Mempunyai Hutang Puasa Ramadhan Tapi Tidak Tahu Berapa Jumlahnya

Qodho Haid
Qodho Haid

An-Najah.net – Berbagai permasalahan meng-qodho’ puasa (membayar utang puasa) masih belum ‎dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Apalagi umat Islam sekarang, yang terlalu jauh dengan ‎syari’at Islam, bahkan bodoh dan tidak mau belajar agar paham dalam permasalahan itu. Oleh ‎karenanya, pembahasan ini sangat menarik untuk kita bahas. ‎

Yang dimaksud dengan qodho’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki batasan waktu ‎di luar waktunya. Untuk kasus orang sakit misalnya, di bulan Ramadhan seseorang mengalami ‎sakit berat sehingga tidak kuat berpuasa. Sesudah bulan Ramadhan dia harus mengganti puasanya dengan jumlah yang ia tinggalkan. ‎Inilah yang disebut qodho’. Bisa juga musafir atau perempuan yang hamil, menyusui, haid, dan nifas.

Kemudian di sini ada persoalan, seorang perempuan muslimah pernah berbuka puasa beberapa ‎hari ketika masa haid datang pada tahun-tahun yang lalu dan belum meng-qadha’-nya hingga ‎sekarang. Sedangkan hal itu sudah berlalu beberapa tahun yang silam. Dan saat ini dia ingin ‎meng-qadha’-nya. Permasalahannya, perempuan tersebut tidak tahu berapa jumlah harinya, apa ‎yang harus dia lakukan?‎

Dalam permasalahan tersebut, Syaikh Abdul Azis bin Baz menjelaskan, dalam hal ini ada tiga ‎perkara yang harus dia kerjakan:‎

Pertama: Bertaubat kepada Allah Ta’ala dari perbuatan ini dan menyesal atas peremehan tersebut serta ‎berazam untuk tidak mengulangi perbuatan seperti itu kembali. Karena Allah Ta’ala berfirman:‎

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu ‎beruntung.” (QS. An-Nuur :31)‎

Dan perbuatan menunda seperti ini adalah termasuk perbuatan maksiat, maka bertaubat kepada ‎Allah Ta’ala adalah wajib.‎

Kedua: Segera berpuasa berdasarkan perkiraannya. Allah Ta’ala tidak membebani seseorang melainkan ‎sesuai dengan kesanggupannya. Lalu setelah anda mengira-ngira jumlah hari yang telah ‎ditinggalkan segera saja untuk meng-qadha’-nya. Apabila perkiraan anda sepuluh hari, maka anda ‎berpuasa sepuluh hari. Dan apabila yang anda perkirakan itu lebih banyak atau lebih sedikit maka ‎berpuasalah sesuai perkiraan dia. Karena Allah Ta’ala berfirman:‎

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” ‎‎(QS. Al-Baqarah: 286)‎

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. At-‎Taghabun : 16)‎

Ketiga: Memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya. Apabila dia mampu atas hal ‎itu, semuanya diberikan meskipun kepada satu orang miskin. Namun, jika dia termasuk orang ‎miskin dan tidak mampu untuk memberi makan, maka tidak ada kewajiban bagi dia selain ‎berpuasa dan bertaubat. ‎

Dan kewajiban memberi makan tersebut adalah sebanyak 1,5 kg makanan pokok di daerah itu. ‎Namun, ukuran 1,5 kg ini adalah bagi siapa yang mampu. (Syaikh Abdul Azis bin Baz. Majmu ‎Fatawa Ibnu bin Bazz, Jilid : 15 hlm: 342-343, versi Maktabah Syamila)‎ Wallahu ‘alam

Penulis: Ibnu Jihad
Editor: Ibnu Alatas