Menegakkan Permusuhan Terhadap Musuh

menegakkan permusuhan terhadap musuh
menegakkan permusuhan terhadap musuh

An-Najah.net – Siapa saja yang menentang ketetapan dan hukum Allah Ta’ala, maka mereka adalah musuh Allah Ta’ala. Tidak selayaknya musuh diperlakukan sebagai teman, apalagi diberikan kecintaan dan kesetiaaan.

Ketetapan Allah Ta’ala Terhadap Musuh-Musuh-Nya

Banyak batasan yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala bagaimana seharunya mensikapi mereka. Di antaranya;

Pertama, saling menggasihi.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,(QS. Mumtahanah: 1)

Baca juga: Musuh Allah, Musuh Muslim

Serta firman-Nya,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Artinya: “Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka”. (QS. Al-Mujadalah : 22)

Kedua, Pemimipin.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (51) فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَى مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ (52)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu) sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang Iain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.

Baca juga: Membongkar Karakter Pemimpin Zalim Di Akhir Zaman

Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapat bencana‘. Mudah mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada RasulNya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal, terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka” (QS. Al-Maidah : 51-52)

Ketiga, bersikap keras.

Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang AIlah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah Iembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. ltulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Iagi Maha Mengetahui. ” (QS. Al-Maidah: 54)

Begitu pula firman-Nya,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

Artinya: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah Iagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (Iagi), kecuali terhadap orangorang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Baca juga: Permusuhan Abadi Antara Muslim dan Kafir

Demikianlah batasan berinteraksi dengan musuh-musuh Allah Ta’ala. Bahwa, terhadap orang-orang yang memusuhi agama Allah Ta’ala, seorang muslim dilarang untuk berkasih sayang, tidak boleh menjadikannya teman dekat, pantangan mengambilnya sebagai pemimpin, bahkan diperintah untuk memerangi mereka, serta berlaku keras terhadap mereka.

Sudah sewajarnya terhadap golongan yang hendak menyesatkan dan mencelakai kita karena permusuhan harus kita sikapi juga dengan permusuhan. Bahkan itu muncul dari kesadaran yang sangat dalam lantaran menyatu dan bersenyawa dengan keimanan.

Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan Mereka itulah orang-orang yang mengikufi jalan yang lurus ” (Q5. Al-Hujurat: 7)

Semoga Allah Ta’ala selalu membimbing kita dijalan-Nya hingga akhir hayat serta menjauhkan dari berbagai bentuk fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuh Allah Ta’ala. amin.  Wallahu Ta’ala ‘Alam. []Ibnu Jihad