Browse By

Mendadak Thaghut Ramai

Oleh: Akrom Syahid [Pimred Majalah An-Najah

ِAn-Najah.net- Toghut. Taghut. Thaghut. Jagad dunia maya lagi ramai memperbincangkan ceramah salah seorang ustadz muda. Ustadz yang berinisial MT itu menyebut istilah yang sangat sensitive. Yaitu thaghut.

Ia menyebut, bahwa pemerintah sekarang adalah thaghut. Dan beberapa poin lainnya yang disorot oleh para netizen.

Ada dua poin yang ramai diperbincangkan oleh para netizen; cap thaghut yang distempelkan kepada pemerintah, dan penolakan beliau terhadap PERPU ORMAS.

Bagi pengkaji tauhid, istilah thaghut telah menjadi kosa kata yang akrab dalam pikiran mereka. Sebab, pembahasan tauhid, juga kajian akidah tidak lengkap tanpa disertai kajian terhadap thaghut.

Pasalnya antara thaghut dan tauhid, memiliki keterkaitan erat. Seseorang tidak bisa disebut benar dalam bertauhid, hingga ia mengingkari thaghut. Allah SWT menegaskan;

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”

Kandungan ayat ini menegaskan bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah SWT namun tidak mengingkari thagut, atau hanya mengingkari thagut namun tidak beriman kepada Allah SWT maka ia belum berpegang teguh dengan al-urwah al-wutsqo. Belum bersyahadat dan beriman. Karena, al-urwah al-wutsqo maknanya adalah al-iman atau láiláha illáh. (Ibnu Katsier, 1/684).

Dalam menafsirkan ayat ini, syaikhul Islam Muhammad at-Tamimi menulis, “Ketahuilah bahwa seorang manusia tidak dianggap beriman kecuali dengan mengingkari thagut. Dalilnya adalah ayat ini –al-Baqarah: 256-“ (al-wala’ wal baro’, hlm. 27)

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw menegaskan urgensi mengingakari thagut.

مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Siapa saja yang mengucapkan kaliamat láiláha illáh dan mengingkari segala sesuatu yang diibadahi selain Allah SWT maka harta dan darahnya haram ditumpahkan, dan Allah yang akan menghisabnya.”

Sejak rasul pertama yaitu Nuh As, hingga Nabi Muhammad saw, semuanya  mendakwahkan dua pokok Islam, yaitu iman kepada Allah dan menjauhi thagut.

Bahkan, Allah SWT mengabarkan, bahwa tujuan utama dakwah para nabi dan rasul. Allah SWT menegaskan dakwah para rasul ini dalam surat An-Nahl:36

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Artinya, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.”

Siapa Thaghut?

Ketika mendefenisikan thagut para ulama berbeda-beda ungkapannya. Hanya saja, perbedaan tersebut hanya ikhtilaf tanawwu’ –perbedaan lafadz dan masih bisa dikompromikan-.

Ibnu Jarir Ath-Thobary rhm berkata, “Menurutku definisi yang tepat untuk istilah thagut adalah, ‘setiap yang melampaui batas terhadap (aturan) Allah, ia menjadi sesembahan selain Allah, baik dengan cara ia memaksa orang untuk beribadah kepadanya, atau karena ketaatan –suka rela- dari penyembahnya, sesembahan (thagut) itu berbentuk manusia, setan, patung atau selainnya.” (Ath-Thobary, 3/21)

Al-Qurthubi rhm, “Thagut adalah tukang tenun, setan dan setiap pemimpin kesesatan.” (al-jami’, 3/282). Sedangkan Imam An-Nawawi, seorang tokoh Madzhab Syafi’iyyah berkata, “Al-Laits, Abu Ubaidah, Al-Kassa’I dan mayoritas ahli bahasa mengatakan bahwa thagut adalah setiap sesuatu yang diibadahi oleh orang selain Allah SWT.” (syarh shohih muslim,3/832 )

Ibnu Taimiyah rhm mengungkapkan makna thagut lebih terperinci, (Majmu, 28/200), “Setiap yang diibadahi (disembah) selain Allah SWT dan ia rela untuk diibadahi, maka ia adalah thagut. Oleh karena itu Nabi Muhammad saw menyebut berhala-berhala sebagai thagut, dalam sebuah hadits shahih beliau saw bersabda,

وَيَتَّبِعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ الطَّوَاغِيتَ

“Dan orang-orang yang menyembah thagut akan mengikuti thagut.” yang ditaati dalam kemaksiatan kepada Allah, dan diikuti bukan dalam kebenaran serta dinul haq,bertentangan dengan kitabullah, ia adalah thagut. Karenanya Allah SWT menyebut setiap pemimpin yang dijadikan rujukan dalam berhukum padahal ia menyimpang dari kitabullah dengan sebutan thagut. Pun berangkat dari definisi ini, Fir’aun dan ‘Aad di sebut thagut.”

Syaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, salah seorang ulama yang berjasa dalam menjaga kelurusan tauhid umat Islam, berkata, “Thagut adalah istilah yang umum mencakup segala sesuatu yang diibadahi selain Allah SWT. Maka, setiap yang diibadahi selain Allah SWT dan ia rela diibadahi, baik itu yang disembah, diikuti, maupun ditaati bukan dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT maka ia adalah thagut.”(ad-Durar, 1/161)

“Jadi” ungkap Syaikh Utsaimin, “setiap benda mati yang disembah selain Allah maka dia  adalah thagut. Setiap ulama suu’ yang mengajak kepada kekufuran, kesesatan, kebid’ahan, penghalalan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT atau pengharaman sesuatu yang dihalalkan oleh Allah, menghasung pemerintah untuk keluar dari dari syari’at Islam  maka ia adalah thagut. Karena mereka semua telah melampaui batas.”

Terlepas dari kritik terhadap kesantunan dan bahasa yang dipakai oleh Ust. MT, juga terlepas dari ‘ijtihad’ Ust MT dalam  menvonis penguasa sekuler sebagai thaghut. Sebagaimana dalam video-nya. Yang jelas Ust MT telah mengingatkan umat Islam tentang istilah yang sangat penting ini, thaghut.

Sebuah istilah akidah yang hampir hilang dalam kosa kata umat Islam. Padahal, tanpa memahami thaghut, umat Islam tidak akan bisa menyempurnakan keimanannya. Bahkan tidak sah. Para ulama telah menjelaskan makna taghut. Adapun menerapkan dalam konteks keinian, membutuhkan kebijakan, bahasa yang bisa dipahami massa, dan kearifan komunikasi, sehingga bisa dipahami baik oleh masyarakan Islam yang awam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *