Memoar Cut Nyak Dien dari Aceh sampai Sumedang

Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien

An-Najah.net – Sumedang dan Aceh terpisah jarak yang cukup jauh meski begitu jarak yang teramat Jauh tidak menjadi penghalang Sumedang dan Aceh menjalin hubungan emosional dengan sangat erat di Sumedang Jawa Barat inilah jasa Cut Nyak Dien mujahidah Aceh dikuburkan.

Upaya memadamkan cahaya Allah di tanah Aceh terus dilakukan penjajah kafir Belanda ibarat seperti gunting Cut Nyak Dien diambil dari dua sisi bukan rayuan dengan iming-iming dunia dan intimidasi, pengasingan dan juga pembunuhan terus dilakukan tujuannya hanya satu. Bagaimana memadamkan laju gerakan jihad di bumi Serambi Mekah.

Cut Nyak Dien adalah salah seorang mujahidah yang dimiliki umat Islam di Indonesia wanita kelahiran Aceh ini sangat gigih berjuang semangatnya mengusir penjajah kafir Belanda sangat besar dengan gagah berani ia pergi ke medan pertempuran. Perempuan ini melakukan perang gerilya dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hampir seluruh hidup Cut Nyak Dien dihabiskan untuk berjihad ya sama sekali tidak rela kalau negerinya dikuasai oleh penjajah kafir Belanda, kini walaupun Cut Nyak Dien sudah tiada namun namanya tertulis dalam sejarah yang bisa memberikan inspirasi dalam perjuangan.

Ya memang seorang perempuan bermental baja mempunyai daya kenyal dan tahan banting dalam Medan Perjuangan Ia tidak mampu menyerah kepada Belanda yang disebutnya kafir kafir.

Sumbangsih Perjuangan

Cut Nyak Dien merupakan gambaran sosok istri yang mempunyai sumbangsih dalam perjuangan. Ia seorang istri yang bijaksana sabar dan dapat mendorong suami untuk maju dengan sumbangan pikiran yang diberikan.

Ketika Belanda melancarkan serangan ke Aceh yang menghadapi dengan tenang dan rela berpisah dengan suaminya selama kurang lebih dua setengah tahun. Ia bersama anaknya yang masih bayi dan orang tuanya serta rakyatnya meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari kejaran musuh.

Semua yang dialaminya dalam pengasingan menambah ketabahan dan kekokohan hatinya untuk menghadapi segala cobaan, semangatnya makin tanpa dan mulailah tumbuh suatu perlawanan yang terus Mekar dalam dadanya terhadap kolonialisme Belanda.

Kehadiran Tengku Umar di sampingnya membawa pengharapan setelah suaminya Ibrahim Lamnga menemui kesyahidan di Medan jihad, hatinya semakin penuh, tekadnya tambah bulat untuk meneruskan perlawanan.

Dalam menghadapi musuh yang memberikan dukungan moral yang sangat berharga dan pikiran yang berguna kemudian ia mengobarkan semangat rakyat Aceh untuk terus memberikan perlawanan.

Ketika suaminya Tengku Umar mengubah siasat memihak kepada Belanda Cut Nyak Dien, dengan bijaksana menyadarkan dan berusaha dengan berbagai cara untuk mengembalikan Tengku Umar ke jalan yang benar jalan yang sedang ditempuh rakyat Aceh.

Iya seorang mujahidah yang tidak mau menjual agama dengan dunia yang tidak seberapa ini, ia tidak tergiur dengan pangkat dan harta yang diinginkan Belanda. Bahkan ia mengatakan dengan tegas bahwa penghianatan adalah suatu penghianatan terhadap sebuah bangsa.

Iya menuntut kepada Tengku Umar supaya kaum penjajah Belanda diusir dari tanah Aceh bukan menjilat dan menghambakan diri kepada mereka. Cut Nyak Dien berkelir gerilya selama 20 tahun bersama Tengku Umar, ikut aktif mendampingi suaminya menjelajahi hutan dan turut pindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya, yang mendampingi suaminya dalam pertempuran menghadapi musuh.

Cut Nyak Dien turut berperan sebagai motor penggerak yang mengantarkan Tengku Umar pada puncak karirnya sebagai pejuang sampai syadih oleh peluru penjajah kafir Belanda.

Gugurnya Tengku Umar tidak membuat Cut Nyak Dien patah semangat perlawanannya, bahkan yang maju ke depan memimpin pasukannya, ia kembali mengadakan aksi sampai fisiknya menjadi lemah setelah lebih kurang 6 tahun lamanya meneruskan perlawanan ia tertawan bersama pasukannya.

Lama-lama pasukan Cut Nyak Dien melemah, kehidupan Putri bangsawan ini Giant sengsara akibat selalu hidup didalam hutan dengan makanan seadanya, usianya kian lanjut, kesehatannya Kian menurun seiring dengan bertambahnya usia.

Cut Nyak Dien pun semakin tua penglihatannya mulai rabun dan berbagai penyakit orang tua seperti injak pun mulai menyerang, di samping itu Jumlah pasukannya pun semakin berkurang ditambah lagi situasi yang semakin sulit memperoleh makanan belum lagi penghianatan anak buahnya yang memberi tahu keberadaannya, sehingga Cut Nyak Dien ini tertangkap.

Begitu teguhnya pendirian Cut Nyak Dien sehingga ketika sudah terkepung dan hendak ditangkap dunia Masih sempat mencabut Rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda pasukan Belanda yang begitu banyak akhirnya berhasil menangkap tangannya.

Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang dari mulutnya terucap ; “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku di dalam bulan puasa Aku kepada diserahkan kepada kafir?”

Tapi walaupun di dalam tawanan dia masih terus melakukan kontak atau hubungan dengan para pejuang yang belum tunduk tindakannya itu kembali membuat pihak Belanda perang sehingga dia pun akhirnya dibuang ke Sumedang Jawa Barat.

Bumi Pengasingan

Di Sumedang tak banyak orang tahu perempuan ini memang identitas dirinya disembunyikan oleh cover Belanda dia datang ke Sumedang sebagai tahanan politik Belanda yang ingin mengasingkan nya dari Medan perjuangannya di Aceh.

Dalam pengasingannya Cut Nyak Dien menolak apapun yang diberikan Belanda perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang. Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah melihat perempuan yang amat taat beragama itu Bupati tak menempatkan menempatkannya di penjara tetapi di rumah Haji Ilyas seorang tokoh agama, di belakang kaum masjid besar Sumedang di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Di tempat pengasingan ia mengajar ilmu agama walaupun matanya sudah tidak bisa melihat, tapi masih bisa memberikan pelajaran agama Sehingga Cut Nyak Dien mendapat julukan ibu perbu atau Ibu Ratu masyarakat Sumedang menyebutnya ibu Suci.

Upaya penjajahan cover Belanda memisahkannya para pejuang dari pengikutnya dengan membuang mereka ke pulau lain ternyata justru menyatukan anak bangsa negeri ini.Memang Belanda selalu membuat makar namun Allah sebaik-baik pembuat makar.

Memoar perjalanan hidup Cut Nyak Dien menunjukkan kesungguhannya dalam beramal jihad Semoga Allah memasukkannya golongan syuhada, meski tidak terbunuh di Medan jihad tetapi di tempat, pengasingan di Sumedang.

 

Sumber : Majalah An-Najah edisi 128 Rubrik Jelajah

Penulis : Anwar

Editor : Helmi Alfian