Menggali Budaya Bangsa Yang Terpendam

Teriakan ‘Allahu Akbar’ bung Tomo adalah yel-yel jihad
Teriakan ‘Allahu Akbar’ bung Tomo adalah yel-yel jihad

(An-najah.net) – Hari pahlawan menyisakan banyak kenangan bagi rakyat Indonesia. Banyak ragam peristiwa yang terjadi pra kemerdekaan yang patut dikenang. Tidak terkecuali bagi umat Islam Indonesia. Perjuangan rakyat Indonesia dalam mengusir penjajah Kristen Portugis-Belanda adalah sesuatu yang begitu memukau bagi rakyat Indonesia. Karena bagaimanapun, perjuangan umat Islam di Indonesia tidak bisa dinafikan.

Beragam perlawanan patriotik melawan kaum kafir , Belanda dan Portugis bangkit dari generasi Islam. Salah satu contohnya, pejuang Islam dari kerajaan Islam Demak Bintoro. Sejarah mengenalnya dengan Pangeran Sabrang Lor, Pangeran yang menyeberangi lautan sebelah utara. Bisa dikatakan beliaulah yang pertama kali mengibarkan bendera jihad melawan Portugis setelah Sultan Mahmoed, raja Aceh dikalahkan oleh Portugis (1511). Sebenarnya beliau memiliki nama yang sangat Indah, diambil dari nama salah seorang nabi Allah, Yaitu Yunus. Lengkapnya Adipati Yunus.

Berawal dari ambisi Portugis untuk menyebarkan Kristen dan keserakahan mereka ingin menguasai selat malaka. Portugis mengacaukan jalur perdagangan Demak, merampas rempah-rempah pedagang muslim yang berniaga di Malaka.

  1. Saifuddin Zuhri, dalam bukunya, “Sejarah Kebangkitan Islam” (hlm.394) menuturkan, “Sultan Demak dan para wali merasa terpanggil untuk berjihad; halus dihadapi dengan halus dan keras dihadapi dengan keras. Kalau orang-orang Portugis mengobarkan semangat perang salib, maka kesultanan Demak dan para wali mengobarkan semangat jihad, perang sabil. Kalau ‘salib’ menjadi slogan kaum sana (Portugis), maka jihad ‘sabil’ menjadi slogan kaum sini.

Menghadapi Portugis itu, orang-orang demak memandangnya sebagai suatu jihad, untuk melindungi kawan-kawannya (muslim), harta benda, agama (Islam), nyawa, kehormatan dan generasi penerusnya.”

Tujuan akhir dari jihad mereka adalah antara dua kemuliaan; kemenangan dan kebebasan menjalankan syari’at Islam atau syahid sebagai syuhada’. Rasululla saw bersabda,

(( مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قتِلَ دُونَ دِينهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ ))

“Barangsiapa yang terbunuh untuk membela hartanya ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela darah(kehormatan)nya ia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena membela diennya maka ia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena membela keluarganya maka ia syahid.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi –hasan shohih-)

Dua kali Pangeran Sabrang Lor memimpin jihad melawan Portugis dengan angkatan lautnya yang gagah perkasa. Dan pada serangan terakhir beliau syahid di laut, sebuah syahadah yang tinggi derajatnya.

Kemudian jihad melawan Belanda dilanjutkan oleh para Sultan sepeninggalan beliau rhm. Diantaranya adik kandung beliau yaitu Sultan Trenggana yang bahu membahu dengan dua ulama; Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus dalam melawan penjajah Portugis.

Para Mujahid Agung Dari Timur

Kepulauan Maluku, oleh para ahli sejarah diyakini sebagai nama yang diwariskan oleh para saudagar dari Arab yang menemukan kepulauan yang begitu indah dengan kekayaan alam yang luar biasa. Lalu mereka menyebut kepulauan ini dengan ‘maluk’ berasal dari kata ‘milkun’ artinya kepemilikan, yaitu kepulauan ini memiliki keindahan alam yang mempesona. Atau dari kata ‘mulkun/mamaluk’ artinya kepulauan itu banyak didiami raja-raja Islam yang tersebar di berbagai pelosok Maluku. Sepertinya, makna kedua ini lebih tepat karena kesesuaiannya dengan keadaan kepulaun Maluku yang hingga kini masih ada raja-raja Islam di berbagai desa Maluku.

