Memusuhi Wali Syaitan, Bukti Keimanan

Wali Allah Vs Wali Syaitan
Wali Allah Vs Wali Syaitan

An-Najah.net – Deklarasi perang antara al Haq dan al Batil telah dinyatakan Iblis – laknatullah ‘alaihi– ketika Dia diusir dari Surga bukan hanya ‘Gerak Sambal Semata’. Tetapi permusuhan itu dibuktikan dengan mengerahkan wali-wali Syaitan untuk menghalangi manusia dari shiratal mustaqim ini.

Rasulullah SAW memberikan gambaran tahapan syaitan dan wali-walinya dalam menggoda manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya setan akan menghalangi seorang anak Adam dari berbagai jalan yang dilaluinya. la akan menghalangi manusia di jalan Islam dengan mengatakan, “Apakah kau akan masuk Islam dan meninggalkan dienmu juga dien orangtua dan moyangmu?” si anak Adam berpaling dan tetap masuk Islam.

Lalu setan akan menghalanginya di jalan hijrah dan berkata, ” Apakah kau akan meninggalkan bumi dan langitmu? Padahal orang yang hijrah tak ubahnya kuda yang dikekang.” Si anak Adam bergeming dan tetap berhijrah. Setan pun menghalanginya di jalan jihad dan berkata, “Apakah kau akan berjihad, padahal jihad itu menyusahkan dirimu dan menghabiskan hartamu. Kau berperang lalu kau akan terbunuh sedang isterimu akan dinikahi orang lalu hartamu dibagi-bagi.” Si anak Adam berpaling dari setan dan tetap berjihad.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan seperti itu, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam jannah. Dan barangsiapa yang terbunuh, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah, jika dia tenggelam, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah, atau ia terjatuh dari kendaraanya, pastilah Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah.” (HR. an Nasa’i dan Ibnu Hibban, shahih).

Perbuatan wali-wali syaitan ini, dalam menghalangi manusia dari Iman, Hijrah dan jihad merupakan bentuk memusuhi wali-wali Allah. Rasulullah SAW bersabda:

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالمُحَارَبَةِ (أَوْ فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ)

“Allah Swt berfirman, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka dia telah menantangku berperang satu lawan satu (atau, Aku telah menyuarakan perang terhadapnya)”. (HR. Bukhari)

Seorang mukmin sebagai wali Allah sudah selayaknya menjadikan wali Syaitan ini sebagai musuhnya, karena Allah telah menyatakan perang terhadapnya. Ini merupakan bukti kebenaran imannya.

Sikap Wali Allah

Allah SWT telah menjelaskan dalam Al-Qur’an. Bahwa Dia mempunyai wali-wali Allah yang taat kepada Rasul-Nya, dan mereka berjuang membela agama Allah. Namun ada pula wali-wali syaitan yang senantiasa memusuhi wali Allah dan menentang syari’at Allah.

Oleh karena itu, sikap yang bijak dalam menghadapi wali syaitan ini adalah mengikuti apa yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan as Sunnah. Dimana Allah dan Rasul-Nya telah menggajarkan dalam menghadapi mereka.

Pertama, Menegaskan wali syaitan sebagai Musuh

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuhku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahalmereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu, jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (Janganlah kamu berbuat demikian)…” (Qs. Al Mumtahanah: 1)

Dalam ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan kaum musyrik dan orang-orang kafir yang selalu memerangi Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin. Allah memerintahkan agar mereka dimusuhi dan diperangi serta melarang mengambil mereka menjadi kekasih, teman, dan orang-orang dekat.

Diantara tanda orang yang cerdas tahu siapa yang seharusnya dijadikan kawan, dan siapa yang dijadikan lawan. Tetapi orang yang bodoh dia tidak tahu siapa kawan dan lawan. Lawan malah dijadikan kawan, sedangkan kawan malah dimusuhi dan dilawan.

Kedua, Haram Memberikan Loyalitas kepada Wali Syaitan

Allah Swt mengharamkan kaum mukminin memberikan loyalitas kepada orang Yahudi dan Nasrani. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa yang mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. (Qs. Al Maidah: 51).

Ayat ini menjelaskan Allah SWT melarang hamba-hambanya yang mukmin memberikan loyalitas kepada orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin mereka. Karena mereka adalah musuh-musuh Islam dan para penganutnya, semoga Allah melaknatnya. Kemudian Allah memberitahukan bahwa sebagian dari mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Selanjutnya Allah mengancam orang mukmin yang melakukan hal itu melalui firmannya:

وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Barang siapa diantara kalian mengambil mereka menjadi wali, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka”. (Qs. Al Maidah 51).

Ketiga, Jihad Melawan Wali Syaitan

Allah berfirman:

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, begitu juga orang-orang kafir berperang di jalan thaghut (syaitan), maka perangilah wali-wali syaitan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah.” (Qs. An Nisa: 76)

Ayat ini memberitahukan bahwa orang-orang mukmin itu berperang karena taat kepada Allah dan ingin memperoleh ridha-Nya, sedangkan orang-orang kafir berperang karena taat kepada syaitan. Kemudian Allah menggugah semangat orang-orang mukmin untuk memerangi musuh-musuh Allah melalui firman-Nya.

فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sebab itu, perangilah wali-wali syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (Qs. An Nisa: 76)

Jihad melawan wali-wali Syaitan itu derajatnya lebih tinggi daripada memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram. Allah SWT berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Orang-orang yang beriman, dan berhijrah, serta berjihad dijalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. Rabb menggembirakan mereka dengan memberi rahmat, keridhaan dan surga, mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya, mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Sungguh di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” (QS. At Taubah: 19 – 22).

Penulis : Abu Khalid

Sumber : Majalah An-najah Edisi 138 Rubrik Tema Utama

Editor : Abu Mazaya