Memilih Teman Karib Yang Shalih

Teman-yang-baik-1
Teman-yang-baik-1

An-najah.net – Banyak saudara kita jatuh terjerembab di kubangan kemaksiatan. Berbagai bentuk kemungkaran menyelimuti mereka. Sehingga mereka sulit lepas dari jerat maksiat. Hanya hidayah Allah yang dapat menyelamatkan mereka dari selimut kemaksiatan itu.

Banyak faktor penyebabnya. Salah satunya, akibat pergaulan yang salah. Menjadikan teman yang buruk sebagai teman dekat. Rasulullah menyebutkan pengaru teman terhadap diri seseorang. Beliau bersabda;

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari).

Demikianlah permisalan yang diberikan Rasulullah tentang berteman. Bahkan jika kita ingin mengetahui seseorang apakah ia shalih atau tholih, maka lihatlah temannya. Jika teman-temannya adalah orang shalih, maka ia orang shalih pula. Sebaliknya, jika teman-teman disekitarnya jahat dan bejat. Dan hampir dipastikan bahwa ia tidak jauh sifat teman-temannya. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud)

Syafa’at Teman Yang Shalih

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menceritakan ahwal orang-orang shalih di akhirat kelak yang memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka yang dulu pernah bersama dengannya di dunia. Rasulullah bersabda:

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.”

“Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.”

“Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.” (HR. Muslim no. 183).

Setelah membaca hadit ini, Hasan Al-Bashri berkata:

اِسْتَكْثِرُوْا مٍنْ الأُصْدٍقَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ فَإِنَّ لَهُمْ شَفَاعَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.”

Imam Ibnul Jauzi menasehatkan kepada teman-temannya:

إِنْ لَمْ تَجِدُوْنِيْ فِيْ الْجَنَّةِ بَيْنَكُمْ فَاسْأَلُوْا عَنِّيْ وَقُوْلُوْا : يَا رَبَّنَا عَبْدُكَ فُلَانٌ كَانَ يُذَكِّرُنَا بِكَ

“Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.”

Kemudian beliau menangis.

Bencana Teman Yang Jahat

Teman yang jahat tidak hanya mendatangkan kesialan ketika masih di dunia, bahkan ia dapat menyeret saudaranya ke lembah neraka. Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim benar-benar memperhatikan dengan siapa ia berteman, dalam organisasi mana ia berkumpul, kepada siapa berpihak. Agar jangan sampai dia menggit kedua jarinya, tanda penyesalan. Allah berfirman yang artinya:

“Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata: “Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an sesudah Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia” (QS. Al-Furqan:27-29).

Penulis : Sahlan Ahmad

Sumber : Booklet An-najah Edisi 137

Editor : Anwar