Mengemban Dakwah Ilahi

rintangan dakwah
rintangan dakwah

An-Najah.net – Kita diciptakan dan hidup di dunia bukanlah untuk bermain. Tidak diragukan ‎lagi bahwa tertinggalnya kaum Muslim dari umat yang lain tidaklah akan terjadi, seandainya ‎mereka senantiasa berpegang teguh pada agama Islam, serta selalu berkeinginan untuk ‎menjaganya dengan ikhlas dan tidak mengabaikan sedikitpun atau berusaha untuk membuat ‎penafsiran terhadap ajaran Islam.‎

Ketertinggalan ini dimulai sejak kaum Muslim meninggalkan ajaran Islam dan membuka ‎kesempatan bagi peradaban asing untuk menyusupkan ide-idenya dan mencari cara untuk ‎menghancurkan kaum Muslim.‎
Ingatlah saudaraku, kehidupan hakiki adalah kehidupan akhirat, hidup di dunia hanyalah ‎sementara dan fana. Kita semua adalah milik Allah Ta’ala dan kepada-Nyalah kita semua akan ‎kembali. Segala seluk beluk kehidupan kita di dunia akan dipertanggungjawabkan, baik amanah ‎‎(harta, tahta, keluarga), pendengaran, penglihatan dan lain sebagainya. ‎

Maka di dunia ini, kita adalah –khalifatullah– khalifah Allah Ta’ala yang sedang mengemban ‎dakwah Ilahi. Guna memakmurkan dan membumikan negeri ini dengan ketetapan Ilahi. Susul ‎menyusul dan ganti menggantikan satu dengan yang lain seiring regenerasi di antara kita. ‎

Saudaraku, inilah takdir kita, kita diciptakan sebagai –khalifatullah– khalifah Allah Ta’ala dengan ‎masa tugas masing-masing yang berbeda, tanpa pernah kita tahu kapan ia akan berakhir. Selama ‎nafas berhembus, jantung berdenyut, dan nyawa di kandung badan, kita tetaplah khalifah Allah ‎Ta’ala.‎

Resiko Dakwah Ini

Namun saudaraku, ini bukanlah misi yang mudah dijalani. Penuh onak dan duri yang merintangi, ‎juga jalan terjal berdebu menciutkan hati. Dan jika kita sendirian, atau minimal merasa demikian, ‎jelas ia menjadi teramat berat untuk dijalani. Bahkan jika kita menyadari bahwa gangguan ‎terberatnya seringkali datang dari diri kita sendiri. Yang terlena dengan kenikmatan dunia yang ‎sesaat dan fana, melupakan kenikmatan yang abadi dan hakiki.‎

Risiko perjuangan ini tidak bisa kita diremehkan. Apakah ia bernama ‘kehilangan; teman, ‎keluarga, jabatan, kesenangan, juga kesenangan dunia, atau ia bernama peperangan batin karena ‎perbedaan antara harapan dan kenyataan yang sangat jauh. Belum lagi dengan godaan duniawi ‎yang sangat dahsyat dan menggiurkan mengepung seluruh penjuru angin. Melahap habis ‎keyakinan dan keimanan dan hanya menyisakan hamba-hamba dunia yang hina dan ‎menyesatkan. ‎

Saudaraku, Istiqamah kepada Allah Ta’ala ditempuh dengan cara: selalu mentauhidkan-Nya, ‎menolak selain-Nya, dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya, senantiasa bertawakal dengan ‎sebenar-benarnya dan berserah diri kepada-Nya dalam semua urusan. Selalu membasahi hati dan ‎lisannya dengan dzikir kepada-Nya di manapun dan kapanpun. Semuanya itu adalah salah satu ‎metode jitu dalam mengemban dakwah ini.

Saudaraku, sudah menjadi syarat, agama akan terwujud melalui pengorbanan, hidayah akan ‎datang ‎dalam diri kita melaului pengorbanan, agama akan tersebar, hidayah akan tersebar ke ‎ujung-ujung dunia melului pengorbanan.‎ Oleh sebab itu kerahkanlah pengorbanan kita untuk ‎agama ini. Wallahu ‘alam

Penulis : Ibnu Jihad

Editor   : Ibnu Alatas