Mempertegas Makna Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah

An-najah.net – Suatu ketika, dalam perjalanan dakwah ke luar kota, jalan tiba-tiba macet mendadak. Segerombolan anak muda berumur tanggung sedang konvoi memenuhi jalanan. Mereka meneriakkan yel-yel sembari  mengibarkan bendera salah satu klub sepak bola dari kota bengawan.

Massa yang sedang bungah tersebut tampak memerahkan jalanan. Kaos merah menyala dikombinasikan tulisan PASOEPATI putih terlihat kontras. Usut punya usut ternyata para tifosi tersebut sedang merayakan kemenangan tim idola atas tim lawan.

Para fans klub sepak bola tersebut menggunakan beragam cara untuk menunjukkan dukungan. Salah satunya dengan menulis slogan di kaos-kaos maupun syal. Seperti ‘The Devil Of Manahan, (Setan Manahan)’-Manahan adalah stadion tempat pelatihan PERSIS (Persatuan Sepak Bola) Solo-. Dari sekian tulisan di bagian belakang kaos mereka, ada satu tulisan yang membuat penulis tersentak. “Untuk Pasoepati, Loyalitas Sampai Mati.” Begitu bunyinya

Sangat mengagetkan. Karena itu adalah ikrar loyalitas (wala’) terhadap sebuah kebatilan. Anak-anak itu berkumpul dan berpisah karena memiliki kesamaan hobi dan loyalitas. Inilah potret jalinan ukhuwah jahiliyah. Kecintaan, pertemanan, perjumpaan dan sikap senasib-sepenanggungan dibangun atas dasar yang rusak.

Sebenarnya, slogan itu hanya satu potret dari seribu satu ukhuwah jahiliyah yang ada di masyarakat kita. Mereka berjanji saling setia, saling membela, saling mencintai dan senasib-sepenanggungan bukan atas dasar Islam. Bukan juga atas dasar iman.

Ukhuwah Jahiliyyah

Ada yang membangun ikatan pertemanan dan loyalitas karena memiliki hobi dan kesukaan yang sama. Seperti pecinta motor RX-King, burung merpati atau memancing. Ada juga pertemanan dan loyalitas di atas kesukuan atau kebangsaan. Inilah yang diistilahkan dengan nasionalisme.

Ikatan dan loyalitas yang dibangun di atas selain Islam, seringkali membawa bencana di dunia, juga di akhirat kelak. Allah SWT berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf :63)

Kelak di hari kiamat semua bentuk loyalitas dan ukhuwah (persatuan/persaudaraan) yang tidak berdasarkan Islam akan hancur. Saling bermusuhan dan satu dengan yang lainnya akan saling melaknat.

Allah SWT berfirman:

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka?”  Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).”  (QS. Ghafir: 47-48)

Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah adalah ikatan persaudaraan dan kecintaan di atas kesamaan iman. Ia merupakan salah satu tuntutan iman yang terpenting.  Bahkan Rasulullah SAW menyebut ukhuwah islamiyah, atau cinta karena Allah dan bermusuhan karena Allah SWT sebagai ikatan iman paling kuat.

Beliau SAW bersabda:

إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللَّهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ

“Sesungguhnya ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah, dan benci karena Allah SWT.” (HR. Ahmad)

Saat memberi pengantar pada buku ‘al-Hubb fillah’ karyaSyaikh DR. Ahmad Farid, Syaikh Muhammad Isma’il al-Muqoddam, menulis, “Sesungguhnya mencintai karena Allah, dan menjalin persaudaraan di atas ajaran Islam, termasuk bentuk ibadah taqarrub yang utama. Titik temu antara ketaatan kepada Allah dengan tradisi yang ada.  Ia memiliki syarat yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang bersahabat karena Allah. Ukhuwah juga memiliki hak-hak. Dengan memenuhi hak ini persahabatan akan terhindar dari berbagai noda dan tipu daya setan. Juga semakin mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Jika hak-hak ini senantiasa dijaga, seseorang akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah SWT.”

Pada masyarakat Islam, ukhuwah Islamiyah merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendasar, apalagi hal ini merupakan salah satu ukuran keimanan yang sejati. Karena itu, ketika Nabi SAW berhijrah ke Madinah, langkah awal untuk membangun umat ialah  Al-Muakhah atau mempersaudarakan sahabat dari Makkah atau muhajirin dengan sahabat yang berada di Madinah atau kaum Anshar. Ini berarti, ketika seseorang atau suatu masyarakat beriman, seharusnya ukhuwah Islamiyah yang didasari oleh iman menjelma dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat:10)

Rasulullah SAW, menyebut bahwa segala bentuk jargon, simbol-simbol jahiliyah dan fanatisme golongan adalah busuk dan menjijikkan. Pada suatu ketika ada seorang muslim dari kalangan Muhajirin bertengkar dengan saudaranya dari kalangan Anshar, lalu keduanya memanggil kawannya masing-masing, hingga nyaris terjadi tawuran antar kelompok kaum muslimin. Ketika Rasulullah SAW menerima laporan kejadian itu, beliau bergegas datang dan menegur, “Mengapa masih ada kebiasaan Jahiliyah (di tengah-tengah kalian).” Mereka mengatakan, “ya Rasulullah, ada orang Muhajirin menendang seorang dari Anshar.” Maka beliau berkata, “Tinggalkanlah kebiasaan jahiliyah, sebab itu sangat busuk dan menjijikkan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber : Majalah An-najah Edisi 116 Rubrik Tema Utama

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar