Mengapa Al Quds Dihormati Tiga Agama?

Al Quds
Al Quds

An-Najah.net – Selama lebih dari 4 millenium, Al-Quds menjadi saksi pertarungan bangsa-bangsa besar di dunia. Sepanjang kurun tersebut kota kuno ini dibangun, dimusnahkan dan dibangun ulang. Hingga kini, Al-Quds tetap dihormati umat dari tiga agama; Islam, Nasrani dan Yahudi. Masing-masing umat, memiliki alasan tersendiri terkait kesucian kota ini.

Yahudi

Umat Yahudi mengimani bahwa Nabi Adam diciptakan dari tanah Al-Quds. Di tanah ini pula, Adam diturunkan dari surga. Bagian paling disakralkan umat Yahudiialah lokasi yang di atasnya berdiri Kubah Batu atau The Dome of The Rock. Para rabbi mengatakan bahwa di tempat itulah Nabi Sulaiman membangun Bait Suci yang dalam bahasa ibrani disebut dengan Beit YHWH atau Beit HaElohim.

Setidaknya terdapat dua Bait Suci yang berdiri berturut-turut di Al-Quds. Yang pertama ialah kuil sulaiman yang dibangun sekitar abad ke-10 SM untuk menggantikan Kemah Suci. Rumah ibadah ini dihancurkan Nebukadnezar pada tahun 586 SM. Bait Suci kedua dibangun sekitar tahun 536 M setelah bangsa Yahudikembali merebut wilayah Al-Quds.  Tak jauh berbeda dengan Bait Suci pertama, Bait suci kedua kembali dihancurkan oleh bangsa Romawi di bawah kaisar Titus pada tahun 70 M. sebagian sejarawan menduga bahwa orang Yahudisengaja membakar Bait Suci kedua agar tidak dicemari.

Sejak saat itu, umat Yahudi terpecah dan berdiaspora ke penjuru dunia. Namun, impian untuk merebut kembali Al-Quds tidak pernah sirna. Keterikatan antara Jerusalem dan Yudaisme begitu kuat. Bahkan, umat Yahudi sekuler sekalipun mengungkapkan pengabdian dan keterikatan mereka terhadap kota ini. Mereka tidak dapat membayangkan eksistensi Negara Israel modern tanpa kota ini. Bagi umat yahudi, kota ini suci sejak tiga ribu tahun silam. (Leslie J. Hoppe, 2000)

Titik balik kebangkitan Yahudi modern ditandai dengan berdirinya Negara Israel. Negara zionis ini berawal dari impian Theodor Herzl, YahudiSekuler asal Austria-Hongaria. Herzl menuangkan pandangan dan impiannya tentang ‘rumah’ bagi umat Yahudidalam buku Der Judenstaat (Negara Yahudi).

Sejak diterbitkan pada 1896 buku ini mengundang kontroversi. Herzl mendorong umat Yahudi untuk meninggalkan Eropa dan hijrah ke Argentina atau Jerusalem yang mereka impikan. Dia mengingatkan kaum sesama Yahudibahwa mereka kehilangan harta yang paling penting. Yaitu Negara yang lengkap dengan struktur politiknya. Dia yakin bahwa satu-satunya cara untuk menghindari gerakan anti-semit ialah orang Yahudiharus memiliki Negara sendiri agar leluasa mempraktikkan ajaran agama dan kultur yahudinya dengan bebas. Pandangan ini diterima oleh penganut Yahudidi berbagai Negara. Dari ide itu lahirlah gerakan zinonis internasional. Atas ide ini pula, Herlz disebut sebagai founding father Negara Israel.

Nasrani

Umat Nasrani menjadikan Al-Quds (Yerusalem) sebagai kota suci karena di kota inilah Yesus diutus. Di luar komplek tembok Yerusalem terdapat bukit Golgota tempat Yesus disalib. Di dekat tempat yang disebut dengan Bukit Tengkorak itu dibangun Gereja Makam Kudus. Umat nasrani percaya di tempat inilah Yesus dimakamkan dan bangkit kembali.

Di abad pertengahan, Jerusalem menjadi semangat pengobar Perang Salib. Pada tahun 1095 sebuah pertemuan akbar dilangsungkan di Clermont, Prancis. Dengan pidato yang berapi-api Paus Urbanus II membakar emosi umat Kristen, “Bergegaslah menuju Makam Kudus, rebutlah kembali negeri itu dari orang-orang jahat, dan jadikan miliki kalian. Inilah tempat Juru Selamat kita dilahirkan, diperintah dengan kehidupan-Nya, dan dikuduskan dengan penderitaan-Nya. Bergegaslah, dan kalian akan memperoleh penebusan dosa, serta pahala di Kerajaan Surga.”

Menurut para sejarawan terdapat tiga alasan utama yang memicu perang salib. Pertama, merebut Al-Quds dan Gereja Makam Kudus dari kaum muslimin. Kedua, merekatkan kembali aliran Katolik Roma dan Kristen Orthodox. Ketiga, menghindarkan para ksatria feodal dan para baron dari pertempuran saudara, lalu menyatukan mereka ke dalam “perang pertobatan”. Pada 15 Juli, Al-Quds jatuh ke tangan pasukan salib setelah pertempuran 5 pekan. Paus urbanus II sendiri meninggal 14 hari kemudian sebelum mendengar kabar jatuhnya Al-Quds.

Islam

Umat Islam menghormati tanah Al-Quds karena beberapa sebab. Antara lain sebagai berikut;

Pertama, masjid Al-Aqsa berada di tanah Al-Quds. Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama kaum muslimin. Di masjid ini pula Rasulullah SAW memulai perjalanan mi’raj ke langit. Selain itu, Al-Aqsa adalah masjid kedua yang dibangun di bumi ini. Tepatnya empat puluh tahun setelah Masjidil Haram dibangun.

Masjid Al-Aqsa memiliki dua nama lain; Pertama, baitul muqaddas yang berarti rumah yang diberkahi dan suci. Penamaan ini ditemukan dalam literatur yang ditulis Ibnu Hajar Al-Asqalani. Kedua, Baitul Makdis. Inilah nama lama sebelum tempat ini disebut dengan Al-Aqsa. Nama ini banyak ditemukan dalam hadist-hadits nabi, seperti dalam hadits tentang peristiwa isra’-mi’raj.

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengunjungi masjid ini, masjid Al-Haram di Makkah dan masjid Rasulullah SAW di Madinah. Shalat di masjid ini lebih utama dibanding shalat di tempat yang lain.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Jangan suka bepergian kecuali ke tiga masjid; masjidil Haram, masjidku ini dan masjid Al-Aqsa.” (Muttafaq Alaih)

Inilah alasan mengapa Ibnu Umar datang jauh-jauh dari Hijaz ke Al-Aqsa hanya untuk shalat. Setelah selesai beribadah, Ibnu Umar langsung pulang kembali ke Madinah. Ia bahkan tidak sempat minum air. Atau mengunjungi tempat bersejarah lain seperti makam Nabi Ibrahim di Hebron atau bukit Tursina tempat nabi Musa menerima Wahyu. Ibnu Umar berharap mendapatkan berkah doa Nabi Sulaiman yang pernah meminta kepada Allah SWT agar orang yang datang ke masjid Al-Aqsa untuk shalat, tanpa maksud lain, agar mendapat ampunan Allah SWT.

Kedua, tanah Al-Quds merupakan negeri kaum muslimin. Sebelum dijajah Israel, tanah ini adalah milik kaum muslimin dan masuk dalam wilayah Daulah Utsmaniyah. Ketika sepetak tanah kaum muslimin direbut orang kafir, berlakukah jihad difai atau jihad defensif. Wajib hukumnya bagi kaum muslimin di wilayah tersebut untuk mengangkat senjata melawan musuh. Ketika mereka tidak mampu, kewajiban tersebut melebar ke wilayah yang lain. Dan terus melebar hingga tanah tersebut kembali merdeka.

Sejak tahun 1917, tanah Al-Quds lepas dari tangan kaum muslimin. Beragam solusi telah ditawarkan, namun tak satupun yang benar-benar mewujudkan kedamaian di tanah tersebut. Sejarah membuktikan bahwa solusi hakiki untuk kemerdekaan Al-Quds ialah dengan perjuangan jihad bukan lewat negosiasi tanpa bargaining kuat. Al-Aqsa adalah kiblat pertama kaum muslimin, sudah seharusnya menjadi prioritas mereka yang pertama.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 146 Rubrik Tema Utama

Editor : Anwar