Meneropong Gerakan Syiah di Jawa Timur

syiah

Oleh: Kholili Hasib (Peneliti InpPAS Surabaya)

Surabaya (AN-najah.net) – Jawa Timur yang mayoritas Muslimnya menganut tradisi NU (Nadlatul Ulama), menjadi salah satu basis utama daerah penyebaran aliran Syiah. Gerakan dakwah Syiah mulai muncul sekitar tahun 80-an, sebagai pengaruh dari Revolusi Iran pada tahun 1979 di bawah Ayatullah Khomeini. Umumnya, Syiah membangun basis di daerah Tapal Kuda dan sekitarnya. Karena itu, wilayah konflik antara Syiah dengan warga NU sering berada di sekitar daerah Tapal Kuda. Atau di daerah yang basis nadliyyinnya cukup kuat, seperti Madura.

Pendekatan Dakwah

Setidaknya terdapat tiga tipe gerakan dakwah Syiah di Jawa Timur; yaitu melalui pendirian lembaga pendidikan, kelompok pengajian untuk kaum tradisional dan ekspansi ke kampus.

Daerah Bangil, Malang, Jember, Bondowoso, Probolinggo merupakan tempat-tempat yang banyak dihuni komunitas Syiah. Lembaga pendidikan yang paling maju terdapat di Malang dan Bangil. Di kota Malang, mereka mendirikan lembaga pendidikan unggul yaitu lembaga pendidikan al-Kautsar yang menyelenggarakan pendidikan mulai TK dan SD.

Di Bangil, mereka memiliki lembaga bernama YAPI (Yayasan Pendidikan Islam al-Ma’hadul Islami) didirikan oleh tokoh kharismatik Syiah, almarhum Habib Husein al-Habsyi. Habib Husein al-Habsyi merupakan tokoh Syiah yang sangat berpengaruh. Di tangan dia, lahir kader-kader intelektual yang dikirim ke Qum, Iran. Bahkan, konon, YAPI menjadi salah satu pusat kaderisasi Syiah, selain di Bandung. Habib Husein, yang mantan aktivis Masyumi, tertarik dengan Iran sejak meletus Revolusi. Kekaguman kepada Khomeini membelokkan pemikirannya kepada aliran Syiah.

Di wilayah ini, potensi gesekan dengan Sunni cukup besar. Ada beberapa sebab. Di antaranya, komunitas Syiah ini berada di tengah-tengah warga NU. Warga NU yang memiliki ghirah di daerah ini tentu saja tidak melupakan sepak terjang Syiah pada medio antara tahun 80-an sampai 90-an. Dakwah Syiah pada tahun-tahun itu lebih terbuka. Sampai banyak pula anak-anak warga NU yang belajar di lembaga tersebut  beralih menjadi Syiah.

Penyebab utamanya bukan sekedar banyaknya anak muda yang berkonversi ke Syiah, namun militansi Syiah yang kerap memancing warga.

Pada tahun 2007, dari laporan PCNU Jember, terdapat sekitar 30 orang warga  Dusun Sumberlucu, Kecamatan Ledokombo Jember yang pindah ke Syiah. Dalam edaran yang ditanda tangani Ketua Takmir Masjid Nurul Islam diceritakan bahwa sejak konversi 30 warga NU ke Syiah itu, warga Desa Sumberlucu resah. Karena warga yang NU dihujat, dilecehkan, bahkan dikatakan ajaran NU sesat dan menyesatkan. Bahkan, salah seorang dai Syiah terang-terangan mencela Abu Bakar dan Umar bin Khattab dalam ceramah. Hal itu selalu memancing emosi dan konflik kecil.

Di daerah-daerah yang memiliki basis tradisional kuat, Syiah memakai pendekatan akhlak dan kajian ala tradisional. Seperti di Jember, dai Syiah mengadakan pengajian maupun kajian rutin dengan pendekatan bahasa daerah, atau ceramah yang bisa menyentuh hati masyarakat nadliyyin tradisional. Dai Syiah cenderung mengikuti selera masyarakat, dimana pendekatan pengajiannya mirip dengan yang selama ini menjadi tradisi Kiai NU di pedesaan.

Pendekatan ini cukup efektif bagi Syiah. Sebab, penyamaran identitas hampir tidak mudah dikenali oleh kaum tradisional NU di daerah-daerah tertentu. Pengelabuhan itu rupanya memberikan hasil yang efektif. Terbukti terdapat di daerah tertentu puluhan kepala keluarga eksodus ke Syiah. Pertama-tama, dikenalkan keutamaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dibandingkan para Shahabat yang lain. Setelah, fanatisme kepada Ali bin Abi Thalib tertanam, pelan-pelan para jama’ah memiliki pemahaman, tiada kemulyaan bagi Shahabat. Pendekatan ala tradisional ini tidak diterapkan di kampus.

Sekitar tahun 90-an hingga tahun awal tahun 2000-an  Syiah sudah masuk kampus-kampus di Jawa Timur. Di Unair Surabaya dan Unibraw Malang ditengarahi terdapat komunitas kajian mahasiswa Syiah. Mereka mendirikan IJABI Intelectual Community. IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) merupakan salah satu ormas Syiah.

Di kampus-kampus yang terdapat komunitas IJABI, Syiah mendirikan kelompok-kelompok kajian dan diskusi. Tahun 2000-an mereka menolak kelompok kajiannya disebut halaqah. Mungkin untuk membedakan dengan jamaah mahasiswa Muslim lainnya.Kajian mereka lebih terbuka, menggunakan pendekatan akademik. Dan tidak mau disebut Syiah. Saat ini, gerakan Syiah di kampus cenderung menurun. Syiah Jawa Timur lebih fokus membidik kaum tradisional dan pendirian lembaga pendidikan.

Menghadang Syiah

Karena itu, kita bisa lihat kekisruhan Syiah di Jawa Timur semuanya berada di wilayah yang basis tradisionalnya cukup kuat. KH. As’ad Syamsul ‘Arifin (alm), kyai kharismatik dari PP. Salafiyyah Syafi’iyyah Situbondo Jawa Timur pada tahun 1985. Kiai As’ad merupakan Kiai yang sangat disegani, tidak hanya di Jawa Timur tapi juga warga NU secara umumnya. Saat itu Kyai As’ad diwawancarai Koran Surabaya Pos tentang faham Syi’ah di Jawa Timur. Kyai As’ad menampakkan sikap tegas. Menurutnya kelompok Syi’ah ekstrem harus dihentikan di Indonesia. Agar tidak meluas gerakannya, Kyai As’ad mengimbau umat Islam Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaannya (dikutip dari Majalah AULA no I/Tahun XVII/Januari 1996 halaman 23).

Ketegangan antara Aswaja dan Syiah harus secepatnya dicari solusi hukumnya, sebelum secara luas mengancam keamanan nasional. Mengantisipasi ancaman nasional itu, MUI Pusat pada tahun 1984 menerbitkan fatwa kewaspadaan terhadap Syiah. Fatwa ini diturunkan dalam konteks kekhawatiran ulama terhadap politik Revolusi Syiah yang pengaruhnya sudah mulai terasa di masyarakat, apalagi Ayatullah Khomeini sudah bilang mengekspor revolusinya ke Negara-negara Islam. Pada Januari 2012 MUI Jawa Timur menerbitkan fatwa bahwa faham Syiah sesat dan menyesatkan.

Berdasarkan fatwa MUI Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Jatim No. 55 tahun 2012 tentang “Pembinaan Kegiatan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur”. Diputuskan dalam Pergub pasal 4: (1) Setiap kegiatan keagamaan dilarang berisi hasutan, penodaan, penghinaan dan/atau penafsiran yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama yang dianut di Indonesia, sehingga dapat menimbulkan gangguang ketentraman dan ketertiban masyarakat. (2) Setiap orang dilarang untuk menyebarluaskan dan/atau ikut membantu menyebarluaskan aliran sesat.

Karena itu, masalah Syiah ini sebenarnya bukan saja karena perbedaannya prinsipil (karena menyangkut fondasi akidah). Namun juga lantaran ketika keyakinan Syiah ini harus diekspresikan dalam bentuk-bentuk ritual melalui buku dan ceramah yang bermuatan pelaknatan terhadap para sahabat dan isteri Nabi Muhammad saw, maka sudah pasti akan menimbulkan benturan bagi umat lain, yakni Sunni yang mendengarnya. Sehingga cita-cita untuk menciptakan toleransi yang harmonis jadi semacam ilusi. (Anwar/islampos/annajah)