Awal kedatangan Portugis di Maluku di sambut baik oleh Sultan Khairun dan Sultan Mansur, pemimpin Ternate dan Tidore. Karena de Mesquita sebagai Gubernur Perancis berjanji hanya untuk berdagang. Namun kenyataannya, sangat mengecewakan, Portugis ternyata membonceng para misionaris. Salah satunya Franciscus Xaverius, mereka mengkristenkan kaum muslimin dengan cara paksa. Perdagangan rempah-rempah rakyat dijarah paksa oleh Portugis. Dengan lalim mereka menghukum rakyat muslim Maluku.

Keadaan di atas membuat Sultan Khairun menyerukan jihad melawan penjajah Katolik Portugis. Pertempuranpun tidak dapat dielakkan, semua orang Kristen baik Portugis atau pribumi diusir dari kesultanan Ternate, karena telah mengkhianati perjanjian. Peristiwa ini mengingatkan pengusiran Yahudi Bani Qainuqo’ dan Nadhir oleh Rasulullah SAW, karena pengkhianatan terhadapperjanjian dengan kaum muslimin di Madinah. Sejarah terulang.

Dengan semangat jihad fi sabilillah umat Islam Maluku mampu membuat Portugis melemah. Dan Portugis meminta perundingan damai, sebuah strategi licik yang selalu dijalankan oleh orang-orang kafir ketika mereka kewalahan menghadapi kaum muslimin. Perjanjian damai diterima oleh Sultan Khairun, dengan syarat, seluruh orang Kristen harus keluar dari ternate, sekaligus tidak ada lagi kegiatan Kristenisasi di Ternate.

Namun pengkhianatan kafir Portugis terulang. Saat resepsi peresmian perjanjian ini yang diadakan di rumah kediaman Gubernur de Mesquita, seorang opsir Portugis menikam Sultan Khairun dari belakang yang menyebabkan beliau gugur, berikut beberapa pengawal yang beliau bawa, hanya sedikit yang mampu melarikan diri. Karena, memang saat itu mereka sedang lengah tidak ada persiapan perang. Inilah kelicikan orang-orang kafir, dan akan senatiasa terwariskan hingga akhir zaman.

Mereka lengah, tidak selalu bersiap-siaga. Padahal Allah telah memerintahkan untuk senantiasa waspada dari tipu daya orang-orang kafir,

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُمْ مَيْلَةً وَاحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ كَانَ بِكُمْ أَذًى مِنْ مَطَرٍ أَوْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَنْ تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ

“Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu semua.” (Q.S: An-Nisa’: 102)

Jihad, Cinta Mati Syahid dan Al-Wala’ wal Baro’

Jihad melawan penjajah dilanjutkan oleh putra beliau Sultan Babullah. Beliau menyentakkan pedang pusaka warisan ayahnya dan mengambil baiat (sumpah setia) dari umat Islam Ternate, untuk berjihad. “Seluruh rakyat yang hadir dalam pelantikan Sultan ini, menyatakan kesetiaannya (bai’ah) dengan penuh ruhul jihad dan mati syahid.” Tulis sejarawan Islam, Abdul Qadir, mantan anggota DPR RI dalam ‘Perang Sabil Versus Perang Salib’ (hlm. 3).

Pasukan Islam Ternate mulai menyerang Portugis-Katolik dan Raja Bacan yang telah memberikan wala’nya (loyalnya) kepada Portugis. Walau pernah ada hubungan kerabat dengan raja Bacan, Sultan Babullah tetap memasukkan raja Bacan dalam barisan musuh, karena ia telah berpihak kepada tentara kafir, Portugis. Inilah tuntutan iman (al-wala’ wal baro’) sesungguhnya

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

Ketika Jihad, cinta mati syahid dan aqidah al-Wala’ wal Baro’ melekat dalam hati seorang pejuang, kemenangan dari Allah segera terwujud. Sejarawan Abdul Qadir bersaksi, “Berkat semangat mati syahid, pasukan Islam ternate berhasil membakar benteng pertahanan Portugis di Ambon. Dan umat kristiani Ambon yang panic, takut disembelih pasukan Islam, dijamin keamanannya oleh Sultan Babullah, diampuni, tidak dipaksa masuk Islam, asalkan mereka sudi hidup damai dibawah bimbingan Kesultanan Islam Ternate.”

Sedangkan tentara dan misionaris Portugis yang terjebak di benteng Portugis Ternate, tidak berani keluar, penyakit dan kelaparan menimpa mereka. Sultan Babullah pun menjanjikan bantuan dan kebebasan bagi mereka dengan syarat, mereka mengakui kekalahannya, menyerahkan Gubernur de Mesquita ke pasukan Islam, untuk di qishosh.

Akhirnya 1575 M, tentara Portugis menyerahkan diri ke pasukan Islam Ternate. Dan berkibarlah bendera Islam di benteng itu selama-lamanya menggantikan bendera Portugis.

