Menang-Kalah Adalah Sunnatullah Perjuangan

perjuangan

An-Najah.net – Menang dan kalah hanyalah sebuah pergiliran bukan penentu kemuliaan. Fakta sejarah berbicara. Ketika seorang laki-laki pemberani itu terbujur kaku dengan dada tercabik-cabik.

Baca juga: Mengukur Kemenangan

Sadis. Itulah jasad Hamzah bin Abdul Mutholib, paman dan saudara sepersusuan Rasulullah Saw, yang syahid dalam perang Uhud. Tangis Rasulullah Saw pun pecah. Tangisnya terdengar seperti rintihan. Jenazah “Panglima Para Syuhada” itu dikafankan dengan kafan yang tidak sampai menutup kedua kakinya, lalu dikuburkan bersama saudara sepupu dan sepersusuannya, Abdullah bin Jahsyi, dalam satu liang.

Sedih, Tabiat Hati Dan Jiwa

Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak pernah beliau terlihat sedih sesedih itu. Tidak juga pernah terlihat beliau menangis sekeras itu,”. Panorama (pemandangan) para syuhada uhud itu memang sangat mengiris hati.

Terbaring 65 orang sahabat beliau dari kaum Anshar, 4 orang dari kaum Muhajirin, dan seorang dari kaum Yahudi yang telah memeluk Islam. Angka 70 orang syuhada itu terlalu banyak. Bandingkanlah dengan syuhada Badar yang hanya berjumlah 14 orang, atau dengan jumlah korban tewas dari kaum Musyrikin yang hanya berjumlah 37 orang. (Ali Ash-Sholabi, As-Sirah An-Nabawiyah, cet I, versi tejemahan, hal. 687-698)

Itulah yang membuat Rasulullah Saw begitu terpukul, begitu sedih, sampai beliau menangis tersedu-sedu; sebuah tangis yang tidak pernah terulang sepanjang hidupnya. Bahkan, beberapa hari sebelum beliau wafat, beliau menyempatkan diri mengunjungi kuburan para syuhada Uhud.

Tidak Sekedar Kalah

Namun, Allah Ta’ala tidak menginginkan Rasulullah dan kaum muslimin berlarut dalam kesedihan. Sehingga, tengah deraan kesedihan itulah Allah Ta’ala menurunkan bimbingan-Nya. Itulah salah satu cara Allah Ta’ala memberikan pelajaran yang hanya dapat dipahami dengan baik melalui peristiwa nyata dalam kehidupan.

Baca juga: Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu

Maka, berbicaralah Allah Ta’ala tentang peperangan Uhud dalam 60 ayat, surah Ali ‘Imran dimulai dari ayat 121 hingga ayat 179. Penjelasan itu diawali dengan sebuah rekonstruksi yang menjelaskan latar belakang psiko-historis Perang Uhud (ayat 121) dan diakhiri dengan sebuah komentar penutup yang menggambarkan keseluruhan makna dan hikmah dari peristiwa tersebut (ayat 179). Allah Ta’ala berfirman;

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (Mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertaqwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179)

Menang-Kalah Adalah Sunnatullah

Inilah kandungan tersirat dalam firman Allah Ta’ala di atas. Bahwa menang dan kalah hanyalah sebuah pergiliran bukan penentu kemuliaan. Terkadang, secara fisik Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya menang, di lain waktu mereka mengalami kekalahan, seperti pada Perang Uhud.

Begitu juga, ketika seorang muslim terjun di gelanggang dakwah dan jihad, ia harus tanamkan dalam dirinya; ia dan orang-orang yang bersamanya bisa memenangkan pertempuran meski juga tidak luput dari kekalahan. Karena kalah dan menang adalah sunnatullah.

Baca juga: Kemenangan Pasti Datang

Sehingga, ketika kekalahan menimpanya tidak membuatnya putus asa bahkan berhenti dari kewajiban ber-iqomatuddin. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Penulis             : Ibnu Jihad

Editor               : Ibnu Alatas