Mendudukan Antara Wahyu dan Akal

Oleh: al-Ustadz Imtihan Asy-Syafi’iy -Hafidzahullah-*

qramAkal yang mampu menalar dengan baik dan tepat adalah anugerah Allah yang tak ternilai harganya. Akal yang tajam dapat mengantarkan seseorang ke derajat yang sangat tinggi: menjadi seorang alim mujtahid yang memberikan pencerahan kepada orang-orang yang datang dan menanyakan berbagai persoalan kepadanya. Jika seorang alim mujtahid menalar perkara yang disodorkan kepadanya, keliru pun tak masalah baginya. Dia tetap mendapatkan satu pahala. Jika benar, dua pahala didapatnya. Ini jika seseorang memosisikan nalar akalnya sebagaimana mestinya: di bawah wahyu.

Apabila seseorang membalik posisi nalar akalnya, mendahulukannya di atas wahyu dan memilih mengikuti hawa nafsunya, sungguh itu adalah pangkal kesesatannya. Sufyan bin ‘Uyainah pernah ditanya, “Kenapa orang-orang yang menuruti hawa nafsunya itu amat mencintai hawa nafsunya?” Sufyan menjawab, “Apakah kamu lupa dengan firman Allah: ‘Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya.’ (Al-Baqarah: 93).”

Allah berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (Al-Qashash: 50)

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.” (An-Najm: 23)

Ketenteraman Palsu

Oleh karena itulah mereka cenderung untuk mendengar syair-syair dan suara-suara yang membangkitkan cinta yang umum, bukan cinta orang-orang yang beriman. Cinta yang sama-sama dimiliki oleh mereka yang mencintai ar-Rahman, mereka yang mencintai berhala, mereka yang mencintai salib, mereka yang mencintai negara, mereka yang mencintai saudara, mereka yang mencintai sesama jenis, dan mereka yang mencintai perempuan. Mereka semua adalah orang-orang yang mengikuti dzauq dan wajad tanpa memperhatikan al-Kitab, as-Sunnah, dan jalan para Salaf.

Orang yang menyelisihi tata cara ibadah kepada Allah serta tata cara taat kepada-Nya dan kepada utusan-Nya yang diajarkan oleh Rasulullah saw sejatinya tidaklah mengikuti agama yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman,

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menghindarkanmu kamu sedikit pun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 18-19)

Dalam pada itu mereka mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah. Allah berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21)

 

Berusaha Lalu Bertawakal

Ada juga orang-orang yang berpegang kepada agama: melaksanakan ibadah fardhu dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Hanya saja mereka keliru: mereka tidak mau melakukan usaha untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya adalah ibadah. Mereka menyangka, orang yang imannya tinggi adalah orang yang total pasrah kepada Allah dan tidak peduli lagi dengan berbagai usaha. Mereka beranggapan tawakal dan doa adalah derajat orang-orang awam, bukan orang-orang khusus. Sebab, masih menurut mereka, orang yang imannya kuat mengerti bahwa apa yang ditakdirkan oleh Allah pasti terjadi. Karena itu tidak perlu ada usaha. Ini adalah kesalahan besar. Sesungguhnya Allah menakdirkan berbagai perkara berikut usaha/sebabnya sebagaimana Dia menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan berikut usaha/sebabnya.

 

Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menciptakan penghuni surga, Dia menciptakan surga untuk mereka ketika mereka masih berada di tulang sulbi nenek-moyang mereka. Mereka akan beramal dengan amalan penghuni surga.”

Ketika Rasulullah saw memberitahu para sahabat bahwa Allah telah menulis semua takdir mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Kenapa kita tidak meninggalkan amal dan pasrah kepada tulisan itu?” Beliau bersabda, “Tidak begitu. Beramallah! Semua orang dimudahkan untuk mengerjakan amalan (baik untuk menjadi penghuni surga maupun neraka).”

Orang-orang yang kelak menjadi penghuni surga dimudahkan untuk mengerjakan amalan penghuni surga. Orang-orang yang kelak menjadi penghuni neraka dimudahkan untuk mengerjakan amalan penghuni neraka.

Semua perintah Allah kepada hamba-Nya untuk berusaha adalah ibadah. Tawakal diperintahkan seiring dengan perintah untuk beribadah. Allah berfirman,

“Beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123)

“Dia-lah Rabb-ku tidak ada sesembahan (yang hak) selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar-Ra’ad: 30)

“(Syu’aib berkata), ‘Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan kembali.” (Hud: 88)

Seorang hamba akan selamat dari semua bencana ini jika ia senantiasa berkomitmen dengan ajaran Allah yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Az-Zuhriy berkata, “Orang-orang yang telah mendahului kita berpesan, ‘Berpegang teguh kepada Sunnah adalah keselamatan.’.”

Menurut Imam Malik, “Sunnah, ibadah, dan ketaatan itu seumpama bahtera Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya akan selamat, dan barang siapa yang tidak menaikinya akan tenggelam.”

Wallahu a’lam

*Beliau adalah mudir Ma’had Ali An-Nuur Liddirosats al-Islamiyah, Surakarta. Tulisan ini diambil dari Blog Beliau: http://imtihansyafii.blogspot.com