Browse By

Menghadapi Ujian dengan Keimanan

Menghadapi Ujian dengan Keimanan

Menghadapi Ujian dengan Keimanan

An-Najah.net – Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah ta’ala

Segala puji hanya milik Allah yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua. Baik berupa kesehatan, kesempatan, nikmat iman serta Islam. Sehingga kita dapat bersama-sama melaksanakan shalat Jumat pada siang hari ini.

Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Tak seorangpun bisa menjamin dirinya tetap berada dalam keimanan hingga meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Karena iman manusia itu dinamis, bisa bertambah, berkurang atau malah hilang sama sekali. Karena itu, kita perlu berusaha merawat dan menguatkan keimanan kita.

Tema tentang keteguhan iman sangat penting dibahas, terutama karena kita hidup di zaman penuh fitnah syahwat dan syubhat. Untuk menghadapi fitnah-fitnah itu, kita membutuhkan iman yang kuat. Bahkan melebihi kebutuhan generasi pendahulu kita.

Lantaran kerusakan hari ini telah merata di segala bidang. Bahkan, segala kerusakan tersebut sudah dianggap sebagai hal yang umum dan lumrah.

Sekarang ini ada banyak orang yang tidak menganggap penting urusan agama. Mereka rela menjual akidah hanya karena urusan makan. Hanya karena urusan pekerjaan, seorang bapak merelakan anak perempuannya melepas jilbab.

Pembahasan masalah tsabat atau keteguhan iman juga berkaitan erat dengan masalah hati. Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا سُمِّيَ الْقَلْبُ مِنْ تَقَلُّبِهِ ، إِنَّمَا مَثَلُ الْقَلْبِ كَمَثَلِ رِيشَةٍ مُعَلَّقَةٍ فِي أَصْلِ شَجَرَةٍ يُقَلِّبُهَا الرِّيحُ ظَهْرًا لِبَطْنٍ

“Dinamakan hati karena ia (selalu) berbolak-balik. Perumpamaan hati itu bagaikan bulu yang ada di pucuk pohon yang diombang-ambingkan oleh angin.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ no. 2361)

Kiat-kiat menguatkan iman

Mengukuhkan hati yang senantiasa fluktuatif itu membutuhkan usaha keras. Ada beberapa tips yang kita lakukan agar iman tetap kuat dalam hati.

Tips ini di jelaskan oleh syaikh Shalih al-Munajjid dalam buku beliau Wasailu As Tsabat ‘Ala Dinillah [Sarana Istiqamah di atas Din Allah] dengan panjang lebar. Karena keterbatasan waktu, kami akan sebutkan poin terpenting saja dengan ringkas.

Pertama: Akrab dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan petunjuk utama mencapai tsabat. Al-Qur’an adalah tali penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Siapa akrab dan berpegang teguh dengan Al-Qur’an, Allah Akan memeliharanya.

Siapa mengikuti Al-Qur’an, niscaya Allah menyelamatkannya. Siapa yang mendakwahkan Al-Qur’an, niscaya Allah menunjukinya ke jalan yang lurus. Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

“Orang-orang kafir berkata, mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami teguhkan hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS. Al Furqan: 32)

Alasan mengapa Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber utama mencapai tsabat antara lain:

Pertama, Al-Qur’an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, karena melalui Al-Qur’an, hubungan kepada Allah menjadi sangat dekat.

Kedua, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan sebagai penentram, penyejuk dan penyelamat hati orang beriman sekaligus benteng dari berbagai badai fitnah.

Ketiga, Al-Qur’an menunjukkan konsepsi serta nilai-nilai yang terjamin kebenarannya. Karena itu, seorang mukmin akan menjadikan Al-Qur’an sebagai ukuran kebenaran.

Keempat, Al-Qur’an menjawab berbagai tuduhan orang-orang kafir, munafik dan musuh Islam lainnya.
Banyak manusia yang mencari ketenangan, keistiqamahan dan ketentraman jiwa.