Demikianlah, jihad, cinta mati syahid dan al-Wala’ wal Baro’ telah menjadi budaya yang mendarah daging dalam tubuh pejuang Islam sejak dulu kala. Menghapus ketiga perkara ini, sama halnya menggilas budaya bangsa ini dan mencabut semangat anti penjajahannya.

Amirul Mukminin, dan Syari’at Islam

Masih di Daerah Timur, seorang pejuang Islam muncul menyatukan Sultan-Sultan Makasar dan Bugis dibawah panji-panji Islam, dengan menerapkan syari’at Islam secara penuh. Kesatuan ini menumbuhkan kekuatan maritim yang menyaingi kekuatan Belanda. Tentu hal ini membuat Belanda menyulut peperangan dengan Sultan Hasanuddin.

Pada tahun 1633 pasukan Kristen Belanda mengepung pelabuhan Belanda dengan jalan blokade dan sabotase. Namun kecintaan terhadap jihad telah melahirkan kekuatan luar biasa dalam jiwa muslim Makasar, sehingga dengan mudah mematahkan blokade Belanda. Hal ini memaksa Belanda untuk meminta perdamaian dengan Sultan Hasanuddin.

Namun pada tahun 1654 Belanda berkhianat, kembali mengerahkan armada yang sangat besar untuk menyerang Makasar. Tetapi untuk kedua kalinya pasukan Islam berhasil memukul mundur armada Kristen-Belanda.

Lalu Belanda membujuk beberapa Sultan untuk bekerja sama, Gubernur Jenderal Brouwer berhasil membujuk Sultan Bugis Aru Palaka untuk sama-sama menyerang Sultan Hasanudin, dengan imbalan Aru Palaka akan diangkat menjadi Sultan Bugis di Bone secara penuh dan bersahabat hanya dengan Belanda. Tentang jalannya peperangan ini, sejarawan Abdul Qadir bertutur,

“Pada tahun 1666 armada laut Belanda yang berkekuatan 20 buah kapal dengan prajurit
600 orang, dibawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman menyerang pasukan
Makasar dari laut dan pasukan Aru Palaka Bone yang dipersenjatai oleh Belanda
menyerang dari arah darat melalui Sopeng. Menghadapi serangan dari dua jurusan
pasukan Sultan Hasanuddin bertekad bulat untuk mati syahid, mempertahankan Islam
dan kehormatan kaum muslimin. Pertempuran dahsyat terjadi, perang tanding antara
pasukan Makasar dengan pasukan Aru Palaka berjalan sangat mengerikan dan pasukan
Belanda secara gencar menembakkan meriam-meriamnya dari laut, sehingga korban
berjatuhan tak terhingga banyaknya, terutama di pihak pasukan Makasar.

Dalam kondisi yang demikian, Sultan Hasanuddin mengundurkan pasukannya sambil
melakukan konsolidasi yang lebih baik. Setelah konsolidasi dilakukan, pertempuran
dimulai lagi dengan penuh semangat mati syahid. Tetapi karena kekuatan tak seimbang,
baik dalam bentuk jumlah pasukan maupun persenjataan, akhirnya pada tahun 1667
menyerahlah Sultan Hasanuddin. Penyerahan Sultan ini tertuang dalam “Perjanjian
Bongaya”

Menurut sejarawan Nabilah Lubis, dampak dari perjanjian Bongaya adalah syari’at Islam tidak berlaku lagi dikalangan masyarakat Sulawesi Selatan, dan dikembangkan lagi maksiat, seperti; judi, sabung ayam, minuman keras ballo, madat dan pemujaan berhala.

Kekalahan umat Islam di Makasar ini mengakibatkan sebagian panglimanya memilih hijrah dan bergabung dengan pejuang Islam di Jawa. Misalnya, Kraeng Galesung bergabung dengan Trunojoyo di Jawa Timur, ulama sekaligus panglima Syaikh Yusuf bergabung dengan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten, untuk melawan Belanda. Syaikh Yusuf diambil menantu sekaligus diangkat sebagai mufti oleh Sultan Ageng.

Jihad melawan Belanda berawal dari perampokan kapal-kapal Banten yang pulang dari perniagaan oleh Belanda. Perang pun tidak bisa dihindari, Belanda yang dibantu oleh Sultan Haji, putra Sultan Ageng yang berkhianat diserang oleh pasukan Islam dibawah pimpinan Sultan Ageng.

