Mendahulukan Qadha’ Puasa Ramadhan Atau Puasa Syawal ‎

hukum_qada_dan_puasa_enam_syawal
hukum_qada_dan_puasa_enam_syawal

An-Najah.net – Yang dimaksud dengan qodho’ adalah mengerjakan suatu ibadah yang memiliki ‎batasan waktu di luar waktunya. Seperti seseorang yang punya hutang puasa di bulan Ramadhan ‎lantaran tertimpa udzur syari, misalnya sakit, musafir, haid, nifas, merasa berat mengerjakannya, ‎wanita yang hamil dan menyusui. Sesudah bulan Ramadhan dia mengganti puasanya tadi. ‎Sejumlah bilangan yang ditinggalkannya, maka inilah yang disebut qodho’.‎

Berbagai permasalahan qodho’ puasa masih belum dipahami oleh sebagian kaum muslimin. ‎Sehingga mereka meremehkannya bahkan tidak mau tau tentang hukum tersebut. Padahal hukum ‎qodho’ ini adalah bagian dari ajaran syariat islam.‎

Kemudian ada persoalan dalam hukum qodho’ tersebut. Apakah diperbolehkan melaksanakan ‎puasa sunnah Syawal (enam hari) sebelum melaksakanan qadha’ puasa Ramadhan? Contoh kasus ‎ada seorang laki-laki berpuasa Ramadhan hanya 24 hari sedangkan yang 6 hari dia tinggalkan ‎karena uzur syari. Lantas apakah yang harus dia dahulukan, meng-qodho’ puasanya yang dia ‎tinggal atau berpuasa 6 hari di bulan Syawal?‎

Dalam persoalan ini Syaikh Abdul Azis bin Baz menjelaskannya dalam buku fatwanya, laki-laki ‎tersebut agar mendahulukan puasa qadha‘ dari pada puasa Syawal atau puasa sunnah yang ‎lainnya. Dan ini adalah mayoritas pendapat para ulama’.‎

Rasulullah Saw bersabda:‎

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

‎”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian melanjutkan dengan (puasa) enam hari di ‎bulan Syawal, maka itu layaknya puasa satu tahun.” (HR. Muslim no. 1164).‎

Barang siapa yang mendahulukan puasa Syawal dari pada puasa qadha‘, maka berarti tidak ‎menyambung puasa Ramadhan, namun dia hanya menyambung sebagian Ramadhan saja. Karena ‎maksud hadits ini adalah berpuasa di bulan Ramadhan secara utuh (lengkap)‎

Dan juga karena puasa qadha‘ adalah wajib, sedangkan puasa Syawal adalah sunnah. Maka yang ‎wajib lebih berhak untuk diperhatikan dan didahulukan dari pada yang sunnah. (Abdul Aziz Bin ‎Baz, Majmu Fatawa. Jilid : 15 hlm. 392)‎

Pendapat beliau senada dengan pendapatnya Fatawa Lajnah ad-Daimah, yang ‎berpendapat agar mendahulukan meng-qodho’ puasa Ramadhannya terlebih dahulu kemudian ‎berpuasa enam hari di bulan Syawal. Dengan catatan masih mendapatkan hari-hari di bulan ‎Syawal. (Fatawa Lajnah ad-Daimah, Majmu’atul Ula, jilid 10, hal. 354, versi Syamila) ‎Wallahu ‘alam

Penulis: Ibnu Jihad

Editor  : Ibnu Alatas