Mengembalikan Jawa ke Pangkuan Ulama

Ana kidung rumekso ing wengi,
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

(Ada kidung yang merasuk di malam hari
Semoga kuat selamat terbebas dari semua penyakit.
Terbebas dari segala petaka.
Jin dan setan pun tak akan mau.
Segala jenis sihir tidak akan berani.
Apalagi perbuatan jahat.
guna-guna meleset.
Api berubah menjadi air.
Pencuripun menjauh dariku.
Segala bahaya akan lenyap)

 ‘Kidung rumekso ing wengi’ adalah salah satu karya tembang karya Sunan Kalijaga. Nampak jelas dalam bait-baitnya, Sunan Kalijaga menjelaskan bahwa dengan menjadi Islam maka hidupnya akan tenteram, sebab segala macam kejahatan tidak akan berani menghampiri. Tembang dan geguritan memang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jawa. Oleh karena itu, para ulama penyebar Islam di Jawa banyak menggunakan medium budaya dalam dakwahnya.

Bottom Up Islamization

Berbeda dengan wilayah futuhat Islam, maka yang terjadi di Jawa lebih bercorak bottom up Islamization yang berlangsung secara intensif dan terus menerus selama ratusan tahun. Sebab bukan sebuah pekerjaan mudah, memahamkan Islam pada masyarakat yang secara kultur sangat berbeda dengan kultur tempat lahirnya Islam, yakni Jazirah Arab. Ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Pulau Jawa, para duta Islam masuk dalam masyarakat yang sama sekali masih asing terma-terma agama tauhid. Konsep-konsep seperti Allah, Nabi, Malaikat dan sebagainya. Saat itu, agama dan kepercayaan yang berkembang di Jawa adalah Hindu, Budha di kalangan elite dan aneka kepercayaan lokal masyarakat yang bertumpu pada pemujaan terhadap arwah leluhur.

Kenyataan dakwah itu telah menjadikan para ulama penyebar islam di Jawa melakukan proses kreatif dalam berdakwah. Selain berhasil melakukan Islamisasi bahasa, sehingga elemen-elemen kunci dalam kebudayaan Jawa dipahami dalam kerangka Islamic worldview, dalam perkembangan selanjutnya para ulama pembawa Islam ke tanah Jawa telah mampu menjadikan Islam sebagai sebagai substansi budaya Jawa. Perubahan tradisi dari sesaji (persembahan untuk mankhluk halus) menjadi selametan (ungkapan syukur kepada Allah SWT) bukan sekedar Islamisasi mantra menjadi do’a, akan tetapi lebih merupakan sebuah perubahan radikal dalam kosmologi Jawa. Bahkan, pertunjukan wayang, yang merupakan kesenian paling populer juga mengalami demitologisasi yang luar biasa. Hal ini tercermin dalam pendapat Kuntowijoyo :

Justru wayang “mencemari” Hinduisme dengan mengadakan demitologisasi secara besar-besaran. Ketika Betara Guru berebut perempuan dengan Betara Wisnu, Ketika Betara Guru iri hati pada Arjuna karena sebutannya sebagai lelaki sejati di jagad raya. Ketika dewa-dewa dikalahkan raksasa Niwatakawaca dan harus meminta bantuan Arjuna, itu semua sebenarnya adalah pelecehan terhadap pantheon Hindhu. Wayang tidak lebih dari fairy tales yang banyak terdapat dalam kebudayaan Islam seperti Jin, Raksasa dan tukang sihir.

Posisi kisah dalam wayang menjadi sejajar dengan dongen kancil nyolong timun, yang tidak lagi menjadi pandangan metafisika orang Jawa, tetapi lebih sebagai tempat untuk belajar hikmah tentang kehidupun. Dalam perkembangannya ada lakon yang memang diciptakan oleh para ulama, seperti lakon Dewa Srani, sebuah karya dari Sunan Giri yang memberikan early warning akan bahaya kristenisasi.

Dari sini, istilah pribumisasi Islam para wali yang sering diartikan oleh beberapa kalangan sebagai akulturasi Islam dan Kejawen menjadi tidak tepat. Sebab dalam tembang dan geguritan karya para ulama Jawa tersebut lebih merupakan pembahasaan dakwah Islam secara Jawa. Sebagaimana sabda Rasulullah untuk berbicara dalam bahasa kaumnya. Sehingga bisa dirasakan bahwa mengglobalnya Islam tidak disertai dengan punahnya lokalitas cita rasa bahasa dan budaya. Kaum muslimin di kawasan India mengenal Bahasa Urdu, di Asia Tenggara ada bahasa Melayu dan Jawa. Bahasa-bahasa tersebut kata Al Attas telah diper Islamkan dengan masuknya istilah-istilah dasar kata-kata Arab yang merupakan worldview Al Qur’anul Karim dan Islam. Islamisasi Bahasa ini secara otomatis akan membawa pandangan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian se abangan-abangannya orang Jawa secara kejiwaan tertanam bahwa dirinya adalah seorang muslim.

