Memurnikan Tauhid Uluhiyah dari Para Alihah

Urgensi Bendera Tauhid
Urgensi Bendera Tauhid

An-Najah.net – Atmosfir Madinah berubah. Kaab bin Malik merasa bak orang asing. Ketika menyapa kawan saat berpapasan di jalan, tak satupun yang menjawab. Saat ia datang ke pasar, tempat yang cukup ramai di Madinah, kerumunan orang mengacuhkannya. Seakan-akan ia makhluk tak kasat mata.

Kaab lalu datang ke masjid untuk shalat jamaah. Para sahabat tetap enggan mengajaknya bicara. Bahkan Rasulullah SAW memalingkan tatapannya. Tidak menjawab salam dan tegur sapanya. Padahal Rasulullah SAW adalah orang paling santun dan ramah. Tidak pernah mengecewakan orang.

Kaab pasrah menerima ketidaknyamanan tersebut. Karena memang Rasulullah SAW telah menginstruksikan para sahabat untuk mengisolasi Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya. Sebagai hukuman karena absen dari Perang Tabuk.

Baca juga (Perang Mu’tah, Tiga Komandan Syahid Mempertahankan Bendera Tauhid)

Hukuman psikologis itu membut Kaab tertekan. Madinah yang luas terasa sempit. Dinding-dinding rumahnya bak lubang lahat yang menghimpit. Namun, ujian sebenarnya datang dari luar Madinah. Utusan raja Ghassan yang mendengar cerita tentang Kaab mengirim tawaran menggiurkan. Kaab akan dijadikan tangan kanannya dengan syarat murtad dan pindah ke Syam. Tawaran itu tentu ia tolak mentah-mentah. Bahkan surat raja Ghassan ia bakar hingga menjadi abu.

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Pada hari ke-50, di puncak kekalutannya, seorang sahabat membawa kabar gembira. Allah menerima taubatnya. Rasulullah SAW juga bahagia. Menyebutnya sebagai hari terindah bagi Kaab setelah lari kelahirannya.

Lain kaab lain pula Al-Ja’d bin Qais. Seorang pria dari Bani Salamah yang tidak ikut Perang Tabuk. Al-Ja’ad sebenarnya mampu berperang. Badannya sehat, hartanya lebih dari cukup. Namun, mantan pemimpin Bani Salamah yang Rasulullah SAW makzulkan itu meminta izin dengan alasan yang terkesan dibuat-buat.

“Apakah engkau tertarik ikut bertempur melawan orang-orang kulit kuning (bangsa romawi)?” tanya Nabi SAW.

Al-Ja’ad berkilah, “Wahai Rasulullah SAW, beri aku izin. Jangan buat aku terkena fitnah. Semua orang tahu aku adalah lelaki yang menyukai wanita. Aku takut jika melihat gadis-gadis Romawi, aku tidak bisa menahan diri. Tapi aku akan menyumbangkan uang untuk perang ini.”

“Baiklah, aku izinkan,” jawab Rasulullah SAW.

Abdullah putra Al-Ja’ad yang mendengar pembicaraan itu mengingatkan ayahnya. Sepintar apapun ia mengelabuhi Rasulullah SAW, Allah tidak akan terpedaya. Akan turun ayat yang membongkar motifnya yang sebenarnya. Dan benar, beberapa waktu kemudian turunlah firman Allah yang artinya;

“Di antara mereka ada yang berkata, ‘Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 49)

Baca Juga (Tiga Alasan Mengapa Harus membela kalimat Tauhid)

Petikan fragmen dalam Perang Tabuk di atas memberikan banyak pelajaran. Termasuk dalam masalah akidah. Tanpa mencela kedua sahabat tersebut, kita yang hidup setelahnya, mari mengambil hikmahnya.

Pertama, tauhid tak cukup dengan slogan.

Kalimat tauhid bukan hanya slogan yang diucapkan dengan lisan. Atau kalimat sakral yang dicetak di panji dan bendera. Namun kalimat ini melahirkan konsekuensi. Serta menuntut kesesuaian antara hati, lisan dan perbuatan.

Perang tabuk di atas menjadi contohnya. Ekspedisi Perang Tabuk sifatnya wajib atau mengikat. Rasulullah SAW mengeluarkan mandat nafir am atau mobilisasi massal. Hanya orang sakit, orang tua dan anak-anak yang diberi dispensasi. Selebihnya dilarang absen tanpa mendapat izin.

Bagi para sahabat, menjawab seruan Rasulullah SAW ini merupakan ujian. Mulai dari jauhnya perjalanan. Musim panas yang membakar kulit. Musuh berupa negara super power. Hingga bertepatan dengan musim panen kurma. Hanya orang beriman yang sanggup mendengarkan dan mematuhi instruksi nabi tersebut.

Baca Juga (Tauhid, Kemerdekaan Hakiki)

Ujian keimanan tersebut terus berlaku hingga hari kiamat. Sebagai bentuk peningkatan kualitas seseorang mukmin. Setelaah memahami prinsip tauhid yang benar, ia perlu mengikarkannya dengan lisan. Kemudian mempraktikkan dalam dunia nyata.

Juga sebagai alat filter untuk memilih mana orang yang beriman dari para pengaku iman. Semoga kita termasuk golongan kaum mukminin.

Kedua, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.

