Kejayaan Islam di Andalusia (Spanyol)

Mengingat Sejarah, Mengembalikan Kemuliaan Islam

An-Najah.net – Islam dianggap sebagai agama yang ketinggalan zaman. Ada sebuah ungkapan, “Islam just for the past” (Islam hanya baik untuk zaman dahulu). Dan ternyata pemahaman seperti ini tidak hanya berada di kalangan orang-orang barat, yang sejatinya adalah musuh Islam dan mengharapkan kehancurannya. Tapi juga mempengaruhi pemikiran umat islam sendiri. Contoh nyata adalah JIL, mereka selalu menjadikan syariat Islam sebagai objek kritik studinya.

Mereka beranggapan bahwa syariah Islam yang berasaskan Al-qur’an dan As-sunnah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Secara implisit anggapan mereka bermakna, agama islam hanya bisa menjadi problem solving bagi masyarakat lampau, tidak untuk problem masyarakat modern.

Propaganda orang-orang barat menuai hasil yang cukup gemilang. Issu-issu menyimpang yang mereka lontarkan dan distorsi sejarah yang mereka lakukan, menjadikan umat Islam kehilangan moralnya.

Keadaan ini bertambah parah dengan disilaukannya umat Islam dengan pencapaian-pencapaian dunia barat dalam bidang sains dan tekhnologi. Kepercayaan diri umat Islam turun drastis. Merasa tidak mampu lagi untuk bersaing dengan dunia barat yang selalu ramai dengan perkembangan-perkembangan teknologi. Mereka lupa dengan ayat Allah,

كنتم خير أمة أخرجت للناس …

Artinya : “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia…” (QS. Ali Imran : 110)

Sampai-sampai muncul anggapan di benak kaum muslimin yang lemah iman, bahwa jika ingin maju maka tinggalkanlah Islam.

Umat Islam hari ini lupa dengan apa yang telah dicapai para pendahulu mereka. Seandainya mereka meluangkan sedikit waktu untuk menelusuri lintasan sejarah yang pernah dilalui kaum muslimin pada kisaran abad ke-10 M, mereka akan menemukan banyak fakta yang menakjubkan. Para saintis muslim melahirkan teori-teori baru tentang sains dan menghasilkan tekhnologi-tekhnologi super canggih pada masanya.

Hanya saja kaum muslimin hari ini lebih kagum dengan perkembangan tekhnologi dunia barat, padahal era Renaissansi baru lahir di dunia barat setelah mereka mengkaji peradaban dan kebudayaan muslim. Adalah Andalusia (Toledo) yang menjadi saksi bisu puncak kegiatan penterjemahan buku-buku berbahasa arab ke bahasa latin.

Distorsi Sejarah, Runtuhkan Moral Ummat

Perlu kita ketahui, bahwa salah satu cara untuk menjadikan umat islam tetap terpuruk adalah dengan cara menurunkan tingkat moral umat Islam ke titik terendah. Dan untuk mewujudkan rencana tersebut mereka mengaburkan fakta yang sebenarnya tentang umat Islam di masa lalu.

Dunia sains barat mendengungkan nama-nama orang kristen Eropa sebagai penemu berbagai teori sains dan tekhnologi di masa lalu. Albert Einstein misalnya, ia dinobatkan sebagai penemu teori relativitas pada tahun 1905 M. Sampai detik ini dunia masih mempercayai informasi itu. Realitanya, pada abad ke-8 M, sekitar 1.100 tahun sebelum Eistein menemukannya, ilmuwan muslim yang memiliki sebutan Al-kindi telah mencetuskan teori relativitas.

Fakta lain adalah, dunia kedokteran barat mengklaim sebagai perintis di bidang anestesia atau pembiusan. Mereka menyebut Oliver Wendel Holmes Sr sebagai dokter pertama di dunia yang memperkenalkan istilah Anestesia. Klaim tersebut tentu sangat ahistoris. Ratusan tahun sebelum Holmes mengenal Anestesia tahun 1846, dunia kedokteran Islam telah mengenal dan mengembangkan anestesia. Sembilan abad sebelum Holmes lahir, para dokter muslim terkemuka, seperti Ibnu Sina, Al-Zahrawi, Ibnu Zuhr, dan Ibnu Al-nafis telah sukses melakukan operasi pembedahan.

Sekali lagi, distorsi sejarah yang mereka lakukan adalah sebagai propaganda menenggelamkan kejayaan umat Islam. Supaya umat islam tidak lagi memiliki cita-cita untuk bersaing kepada mereka di dunia sains dan tekhnologi, terlebih untuk mengambil alih peranan di dunia.

Becik ketitik, olo ketoro, begitu kata orang jawa. Sebaik apa pun menyimpan keburukan, pasti akan ketahuan. Kebohongan pasti akan terkuak. Dan begitulah kenyataannya. Pena-pena sejarah selalu aktif menuliskan berbagai fakta yang sebenarnya. Tinta sejarah telah mencatat apa yang dicapai umat Islam pada abad pertengahan. Mereka tidak bisa mengaburkan fakta yang sebenarnya. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa karya-karya tulis ilmuwan muslim telah menjadi basis yang dominan dalam perkembangan ilmu pengetahuan di barat. Bahkan buku-buku itulah yang menjadi pemicu munculnya era Renaissansi.

