Mengagas Piroritas Dakwah

manajemenAn-Najah.net_Suatu ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya berjalan melewati tentara Tatar yang sedang mabuk-mabukan. Melihat kemungkaran itu, beberapa muridnya tergerak untukmemberantas kemungkaran tersebut.Namun, Syaikhul Islam menahan mereka.

Tentu saja sikap beliau tidak bisa dipahami oleh murid-muridnya. Bukankah minum khamer adalah kemaksiatan dan kemungkaran yang sangat buruk? Bukankah memberantas kemungkaran seperti itu merupakanperintah Allah? Lantas kenapa Syaikhul Islam melarang murid-muridnya mengingkari kemaksiatanitu.

Ternyata beliau punya alasan kuat yang syar’i dan logis. “Tentara Tatar ini, jika tidak mabuk, mereka menghabiskan waktu dengan membantai umat Islam dan menodai kehormatan mereka.” Jelas beliau. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Jangan melarang mereka, sebab Allah SWT mengharamkan minuman keras, karena ia menghalangi manusia dari berdzikir kepada Allah dan shalat. Sementara jika tentara Tatarmabuk, khamer menghalangi mereka dari membunuh, menculik para wanita dan merampas harta orang lain. Maka biarkanlah mereka berbuat demikian.” (al’I’lam, 3/5)

Kisah ini menjelaskan kedalaman ilmu Ibnu Taimiyah dalam memahami ruh syariat Islam. Bahwa, intisari pengamalan syari’at Islam adalah demi mewujudkan mashlahat, bukan justru melahirkan madharat bagi umat. Maka, amal apapun yang pasti melahirkan kemungkaran harus dihindari, termasuk ibadah nahi mungkar. Lebih dari itu, beliau telah mengajarkan tentang kaedah dakwah dan makruf nahi mungkar.

Merencanakan Kegagalan

Amal dakwah yang tidak dibangun atas kajian terhadap fikih prioritas, hanya akan menguras energi pelaku dakwah. Dia hanya menghabiskan energi yang dimilikinya atau yang dimiliki oleh organisasinya dalam perkara-perkara yang tidak terlalu bermanfaat. Sebab pekerjaan dakwah sangat banyak, menghajatkan keseriusan dan pengorbanan waktu dan tenaga. Jika pengorbanan ini tidak tepat, maka akan sia-sia.

Di sinilah terlihat betapa seorang aktifis dakwah membutuhkan alat seleksi yang berfungsi menyaring dan menentukan amal-amal dakwah yang pantas untuk didahulukan, atau yang harus diakhirkan.

Tanpa alat seleksi yang tepat manusia bisa kebingungan memilih dan mengalami disorientasi. Pada titik ini, fikih prioritas (fiqhul awlawiyyat) yang memberikan panduan mana yang idealnya dipilih dan diprioritaskan, menjadi penting diketahui untuk dijadikan alat seleksi.

Dasar fikih prioritas sesungguhnya yang berupa nilai,  hukum,  pelaksanaan dan  pemberian  beban  kewajiban menurut pandangan agama berbeda-beda satu dengan lainnya. Tidak  berada  pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk  rukun  dan ada  pula  yang  hanya  sekadar  pelengkap; ada persoalan yang masuk kategori primer dan esensial tetapi  ada  pula  yang  hanya merupakan  persoalan  sekunder;  ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama.

Banyak contoh fikih prioritas dalam sejarah para nabi maupun ulama. Misalnya, Rasulullah SAW membedakan prioritas dan level iman antara satu dengan yang lain. Beliau bersabda,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu ada enam puluh cabang lebih. Iman adalah satu cabang dari keimanan.” (HR. Bukhari)

Para sahabat Nabi SAW  sangat  antusias untuk  mengetahui amalan  yang  paling  utama  (atau yang diprioritaskan), untuk mendekatkan diri kepada Allah  SWT. Diriwayatkan dari ‘Amr bin Abasah yang menceritakanada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah apakah Islam itu? “ Beliau menjawab, “Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah, dan selamatnya kaum muslim dari lidah dan tanganmu.” Lelaki bertanya lagi,“Manakah Islam yang paling utama?” Rasulullah saw menjawab, “Iman.” Lelaki itu bertanya lagi,“Apa pula iman itu?” Beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati.”

Kemudian laki-laki itu bertanya lagi,“Manakah iman yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, “Berhijrah.” Lelaki itu bertanya lagi. “Apakah yang dimaksud dengan berhijrah itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Engkau meninggalkan kejelekan.” Lelaki itu bertanya kembali, “Manakah hijrah yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, “Jihad.” Dia bertanya lagi,“Apakah yang dimaksud dengan jihad itu?” Beliau menjawab, “Hendaklah engkau memerangi orang-orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka.” Dia bertanya lagi,“Jihad mana yang paling utama?” Rasulullah SAW menjawab, “Jihad orang yang mempersembahkan kuda dan darahnya.”(HR. al-Mudziri dan Thabrani)

Ketika pertama kali berdakwah di Makkah, Rasulullah SAW lebih memprioritaskan materi tauhid; iman kepada Allah, hari kiamat dan mengajarkan akhlak-akhlak yang baik, daripada perkara-perkara lainnya. Sebab, tauhid merupakan pondasi Islam. Selain itu, masyarakat saat itu sedang mengalami kerusakan tauhid dan akhlak. Ini terbukti dengan tersebarnya kesyirikan di tengah masyarakat, dan mewabahnya perzinaan di seluruh pelosok jazeerah arab.

Tipu Daya Iblis

Hal lain yang sangat membahayakan bagi aktifis dakwah ialah tidak memahami Fikih Prioritas Dakwah adalah.Besar kemungkinan ia terjatuh dalam godaan setan. Sebab, menurut Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, salah satu cara setan menyesatkan manusia adalah merusak prioritas.Contohnya, menyibukkan manusia dengan perkara yang mubah dari perkara yang sunnah, atau dengan perkara yang sunnah sehingga lalai dari melakukan yang wajib.

Imam Ibnu al-Jauzi juga menjelaskan fenomena talbis (tipuan) setan terhadap orang-orang shalih, “Ada diantara orang-orang yang shalihitu menghabiskan waktunya untuk mempelajari jenis bacaan-bacaan yang syadz (salah) –dalam Al-Quran-. Ia menghabiskan umurnya hanya untuk mengumpulkan dan menulis jenis-jenis bacaan ini. Hal ini menyibukkan dia dari mengkaji perkara-perkara yang wajib dan fardhu.” Tulis Ibnu al-Jauzi.

“Terkadang Anda menyaksikan imam masjid,” tulis beliau lebih lanjut,”terlalu menyibukkan diri dengan jenis-jenis bacaan Al-Qur’an, tetapi dia tidak mengkaji apa saja yang membatalkan shalat. Terkadang, yang membuat mereka seperti ini, karena ingin menonjol, sehingga dia tidak tertarik untuk duduk di hadapan ulama lalu belajar kepada mereka.

Andaikan mereka berpikir bahwa tujuan menghafal Al-Qur’an dan memperbaiki bacaannya agar  bisa memahaminya, mengamalkannya, dan mengkaji apa yang bisa memperbaiki akhlak, mensucikan jiwa, serta ilmu-ilmu syar’i lain yang lebih penting. Sungguh, menghabiskan umur dalam perkara-perkara yang tidak urgen adalah salah bentuk ketololan yang sempurna.” (Talbis Iblis, hlm. 137)

Beliau menambahkan, “Ada juga yang tidak memperhatikan hafalan Al-Qur’an, tidak mengkaji rukun-rukun shalat. Mereka menyibukkan diri dengan sesuatu yang merupakan fardhu kifayah dan lalai dari fardhu ‘ain. Mengutamakan yang penting, mengabaikan yang penting merupakan bentuk tipu daya iblis.”

Pasca wafatnya cucu Rasulullah SAW, Husein bin Ali, orang-orang Irak dikenal sebagai manusia yang berlumuran darah pemuda mulia ini. Suatu ketika, sebagian orang Irak pergi haji. Mereka menemui mufti Makkah, Atho’ bin Abi Rabbah. Mereka menanyakan hukum membunuh lalat di tanah haram.

Imam Atho’ bertanya, “Darimanakah kalian?” Mereka menjawab, “Dari Irak.” Atho’ berkata, “Allah..Allah..wahai penduduk Irak, kalian telah menumpahkan darah Husein. Dan sekarang kalian datang hanya untuk menanyakan hukum menumpahkan darah seekor lalat.”* (Akrom Syahid)

Diambil dari majalah An-Najah Edisi 114  Mei 2015, hal. 4-6