Mengajarkan Tauhid Kepada Anak-Anak

Anak Belajar Tauhid dari Al Qur'an
Anak Belajar Tauhid dari Al Qur’an

An-Najah.net – Kewajiban pertama bagi orang tua kepada anaknya adalah mengajarkan kalimat tauhid, La Ilaha Illallah. Kalimat ini merupakan pondasi bagi keislamannya. Dengan kalimat ini kita hidup dan diatas kalimat ini pula kita akan mati. Kalimat ini merupakan miftahul jannah, kuncinya surga.

RasulullahSAW bersabda :

اِفْتَحُوْا عَلَى صِبْيَانَكُمْ أَوَّلَ كَلِمَةٍ بِلاَ إِلَهَ اِلاَّ اللهُ, وَ لَقِّنُوْهُمْ عِنْدَ الْمَوْتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Ajarkanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian La ilaha Illallah, dan talqinkanlah ketika akan meninggal dengan kalimat La Ilaha Illallah.” (HR. Al Hakim).

Bahkan Luqman al Hakim telah mengajari kita, bagaimana metode mendidik anak-anak kita. Materi pertama yang diajarkan adalah persoalan tauhid, jangan berbuat syirik kepada Allah. Penanaman tauhid ini ditekankan sebelum pembebanan kewajiban yang lainnya.

Baca Juga : Dakwah Kalimat Tauhid Kunci Kejayaan Ummat

Ibnu Qayyim dalam Kitab Ahkamul Maulud mengatakan “Pada waktu mereka bisa berbicara, mereka dilatih melafadzkan kalimat La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah. Hendaknya yang masuk pertama kali dalam telinga mereka adalah pengenalan terhadap Allah Swt. Mentauhidkannya bahwa Allah Swt berada diatas ‘Arsy, melihat dan mendengar perkataan mereka, dan Allah selalu bersama mereka di mana pun mereka berada.”

Metode Menanamkan Tauhid

Kalimat tauhid bukan sekedar lafadz yang diucapkan dilisan semata. Akan tetapi, kalimat ini memiliki makna dan konsekuensi. Salah satu metode dalam mendidik anak adalah melalui kisah.

Dimana di dalam kisah-kisah itu ada hikmah, pelajaran yang bisa diambil. Melalui kisah itu cara efektif memasukkan nilai-nilai tauhid, tanpa anak merasa digurui. Bahkan biasanya mereka itu ikut hanyut dalam mendengarkan kisah itu.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah di dalam Kitab al Fawaid menjelaskan diantara keutamaan tauhid adalah bisa menjadi jalan keselamatan bagi mereka yang senantiasa memperjuangkan tauhid ini. Kisah yang bisa disampaikan kepada anak-anak adalah kisahnya Nabi Yunus dan Fir’aun.

Nabi Yunus diutus Allah SWT untuk berdakwah di kota Ninawa, suatu kota yang terletak di Mausul, Iraq. Nabi Yunus senantiasa menyeru mereka untuk mentauhidkan Allah Swt. Akan tetapi, mereka menolak dan tetap tenggelam di dalam kekafirannya.

Baca Juga : Tiga Alasan Mengapa Kami Membela Kalimat Tauhid

Maka Nabi Yunus meninggalkan mereka dalam keadaan marah, seraya mengancam mereka bahwa dalam waktu tiga hari lagi akan datang azab dari Allah.

Nabi Yunus pergi meninggalkan kaumnya dan menaiki perahu bersama suatu kaum. Ditengah laut, perahu oleng, mereka merasa takut akan tenggelam. Maka mereka mengadakan undian di antara mereka untuk menentukan siapa yang bakal dilemparkan ke dalam laut untuk meringankan beban muatan perahu.

Akhirnya undian jatuh ke tangan nabi Yunus, tetapi mereka menolak tidak mau melemparkannya. Lalu dilakukan undian lagi, ternyata kali itu undian jatuh ketangan Nabi Yunus lagi.

Mereka menolak, lalu mengadakan undian lagi. Ternyata undian jatuh ke tangan Nabi Yunus lagi. Hingga keputusan terakhir Nabi Yunus harus dilemparkan kedalam laut. Kemudian ia dimakan ikan Zun Nun yaitu Paus.

Nabi Yunus di dalam perut ikan Paus, beliau berdoa kepada Allah (لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ). Dengan doa ini Allah SWT menyelamatkannya dari perut ikan paus itu. Kemudian beliau bisa keluar dan berjumpa dengan kaumnya yang telah mencari-cari dirinya. Dan mereka telah bertaubat kepada Allah Swt.

Baca Juga : Memurnikan Tauhid Memangkan Islam

Allah SWT berfirman :

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (Qs. Al Anbiya’ : 88)

Hal ini berbeda dengan kisahnya Fir’aun. Fir’aun adalah seorang raja yang dzalim, kejam dan banyak melakukan penindasan kepada bani Israil. Fir’aun ini pula yang menghalang-halangi dakwahnya Nabi Musa. Padahal yang didakwahkan Nabi Musa itu adalah tauhid.

Akan tetapi berbeda dengan Fir’aun, malah dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kemudian dia menyuruh anak buahnya untuk membuat menara yang tinggi untuk mencari tuhannya Nabi Musa. Inilah bentuk kesombongan dan kedurhaan dirinya.

Puncaknya adalah tatkala nabi Musa bersama bani Israil meninggalkan Mesir. Mereka dikejar oleh Fir’aun dengan bala tentaranya. Ketika Nabi Musa memukul Laut Merah kemudian terbelah menjadi dua. Nabi Musa bersama bani Israil melewatinya sehingga mereka selamat.

Akan tetapi, Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka. Laut merah yang terbelah menjadi jalan itu tertutup kembali. Akhirnya Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam.

Baca Juga : Tauhid, Kemerdekaan Hakiki

Ada sebuah kisah menarik didetik-detik kematian Fir’aun. Dia berkata (آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ), Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). Maka Allah SWT menjawab pengakuan fir’aun itu. Melalui firmannya :

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” 9Qs. Yunus : 91)

Hikmah Kalimat Tauhid

Kedua kisah diatas cara yang digunakan sama, akan tetapi hasilnya berbeda. Nabi Musa berdoa dengan kalimat tauhid kemudian diselamatkan Allah swt. Karena semasa hidupnya ia senantiasa memperjuangkan tauhid.

Sedangkan Fir’aun, dia sama mengucapkan kalimat tauhid. Akan tetapi, tidak diterima Allah swt. Karena semasa hidupnya Fir’aun senantiasa memusuhi ahli tauhid. Dan ketika itu nyawanya sudah sampai ditenggorokan, maka taubatnya tidak diterima Allah Swt.

Baca Juga : Belajar Tauhid Dan Aplikasinya dari Luqman Al Hakim

Dari kisah ini, harus ditanamkan kepada anak-anak. Agar anak cinta kepada kalimat tauhid. Akhir hidup ahlu tauhid adalah mendapatkan kebaikan dan diakhirat akan masuk surga. Sedangkan akhir hidup musuh ahlu tauhid adalah kesengsaraan dan diakhirat akan masuk neraka.

Sumber : Majalah An-najah Edisi 157 Rubrik Usratuna

Penulis : Abu Mazaya

Editor : Miqdad