Mengenal Sekilas Apa Itu Tradisi Nyadran

Nyadran

An-Najah.net –Mejelang bulan Ramadhan banyak dari sebagian kaum Muslimin khususnya Jawa. Melakukan tradisi Nyadran di bulan Sya’ban (Ruwah). Dengan melakukan tradisi yang mereka yakini berasal dari nenek moyang mereka.

Nyadran Berasal dari bahasa Sanskerta, yang artinya keyakinan. Nyadran adalah serangkaian upacara budaya yang berupa pembersihkan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. (https://id.wikipedia.org/wiki/Nyadran)

Nyadran adalah keyakinan, dan dalam ajaran Hindu mereka mendasari keyakinannya yang berjumlah lima dengan Panca Sradha. Panca Sradha itu meliputi: 1) Brahman — Widhi Tattwa, keyakinan terhadap Tuhan. 2) Atman — Atma Tattwa, keyakinan terhadap Atman. 3) Karmaphala — Karmaphala Tattwa, keyakinan pada Karmaphala (hukum sebab-akibat). 4) Punarbhawa — Keyakinan pada kelahiran kembali. 5) Moksha — Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman. (https://id.wikipedia.org/wiki/Sradha)

Keyakinan Adat Nenenk Moyang

Sebelum diadakanya upacara Nyadran, ada sebagian masyarakat menyelenggarakan upacara Punggahan terlebih dahulu. Yang kriterianya harus sesuai dengan peraturan adat yang berlaku. Biasanya untuk upacara punggahan jatuh pada tanggal 1-14 Sya’ban (Ruwah)  dan diselenggarakan pada malam hari.

Upacara punggahan sendiri berasal dari kata munggah (naik) yakni orang mati dinaikan dai alam kubur. Pada waktu itulah para masyarakat percaya bahwa arwah-arwah yang dinaikan dan diistirahatkan sampai bulan Ramadhan nanti habis. Dimana bulan sebelumnya para arwah mendapat balasan terhada perbuatanya dimasa hidupnya dan setelah mereka melakukan sedekah unggahan ini mereka berkeyakinan arwah-arwah nenek moyang mereka telah dianggkat ke atas dan di istirahatkan atas balasannya yang mereka perbuat di dunia.

Setelah Punggahan selesai dilaksanakan, mereka melanjutkan upacara Nyadran yang berlangsung selama 2 Hari pada tanggal 15 – 16 Sya’ban. Sebagian kaum jawa menjelaskan bahwa Nyadran berasal dari kata sodrun yang artinya dada, yakni melapangkan dada, dengan makna orang orang yang hidup nantinya akan mati. Adapun waktu pelaksanaannya yaitu pada sore hari sampai siang hari di area kuburan.

Dalam pelaksanaannya Nyadran dilakukan 2 kali, yakni sore dan pagi. Yang pertama dilakukan pada sore hari sekitar pukul 20.00 WIB pada tanggal 15 Sya’ban. Nyadran yang pertama ini dilakukan oleh laki-laki saja sedangkan wanita menyiapkan makanan untuk esokan harinya. Dalam acara yang pertama nyadran diisi dengan melakukan dzikir tahlil yang nantinya dilanjutkan dengan pengajian. Adapun tempat untuk pelaksanaanya dilakukan di area dalam makam.

Kemudian hari kedua, tradisi Nyadran digelar sekitar pukul 08.00 WIB tepatnya tanggal 16 Sya’ban. Di hari kedua ini semua warga baik laki-laki atau perempuan berkumpul di area makam, dengan membawa Nasi Tumpeng beserta lauk pauknya dan buah-buahan yang nantinya akan digunakan untuk kenduren (slametan).58 Sebelum kenduren (Slametan) warga membaca dzikir tahlil dan pengajian. Setelah dilakukannya do’a bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Makanan yang tadi dibawa masing-masing keluarga dikumpulkan dan dido’akan oleh tokoh adat. Warga desa biasanya menyebutnya dengan kondangan. Setelah selesai warga bebas untuk mengambil makanan yang disukai, milik siapapun yang hadir. Mereka juga saling bertukar makanan.

Mereka meayakini tradisi Nyadran ini sudah ada sejak jaman nenek moyang. Dimaksudkan untuk mendoakan para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Tanpa menelusuri sejarah berdirinya tradisi ini.

Setelah selesainya Nyadran dan Punggahan, upacara selanjutnya ialah Mudunan. Menurut sebagian masyarakat Mudunan berasal dari kata mudun yang artinya turun. Mudunan ialah suatu upacara terakhir dari serangkaian Nyadran-an yang dilakukan pada bulan Syawal yang bertujuan untuk mendoakan para arwah yang tadinya di naikan dan akan diturunkan kembali supaya dialam kuburnya menjadi lapang dan mendapat ampunan dari Allah Ta’ala. Dalam upacara Mudunan biasanya disi dengan pembacaan do’a dan dilanjutkan dengan makan bersama.

Upacara ini dilaksanakan oleh semua warga desa yang besar maupun muda. Dengan membawa makanan khusus yaitu jenang abang (berarti simbol kesejahteraan), jenang putih (berarti simbol kebersihan hati), ketan (berarti simbol persatuan), dan tumpengan (tempat yang maha tinggi yaitu tempat kemuliaan Rabb Yang Maha Esa), yang dianjurkan  pada setiap keluarga. Yang bertujuan sebagai bentuk shadaqoh. (Skripsi, Istanto, Pandangan ‘Urf Terhadap Tradisi Sadranan Di Desa Karangmojo Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali, IAIN Surakarta, hal 71-74)

Penulis: Ibnu JIhad

Editor: Abu Mazaya