Tapi jarang yang mendekatkan diri dengan Al-Qur’an. Tidak mau menghafalnya, memahami maknanya dan bahkan malas membacanya. Membaca Al-Qur’an belum sampai tuntas satu halaman, tapi mata sudah terasa berat.

Jika membaca saja sudah berat, mengkaji isinya jadi lebih berat lagi. Padahal ketenangan dan ketentraman hanya didapat dengan mendekatkan diri kepada Allah lewat Al-Qur’an.

Kedua: Iltizam (komitmen) terhadap syari’at Allah.

Allah ta’ala berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّـهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّـهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akherat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim. Dan Allah berbuat apa saja yang Ia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27).

Imam Qatadah menjelaskan maksud ayat di atas dengan, “Adapun dalam kehidupan di dunia, Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal shalih sedang yang dimaksud dengan kehidupan akhirat adalah alam kubur.” (Ibnu Katsir: IV/421).

Maka jelas sekali, sangat mustahil orang-orang yang malas berbuat kebaikan dan amal shalih memiliki keteguhan iman. Karena itu, Nabi SAW mengajarkan untuk melakukan amal shalih secara kontinyu, sekalipun amalan itu sedikit.

Demikian pula para sahabat. Mereka berkomitmen menjalankan syariat Islam, hingga mereka menjadi pribadi yang tangguh dan memiliki keimanan yang teguh.

Ketiga: Mempelajari Kisah Para Nabi.

Mempelajari kisah dan sejarah itu penting. Khususnya sejarah perjuangan para Nabi. Menyimak kisah mereka bisa menguatkan iman sebagaimana firman Allah pada ayat berikut:

كُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَـٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami ceritakan kepadamu kisah-kisah para rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran , pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud: 120)

Sebagai contoh, marilah kita renungkan kisah Ibrahim yang tetap tegar menghadapi penentanan kaumnya. Mereka mengancam membakar tubuhnya hingga menjadi abu. Namun, Allah ubah api yang panas menjadi dingin, sehingga nabi Ibrahim selamat dari makar-makar mereka.

Allah berfirman yang artinya:
“Mereka berkata, bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman, hai api menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim. Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim maka Kami jadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.” (Al Anbiya’: 68-70).

Bukankah hati kita akan bergetar saat merenungi kronologi pembakaran nabi Ibrahim sehingga ia selamat atas izin Allah. Bukankah dengan demikian akan membuahkan keteguhan iman kita?

Lalu, kisah nabi Musa yang tegar menghadapi kezaliman Fir’aun demi menegakkan agama Allah. Bukankah kisah itu mengingatkan kekerdilan jiwa kita dibanding dengan nabi Musa?

Bukankah dengan mempelajari kisah-kisah Nabi yang penuh dengan perjuangan menegakkan dan meneguhkan iman itu kita malu kepada diri sendiri dan kepada Allah? Kita mengharap Surga tetapi banyak hal dari perilaku kita yang menjauhinya. Mudah-mudahan Allah menunjuki kita ke jalan yang diridhai-Nya.

Keempat: Berdo’a.

Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah mereka memohon kepada Allah agar diberi keteguhan iman. Seperti do’a yang tertulis dalam firmanNya:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (Ali Imran: 8).

Agar hati tetap teguh maka Rasulullah SAW banyak memanjatkan doa berikut ini terutama pada waktu duduk takhiyat akhir dalam shalat.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“Wahai (Allah) yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada din-Mu.” (HR. Turmudzi)

Banyak lagi doa-doa lain tuntunan Nabi SAW agar kita mendapat keteguhan iman. Mudah-mudahan kita senantiasa tergerak untuk berdoa utamanya agar iman kita diteguhkan saat menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Sidang shalat Jumat yang berbahagia

Itulah beberapa tips untuk menguatkan keimanan. Kita memohon pada Allah Ta’ala untuk dimudahkan dalam menjalaninya. Kita juga berdo’a agar dijauhkan dari hal-hal yang menjadikan rusaknya keimanan. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah Ta’ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 125 Rubrik Kutbah Jum’ah

Penulis : Amru

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *