitnah busuk orang-orang Yahudi. Mempersaudarakan muhajirin dan anshor yang memiliki konsekuwensi lebih khusus bila dibandingkan dengan persaudaraan yang bersifat umum.

Makna politik Islam (as-Siyâsah asy-Syar’iyyah) secara istilah bermakna, mengatur urusan negara Islam yang tidak terdapat nash jelas mengenai hukumnya atau yang kondisinya berubah-ubah (dinamis) yang mengandung kemaslahatan bagi umat. Dimana (kemaslahatan) itu sejalan (sesuai) dengan hukum-hukum syariat dan dasar-dasarnya (prinsip-prinsipnya) secara umum. (Abd al-‘Alâ Ahmad’ Utwah, Al-Madkhal Ilâ As-Siyâsah As-Syar’iyyah, Riyâdh, 1414 H/1993 M , h. 44)

Namun, politik dalam kenyataannya seringkali bertentangan langkah-langkahnya dengan langkah-langkah yang diinginkan agama. Sehingga, muncullah ungkapan-ungkapan negatif yang beranggapan, “Jangan campur adukkan politik dengan agama”. Maka tugas kita adalah menyadarkan ke umat politik yang sesuai dengan syariat. Kalau umat tidak di sadarkan, dipahamkan urusan politik yang sesuai dengan Islam -sehingga mereka acuh tak acuh- maka kapan Islam akan jaya dan meraih kemenangan!

Baca Juga : Sekulerisme, Pemisahan Politik dan agama

Ketiga, Memahamkan Fikih Khilaf.

Islam itu rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Dalam syariat Islam memang ada perkara yang qoth’i (pasti), tidak ada ranah ijtihad di dalamnya, semuanya harus sepakat dan berseragam. Di sisi lain, ada perkara-perkara yang dzanni (asumsi), yang mana boleh berijtihad, boleh berselisih (pendapat) antar kaum muslimin, namun tetap memperhatikan etika-etika di dalamnya.

Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan dan manusiawi. Rasulullah SAW pun pernah berbeda pendapat dengan para sahabat, dalam urusan tertentu. Seperti, perbedaan pendapat antara Umar dan Rasulullah SAW yang akan menshalati pemuka munafik Abdullah bin Ubai bin Sahlul. Rasulullah SAW berpendapat akan menshalatinya sedangkan Umar bependapat tidak usah menshalatinya, lalu turunlah firman Allah Ta’alla At-Tubah: 80, sebagai teguran bagi Rasulullah SAW agar tidak menshalati orang kafir.

Baca Juga : Kekuatan Umat pada Ukhuwah Islamiyah

Sungguh bijak perkataan KH. Cholil Ridwan tatkala menjadi Ketua MUI, yang berkomentar, “Masalah khilafiyah antar NU, Muhamadiyah, Persis, Al-Irsyad, dan seterusnya, itu bukan masalah yang diprioritaskan. Namun, yang mendasar adalah bagaimana satu keluarga besar ini bisa membuka front bersama untuk melawan musuh-musuh Islam.” Dalam acara bedah buku, “Mendamaikan Ahlussunnah Di Nusantara” Jakarta, (09/03/13) Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber : majalah An-najah Edisi 157 Rubrik Tema Utama

Penulis : Ibnu Jihad

Editor : Anwar