Tauhid uluhiyah tidak hanya terkait dengan amal fisik saja. Amal hati yang sifatnya abstrak sangat menentukan ketulusan tauhid seseorang. Tauhid uluhiyyah tidak sempurna tanpa rasa cinta di hati.

Hati manusia ibarat ruang kosong. Fitrah yang benar, ruang kosong itu harus diisi dengan Allah. Cinta, ta’dzim, takut sekaligus hormat. Saat Allah disingkirkan dari ruang hati tersebut, manusia akan merasakan haus luar biasa. Lalu mengisinya dengan menuruti hawa nafsu. Cinta kepada Allah diganti dengan cinta kepada harta, tahta, anak, popularitas, maupun hobi.

Hasan Al-Bashri mengatakan;

مَنْ قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، قِيلَ : وَمَا إِخْلَاصُهَا ؟ قَالَ :  أَنْ تَحْجِزَكَ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ .

“Orang yang mengatakan la ilaha illallah secara tulus/ikhlas akan masuk jannah.” Seseorang bertanya, “Apa maksud ikhlas mengucapkannya?” Beliau menjawab, “Kalimat itu sanggup menahanmu ketika engkau ingin melanggar larangan Allah.”

Penjelasan Hasan Al-Bashri tersebut menegaskan bahwa ketulusan mengucapkan kalimat tauhid dapat diukur. Baik kualitatif maupun kuantitatif. Baik secara lahir maupun batin yang hanya dapat dirasa oleh diri sendiri.

Baca Juga (Belajar Tauhid dan Aplikasinya dari Luqman Al Hakim)

Idealisme tahuid ialah ketika seorang manusia sanggup menjadi abdi Allah secara eksklusif. Menuhankan Allah saja tanpa ada tandingan lain. Menempatkan Allah sebagai rabb yang diagungkan, dipuja, ditakuti, dijadikan tempat berharap dan tawakkal. Sembari melepaskan diri dari tandingan-tandingan dan tuhan-tuhan dari kalangan makhluk Allah.

Jadi tauhid memang terkait dengan masalah hati dan rasa. Ketika sampai pada titik ini, seseorang akan berubah total. Rasa cinta paling utama dan tujuan hidupnya hanyalah kepada Allah. Obsesi duniawinya hanya untuk hal-hal yang Allah cintai. Tidak tersisa lagi di hatinya hasrat untuk menuruti hawa nafsu dan bisikan was-was dari syetan.

Ketiga, Hawa Nafsu dan Syetan dapat menjadi ilah.

Ketika manusia mencintai seseorang ia menuruti perintahnya. Marah dan suka juga sesuai keinginan yang dicintai. Ketika seseorang sudah pada tahap cinta dan benci demi seserang, maka ia telah menuhankannya. Karena itu, rasa cinta dan benci seorang muslim dilandasi Allah. Suka dan benci karena Allah. Jika karena hawa nafsu, itu sama saja dengan menuhankan hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

 

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Para ulama tafsir yang mejelaskan ayat tersebut mengatakan bahwa ilah atau tuhan selain Allah tidak harus berupa objek fisik yang bisa dilihat. Sesuatu yang abstrak pun bisa menjadi tuhan. Hawa nafsu atau syahwat misalnya.

Baca Juga (Ajari Tauhid Kepada Anak Sejak Diri)

Lalu kapan ia menjadi tuhan?

“Ketika menginginkan sesuatu ia akan turuti, ketika berhasrat sesuatu ia puaskan diri,” kata Qathadah. Karena itu Rasulullah SAW bersabda,

مَا تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ إِلَهٌ يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ هَوًى مُتَّبَعٍ

“di bawah kolong langit ini, tidak ada tuhan yang lebih Allah murkai melebihi hawa nafsu yang dituruti manusia.” (HR. Ibnu Batthah)

Tak hanya hawa nafsu, syetan pun bisa menjadi tuhan. Sebagaimana firman Allah,

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin: 60)

dengan penjelasan ini menjadi jelas bahwa jika seseorang konsisten menyukai hal-hal yang Allah benci. Dan justru membenci hal-hal yang Allah sukai, berarti ucapan kalimat tauhid yang mengalir dari lisannya tak lebih dari kata-kata gombal.

Jika di hati terdapat rasa tersebut, berarti tauhidnya tidak sempurna. Bahkan melakukan syirik yang tidak terasa. Karena beberapa ulama mengartikan laran musyrik dengan larangan mencintai selain Allah.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : “الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ الذَّرِّ عَلَى الصَّفَا فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ ، وَأَدْنَاهُ أَنْ تُحِبَّ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْجَوْرِ ، وَتُبْغِضَ عَلَى شَيْءٍ مِنَ الْعَدْلُ وَهُلِ الدِّينُ ، إِلَّا الْحَبُّ وَالْبُغْضُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : ( قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبَعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ) .

Dari Aisyah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu kesulitan melihat syirik melebihi samarnya semut kecil di atas batu pada malam gelap. Syirik paling ringan ialah menyukai bagian kecil dari kezaliman dan membenci bagian kecil dari keadilan. Bukankah agama ini bertumpu pada cinta dan benci? Allah berfirman yang artinya; Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu’.” (HR. Hakim)

Semoga kita menjadi hamba Allah yang dilindungi dari Syirik. Serta termasuk golongan yang tulus memurnikan tauhid. Amin ya rabbal alamin.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 155 rubrik tema utama

Editor : Abu Khalid