Sungguh para saintis muslim yang hidup di bawah naungan dua kerajaan besar – Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Sapanyol – telah memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan sains modern. Inovasi-inovasi dan terobosan-terobosan di berbagai bidang ilmu pengetahuan bermunculan di dua kerajaan tersebut. Dari lensa optik sampai observatorium raksasa, dari jam mekanik sampai kompas penunjuk arah, dan dari toeri relitivitasnya Al-Kindi sampai teori gaya gravitasinya Al-Khazini.

Islam vs Barat

Hari ini dunia barat selalu menjadi acuan dan rujukan. Dunia selalu bercermin pada barat di segala aspeknya. Dari ilmu pengetahuan, pendidikan, tekhnologi, mode pakaian, gaya rambut, hingga cara berpikir.

Itu belum seberapa dibandingkan manusia-manusia yang tergila-gila dengan para artis hollywood. Sangking gilanya, gara-gara berpapasan dengan turis eropa atau amerika di tengah jalan, mereka langsung mengajak foto bersama. Ini menunjukka betapa rendahnya moral umat Islam hari ini, terkhusus di Indonesia.

Umat Islam hari ini tidak lagi bangga dengan ke-islamannya. Mereka lebih bangga dengan trend dunia barat. Ada yang salah dengan diri umat Islam. Seharusnya umat Islam bangga dan yakin dengan Islam dan berbagai konsepnya. Seperti sains misalnya, orang-orang barat harus melepaskan dogma agamanya untuk bisa berkembang di dunia sains dan tekhnologi. Mereka memisahkan antara ajaran ke-kristenan dengan ilmu pengetahuan.

Sedangkan Islam tidak demikian. Para ilmuwan muslim di abad pertengahan berhasil mengembangkan teori sains dan tekhnologi tanpa harus meninggalkan ajaran Islam, karena ilmu pengetahuan adalah bagian dari Islam. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang ilmu pengetahuan, dari mulai teori penciptaan alam semesta, penciptaan manusia, hingga garis edar planet.

Selain sains dan Islam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, peradaban Islam pernah menjadi trend kehidupan dunia. Semua bercermin kepada kebudayaan Islam. Maryam Jameela menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Islam And Western Society”, “Ketika kekuatan kaum muslimin mendominasi spanyol, orang-orang kristen spanyol mengadopsi bahasa arab, pakaian, dan gaya hidup orang-orang Islam.”

Di lain buku disebutkan, bahwa orang-orang kristen eropa lebih akrab dengan bahasa arab dari pada dengan bahasa mereka sendiri. Mereka lebih bangga dengan puisi-puisi berbahasa arab dari pada bahasa latin. Sampai-sampai, ketika seseorang ingin memberikan hadiah kepada orang lain, mereka ungkapkan kata-kata “selamat” itu dalam bahasa arab.

Selain pakaian dan bahasa, ternyata corak arsitektur bangunan Islam di Andalusia juga digandrungi oleh dunia kristen barat. Bentuk kubah yang melengkung dan gaya bangunan moorish yang penuh dengan dekorasi kaligrafi, diadopsi untuk pembangunan Kathedral yang berada di Durham pada tahun 1093 M dan Kathedral yang berada di Norwich pada tahun 1119 M.

Tidak hanya itu, sebuah pengakuan juga keluar dari seorang raja inggris yang tertulis dalam secarik surat teruntuk kerajaan Cordoba, “Kami telah mendengar kemajuan ilmu dan industri di Negara paduka yang mulia. Karenanya kami bermaksud mengirim putera-puteri terbaik kami untuk menimba ilmu di Negara Paduka Yang Mulia agar ilmu pengetahuan tersebar ke negeri kami yang dikelilingi kebodohan dari empat penjuru.”

Apa yang harus kita perbuat?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus yakin dan bangga dengan ke-islaman kita terlebih dahulu. Abaikan saja ocehan orang-orang JIL dan para orientalis yang menyatakan, bahwa islam sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman. Bukan hanya kita, tapi umat islam keseluruhan. Bangkitkan moral umat. Kita perbaiki bersama moral umat yang tengah merosot. Yakinkan kepada umat bahwa kita bisa maju dalam dunia sains dan tekhnologi tanpa harus melepaskan ajaran Islam.

Akhir kata, jangan pernah ragu dengan Islam! Islam tidak akan pernah ketinggalan zaman. Islam akan membawa kita kepada peradaban yang tinggi dan mulia, berwawasan dan tetap bermoral. Islam akan senantiasa bersahabat dengan penemuan-penemuan ilmiah, karena Islam memang memberikan ruang bagi kreativitas ilmiah. Wallahu a’lam.

Penulis : Firman Arifianto

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 79 Rubrik Makalah

Editor : Anwar

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.