Menginjak-lnjak Al-Quran Seraya bernyanyi dan Menari di Atasnya

An-Najah.net – Saudaraku aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), di sudut Nusantara mana pun kalian, kenang dan wariskanlah cerita pahit yang dialami seniormu pada 13 Januari 1965, di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, Jawa Timur.

Baca juga: Kebengisan PKI Saat Membumihanguskan Kampung Kauman, Magetan

Marilah kita simak cerita Masdoeqi Moeslim, Muhammad Ibrahim Rais, dan Zainudin, tiga di antara panitia training kepemimpinan Pelajar Islam Indonesia Nasional kala itu.

Waktu Fajar Yang Tak Terlupakan

Bersama retakan fajar di langit timur, dentang jam mengisyaratkan pukul 04.30 WIB. Masdoeqi dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh.

Belum kering sisa air wudhu, mereka semua bersila, ditingkah lantunan bacaan Al-Quran yang merdu. Namun, kedamaian itu dirontokkan. Tiba-tiba, sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata, datang menyerbu mereka.

Semua diminta diam, menurut, dan angkat tangan! Lafaz Allah yang bergema di seluruh relung dinding Pesantren Al-Jauhar, disumpal dengan bentakan-bentakan mereka yang kasar dan menghina agama.

Pimpinan penyerbuan itu adalah Suryadi dan Harmono. Massa Pemuda Rakyat dan BTI itu menyerbu dengan bersenjatakan golok, pedang, kelewang, arit, dan pentungan sambil berteriak histeris.

Mereka meneriakkan, “Ganyang santri…!” “Ganyang Serban…!” “Ganyang Kapitalis…!” “Ganyang Masyumi…!”

Bagaimana tidak ingin marah dan mengamuk. Di saat sebagian komplotan PKI masuk masjid tanpa melepas sepatu dan sandal, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. Kitab suci yang sebagian dipegang sebagian pelajar, direbut dan dirobek seperti kertas tisu di toilet.

Semua kitab suci itu dilempar ke halaman masjid, seperti membuang kotoran najis. Dengan enaknya mereka menginjak-injak Al-Quran yang berserakan di halaman, seraya menari dan menyanyi di atasnya. Dengan sombong dan bahagia tersirat di wajah mereka pada saat itu.

Sebenarnya, Masdoeqi dan kawan-kawan sudah hendak melawan. Mati dalam jihad membela Allah, tidak apa. Namun, popor (gagang) senapan digunakan komplotan PKI untuk memukul dan meringkus para pelajar.

Para pelajar kalah dalam jumlah dan kekuatan. Tubuh dan tangan mereka segera diikat dengan tali, lalu digiring dan dikumpulkan di depan masjid. Kepalanya ditempeli ujung senapan yang siap melontarkan peluru kapan saja.

Setelah membereskan para Pelajar Islam, massa PKI langsung menyerang rumah Kyai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren AI-Jauhar. Para PKI juga mengganyang adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kyai Makhrus Aly. Ayah dari Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah.

Baca juga: Pasir Dan Air Mauk Menjadi Saksi Bisu Kebengisan PKI

Selanjutnya, komplotan PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Di sepanjang perjalanan, para anggota PKI itu mencaci dengan makian kotor dan mengancam akan membunuh.

Hampir semua tawanan itu disiksa. Bahkan, banyak di antaranya yang tewas dalam peristiwa berdarah pada 42 tahun silam itu.

Saat peristiwa Kanigoro ini terjadi, PKI telah menguasai seluruh pelosok Kediri. Bahkan, pejabat pemerintahan, kepolisian, dan tentara telah dikuasai orang-orang dari partai pimpinan DN Aidit itu. Di Desa Kanigoro sendiri, perbandingan kalangan santri dengan orang komunis adalah 1:25.

Kaum santri dan kyai betul-betul terjepit. Namun, banyak Banser dan Anshor dari luar kota yang berhasil menyelamatkan mereka.

Terus hidupkanlah cerita ini sebagai peringatan dan kesiapsiagaan kalau gerakan komunis penghina agama itu bangkit lagi. Jangan lupakan kebengisan dan kebiadaban mereka kepada para kyai, pelajar, penjabat dan masih banyak yang mereka bantai tanpa belas kasih. Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Buku, Ayat-Ayat Yang Disembelih, cet II, hal 177,178

Penulis             : Anab Afifi, Thowas Zuharon

Editor               : Ibnu Alatas