Peran Ulama dalam Menjaga KeIslaman Masyarakat Jawa

Islam Jawa (1)Persentuhan panjang masyarakat Jawa dengan agama Islam terjadi sejak tahun 675 M, ketika kekhalifahan Islam mengirimkan dutanya ke kerajaan Kalingga. Dan sejak itu pula Jawa ditetapkan sebagai tanah dakwah, yang penyiarannya tidak dengan penaklukan bersenjata tetapi dengan jalan pengajaran. Oleh karena itu sejarah Islam di tanah Jawa selalu bermuara pada legenda perjalanan dakwah para ulama, mulai dari Syekh Subakir pada masa raja Smaratungga, Syekh Maulana Ali Syamsyu Zein dari Rum (Andalusia) yang menjadi guru spiritual prabu Jayabaya sampai wali sanga yang merupakan dewan tertinggi para ulama yang menyebarkan Islam di Jawa.

Karena itu tidaklah mengherankan bila para pujangga kraton, yang selama ini diklaim mewakili pandangan sinkretik Hindu – Islam seperti Ranggawarsito juga merupakan hasil didikan pesantren. Sehingga, berbeda dengan ada analisa Zoetmoelder dan kanca-kancanya, Prof. Dr. Simuh, seorang pakar Islam Jawa menyatakan bahwa kerja para sastrawan kejawen sangat berjasa dalam Islamisasi sastra dan bahasa Jawa. Unsur-unsur sufisme tetap merupakan porsi utama dalam karya-karya para sastrawan kejawen tersebut. Ranggawarsito dalam Serat Centhini misalnya, menggambarkan orang Kristen adalah mereka yang menyembah Kanjeng Nabi Isa. Sebuah pandangan yang tentunya berangkat dari worldview Islam. Sehingga dapat dikatakan bahwa distorsi identitas yang ditujukan untuk memisahkan orang Jawa dari Islam tidak pernah berhasil. Sebab Islam merupakan identitas yang menyatu dalam diri masyarakat Jawa. Hal ini tercermin dari serat Rerepen yang digubah oleh Pakubuwono X :

Narendra miwah pujangga
Wali lan pandhita jatine kaki
Karsaning Kang Maha Agung
Gunggunging Islam Jawa
Marmane langgeng tunggal loro hiku
Ja hana hingkang tinggal Jawa
Lan ja hana hadoh agami

Tinulis sajroning Qur’an,
Hantepana dadya laku ban hari
Miwah wanguning kadhatun
Tindakna kalawan taqwa
Wit kang mangkana sira jeneng geguru
Ratu habudaya Jawa
Wali panuntun agama

(Para raja dan pujangga
Sesungguhnya para wali dan ulama anakku
Atas kehendak yang Maha Agung
Agung-lah Islam – Jawa
Karena itu lestarikanlah dwitunggal itu
Jangan sampai ada yang semata Jawa
Dan jangan sampai ada yang menjauhi agama

Yang tertulis dalam Al Qur’an
Dihayati menjadi perilaku sehari-hari
Demi indahnya sebuah pemerintahan
Jalankanlah dengan taqwa
Karena itu lestarikanlah dwi tunggal itu
Jangan ada yang semata Jawa
Dan jangan sampai ada yang menjauh dari agama)

Bait serat di atas menunjukkan, bahkan pada saat dimana kekuasaan secara resmi telah jatuh ke tangan pemerintah kolonial Belanda, di masa Pakubuwono X, masyarakat Jawa tetap diingatkan untuk meneladani para ulama dan menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman. Dan dalam catatan sejarah, untuk mengimbangi Kerstening Politik melalui modernisasi pendidikan, Pakubuwono X mendirikan Mamba’ul Ulum yang diharapkan akan mampu mencetak para ulama di masa sesudahnya. Namun yang dari semua itu adalah bahwa Islam dan Jawa adalah sebuah identitas yang menyatu, bukan Jawa kalau bukan Islam, orang Islam yang murtad adalah wong jawa ilang jawane. Dan itu adalah buah kegigihan para ulama dalam mengajarkan Islam ke masyarakat Jawa bahkan ketika dalam kondisi tersulit sekalipun. Karena itu wajar, jika kemudian di masa sekarang, para penerus kebijakan kolonial, murid-murid para orientalis maupun missionaries menggaungkan gerakan Liberalisasi Islam yang salah satu agendanya adalah menghilangkan otoritas ulama. Wallahu ‘alam bish showab. (An-najah)

 

Ditulis oleh: Arif Wibowo (Pusat Studi Peradaban Islam)

Sumber: www.pspi-solo.com