Walau Sultan Haji darah dagingnya, ia tetap dimasukan sebagai musuh karena telah berwala’ (loyal) kepada orang-orang kafir Belanda. Di sinilah nilai aqidah tertanam kuat dalam setiap pasukan Islam Banten, bahwa siapa saja yang loyal kepada orang kafir, maka ia dihukumi/diperangi sebagaimana orang kafir.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (al-Maidah:51)

Jihad melawan penjajah kafir-Belanda di Banten sangat lama, dan sangat merugikan pihak Belanda. Walau pada akhirnya Belanda berhasil memadamkan jihad ini, namun setidaknya para pahlawan Banten menegaskan bahwa jihad dan al-Wala’ wal Baro’ adalah ideology dan budaya mereka.

Jihad Amirul Mukminin Diponegoro

Diwaktu yang hampir bersamaan dengan jihad rakyat Banten, di Jawa dan Yogyakarta juga berlangsung jihad yang dipimpin oleh seorang Pangeran soleh, santri militant, yang mendapat gelar, Sultan Abdul hamid Herucokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatullah tanah Jawi.

Beliau bersama bersama ulama seperti kiyai mojo….

Kiyai Mojo, oleh KH Syaifuddin Zuhri diyakini sebagai penasehat Diponegoro sekaligus inspirator jihad fie sabilillah. Bersana anaknya, Kiyai Gazali dan santri-santrinya beliau bergabu
ng dnegan pasukan Pangeran Diponegoro berjihad melawan Belanda.

Salah satu tujuan jihad diponegoro adalalah menegakkan syari’at Islam, ini dapat diketahui dari syarat perdamaian yang diajukan oleh Diponegoro kepada Jenderal De Kock, yaitu, “Mendirikan Negara Merdeka dibawah pimpinan Sultan Khalifatullah Amirul Mukminin Yang Disamping sebagai Kepala Pemerintah juga Pengatur Agama Islam di pulau Jawa.”

Sejarawan Belanda, Louw, P.J.F, dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, mengisahkan pribadi Pangeran Diponegoro, “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”

Turut serta berjihad bersama Diponegoro, seorang pemuda bangsawan masih keturunan kraton Jogaj, Ali Basah Abdul Musthofa, dalam sejarah dikenal dengan Sento Ali Basya. Basya, menurut sebagian sejarawan, diambil dari kata ‘Pasya’ sebuah gelar perwira dari Khilafah Islam Turki Utsmani.

Perang sabil yang diserukan oleh Pangeran Diponegoro, dimulai dari desa Tegal Rejo, semua ulama, santri dan rakyat bergabung bersama beliau, diantaranya Kiyai Mojo, putranya Kiyai Gazali dari Solo, Pangeran Abu Bakar yang memimpin ulama dan santri dari Kedu, Muhammad Bahri penghulu Tegal Rejo. Diponegoro meminta mereka untuk berbai’at (janji setia). (Perang Sabil Vs Perang Salib, hlm. 16)

Walau sang Imam telah ditangkap Belanda pada tanggal, 28 Maret 1830 jihad di Jawa tetap berlangsung dibawa pimpinan para alim ulama dan panglima-panglima pasukan Islam Diponegoro yang menolak menyerah kepada Belanda.

Ulama-Ulama Mujahid

Bersamaan dengan jihad diponegoro juga berlangsung jihad melawan Belanda di Sumatera Barat yang dipimpin oleh ulama karismatik, Haji Miskin. Awalnya beliau berdakwah menyebarkan tauhid, namun mendapat penentangan dari kaum adat. Sehingga beliau hijrah ke Ampat Angkat. Di sini beliau mendapat sahabat dan dukungan dari para pemuka kampong. Lalu beliau mengambil bai’ah dari tujuh ulama dan tokoh yang mendukung beliau untuk bahu membahu menyebarkan dakwah tauhid. Jadi jumlah mereka semuanya menjadi delapan orang, sehingga gerakan yang telah berbai’at ini dinamakan, ‘Harimau Nan Sanalapan’.

Dalam Perang Sabil VS Perang Salib disebutkan, mula-mula mereka berpikir untuk bisa melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni. Untuk itu tidak ada alternatif lain kecuali dengan kekuasaan politik. Sejak saat itu gerakan mereka bukan saja gerakan dakwah, tapi juga politik.

Setelah menguasai beberapa daerah, kaum padre sebutan lain bagi pengikut Harimau Nan Sanalapan, membentuk mahkamah syar’ie dan mengangkat imam yang bertugas untuk memimpin sholat, puasa dan ibadah-ibadah mahdoh lainnya. Juga mengangkat Qodhi, yang bertugas untuk melancarkan pelaksanakan mahkamah Islam.

