Mengagungkan Syiar Allah Ta’ala

Mengagungkan Syiar Allah
Mengagungkan Syiar Allah

An-najah.net –

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati,”(QS. Al-Hajj: 32)

Seorang mukmin yang fitrahnya masih lurus akan mengagungkan perintah dan larangan Allah Ta’ala. Mengagungkan nama-nama Allah Ta’ala, mengagungkan Al-Qur’an dan menjunjung tinggi Rasulullah SAW. Baginya, syariat-syariat Allah adalah agung. Sesuatu yang pantas diperjuangkan dengan harta dan jiwa. Dengan cara itulah ketakwaan seseorang akan menjadi kuat.

Tetapi sebaliknya, mereka yang mengaku muslim, meski belajar lama di pesantren dan perguruan perguruan tinggi, mendapatkan gelar yang berderet, tetapi mengolok-olok Islam dan pengikutnya, maka keimanan itu akan redup atau bahkan hilang. Mereka bakar bendera Rasulullah SAW dengan bangganya. Di-upload pada media sosial dan disaksikan oleh semua orang. Sungguh ini sebuah penghinaan yang luar biasa terhadap bendera umat Islam.

Seseorang yang hatinya bersih sangat jauh dari perbuatan ini. Mengagungkan syiar Allah Ta’ala adalah ciri hati yang bertakwa. Sebaliknya hati yang penuh dengan kotoran kemaksiatan dan kemunafikan akan sangat mudah untuk melecehkan syiar-syiar Allah Ta’ala.

Baca Juga : Karena Umat Islam Satu Kesatuan

Tafsir

Dalam Al-Qur’an, hal-hal yang monumental dinamai dengan ‘syiar’ yang secara harfiah berarti tanda atau rambu-rambu yang dipasang untuk mengenali sesuatu. Kata syiar berasal dari kata syu’ur, yang bermakna rasa, karena syiar dibangun agar setiap orang yang melihatnya merasakan keagungan Allah SWT.

Syiar selanjutnya dipahami sebagai tanda ibadah, terlebih lagi ibadah haji. Syiar bisa menunjuk pada tempat-tempat yang mulia, seperti Kabah, bukit Shafa dan Marwa, padang Arafah dan al-Masyar al-Haram; bisa menunjuk pada waktu, seperti bulan Dzulqa`dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab; dan dapat pula menunjuk pada amalan-amalan agama.

Menurut al-Razi, syiar tak hanya menunjuk pada amalan ibadah haji semata, tetapi semua ibadah, bahkan semua aktivitas yang menjadi simbol kepatuhan seseorang kepada Allah. Syiar diagungkan sebagai manifestasi rasa takwa. Firman-Nya:

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS al-Hajj: 32)

Imam As Sa’di berkata, “Yang dimaksud dengan syaair adalah sesuatu dari agama yang nampak. Diantaranya adalah rentetan ibadah haji. Mengagungkan syiar-syiar Allah muncul dari ketakwaan hati. Orang yang memuliakannya menjadi bukti ketakwaan dan sehatnya hati. Karena mengagungkan syiar-syiar Allah akan diikuti dengan pengagungan Allah Ta’ala dan memuliakannya. (Tafsir As-Sa’di)

Baca Juga : Tiga Sebab Datangnya Pertolongan Allah 

Sedangkan Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah” yaitu perintah perintah Nya.

Sayyid Qutub dalam Fii Dhilalil Qur’an berkata, “Pengagungan syiar Allah yang terhormat harus diikuti dengan tidak melanggarnya sedikitpun dan menyentuhnya dengan penghinaan dan keburukan. Hal itu lebih baik di sisi Allah, lebih baik pada nurani dan perasaan, dan lebih baik dalam alam kehidupan dan kenyataan. Naruni yang selalu berhati-hati adalah naruni yang selalu menyucikan diri. Kehidupan yang di dalamnya kehormatan-kehormatan Allah terjaga adalah kehidupan yang menyelamatkan dan mengamankan manusia dari kesesatan dan permusuhan. Manusia menemukan di dalamnya perlindungan yang aman, tempat yang damai, dan daerah yang tenang.”

Adalah para salaf orang yang paling mengagungkan syiar-syiar Islam. mereka berlomba dalam mendapatkan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Berlomba untuk mendapatkan shof pertama. Sementara mereka ingin untuk menjadi orang yang terakhir keluar dari masjid. Mereka juga berlomba untuk berjihad di jalan Allah. Maju pertama untuk membela Islam saat Islam dilecehkan. Bahkan mereka rela untuk bermusuhan dengan keluarga jika ada dari anggota keluarga mereka yang memusuhi Islam.

Ada doa yang Allah ajarkan agar hati ini tetap cinta pada keimanan dan benci pada kekafiran.

اللَّهُمَ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

“Ya Allah jadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikanlah keimanan itu indah di dalam hati kami, serta jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk di antara orang orang yang mendapat petunjuk.”

Baca Juga : Akhlak Cermin Keimanan Seseorang

Jadi jelaslah bahwa orang-orang yang meremehkan atau bahkan menghina syiar-syiar Allah adalah orang-orang yang telah rusak hatinya. Meski mereka mengaku sebagai seorang muslim, hakekatnya mereka telah melakukan salah satu pembatal keislaman. Jika tidak bertaubat, rusaklah keislaman mereka. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang orang yang tegak di atas kebenaran, membela agama Allah hingga kita mendapatkan khusnul khotimah. Aamiin.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 157 Rubrik Tafsir

Penulis : Amru

Editor : Miqdad