Dari sekian santri Padri, terdapat seorang santri yang pemberani, cerdas dan sholeh, beliau adalah Muhammad Syahab yang dikemudian hari dikenal dengan Tuanku Imam Bonjol. Beliaulah yang mengobarkan jihad melawan pasukan salib Belanda.

Dibalik Perjuangan Indonesia

Realitas sejarah diatas menegaskan bahwa, jihad, syari’at Islam dan al-wala’ wal baro’ adalah budaya leluhur bangsa Indonesia. Masih banyak corak perjuangan indonesia yang dibangkitkan atas dasar jihad fie sabilillah, misalnya perang Aceh yang dikenal dengan perang sabil. Kurang lebih 40 tahun perang fi sabilillah dikobarkan oleh para mujahid dan mujahidah Aceh.

Tengku Umar, Tengku Cik Di Tiro, Cut Meutia, Cun Nyak Din. Perang Aceh termasuk medan yang sangat menerikan bagi Belanda. Perlawanan ini dipimpin oleh para alim ulama dan para Sultan. Hampir tiap malam, markas, pasukan patrol dan pos penjaga Belanda di Ambus oleh tentara Islam Aceh. Keberanian dan kecakapan umat Islam Aceh melawan Belanda yang kala itu termasuk memiliki perlengkapan tempur yang mutakhir, tidak lepas dari keyakinan mereka bahwa itu adalah jihad dan yang meninggal adalah syahid. Karena mereka meyakini bahwa perang itu adalah melawan kape’-kape’ (kafir-kafir) Belanda.

Sejarawan Ahmad Mansur Surya Negara dalam ‘Api Sejarah’(1/183), menukil pengakuan M.C Rifleks –sejarawan Belanda-, bahwa sebab kesulitan Belanda memadamkan perang Jawa, seperti Trunojoyo, adalah karena keyakinan kuat yang mengakar pada muslimin Jawa, bahwa tanah Jawa tidak akan diberkahi oleh Allah swt selama orang beragama Kristen tinggal di tanah Jawa.

Semangat jihad dan syari’at Islam dapat dilihat pada perang Banjar di Kalimantan. Pada tahun 1859, umat Islam Banjar yang dipimpin oleh seorang santri militant, Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat.

Pada pertama kalinya, Pangeran Hidayat masih ragu untuk ikut serta dalam perjuangan melawan Belanda. Menurut beliau, itu adalah sebuah pemberontakan, menumpahkan darah rakyat sia-sia. Namun setelah dijelaskan oleh Pangeran Antasari dalam dialoga panjang bahwa itu adalah jihad membebaskan rakyat Banjar dari penjajah kafir, akhirnya Pangeran Hidayat terbuka hatinya.

“Adapun pertumpahan darah yang kau khawatirkan itu sebenarnya belum terjadi. Agama kita membenarkan peperangan ini sebagai perang Sabil. Dan kematian yang menjadi resiko perjuangan ini adalah tidak sia-sia, ini mati syahid. Kita hidup untuk Allah dan mati untuk Allah.” Tegas Sultan Antasari meyakinkan Pangeran Hidayat.

Dan tahun 1860 jihad di Banjar bergelora, dipimpin langsung oleh dua Pangeran Putra Mahkota Banjar. Bersama ulama lainnya seperti, Haji Buyasin, dan Pangeran Amrullah, umat Islam menyerang markas-markas kafir Belanda.

Tahun 1862 secara resmi Pangeran Antasari diangkat sebagai, ‘Amiruddin Khalifatul Mukminin’. Dan menjadikan ‘Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah’ sebagai perjuangannya. Ayat 162 surat al-An’am benar dipahami dan dilaksanakan dengan baik oleh Pangeran Antasari, yaitu;

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Sejarawan Islam, Abdul Qadir menyimpulkan perang Banjar, Perang Banjar dari 1859 hingga 1905, jelas sekali landasan ideologi yang mereka perjuangkan adalah Islam, dengan semboyan, ‘Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah’. Dengan jalan perang sabil, dibawah pimpinan seorang Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Dengan kata lain perang Banjar adalah perang untuk menegakkan Negara Islam yang utuh.

Bahkan sepuluh November pun tidak lepas dari nilai jihad fi sabilillah. Teriakan ‘Allahu Akbar’ bung Tomo adalah yel-yel jihad, sepertinya beliau menyadari bahwa jalan untuk memerdekan Indonesia dari kafir-kafir penjajah adalah dengan jihad, bukan dengan yang lain. Ini dibuktikan, bahwa beliau tidak pernah meneriakkan ‘Yesus, Amintaba, Pancasila apalagi Haleloya.” * (Akrom/anwar/annajah edisi 74)