Mengkafirkan Orang Kafir

Surat Al Kafirun
Surat Al Kafirun

An-Najah.net –

مَنْ لَمْ يُكَفِّرِ الْمُشْرِكِيْنَ أَوْ شَكَّ فِيْ كُفْرِهِمْ أَوْ صَحَّحَ مَذْهَبهُمْ كَفَرَ

Matan ke-3: Orang yang tidak mengkafirkan orang musyrik, meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan agama mereka, ia telah kafir

Kali ini kita memasuki pembahasan ketiga dari sepuluh pembatal keislaman menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yaitu barang siapa yang tidak mengkafirkan orang musyrik, atau ragu dalam kekafiran mereka, atau membenarkan agama mereka, ia telah kafir.

Seorang muslim wajib meyakini bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar dan diridhoi oleh Allah. Adapun yang selain itu, semuanya adalah sesat lagi celaka. Keyakinan ini sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga : Tiga Golongan Manusia Dalam Al Qur’an

Sebab Kekafiran

Ketika Allah dan Rasul-Nya mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang-orang ahli kitab dari kalangan Yahudi, Nashrani maupun dari agama-agama lainnya, maka wajib bagi seorang muslim untuk berkeyakinan akan kafirnya mereka. Karena Allah berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللهِ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللهُ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)

Cukuplah keingkaran mereka kepada nabi Muhammad sebagai bukti akan kafirnya mereka. Bagaimana mungkin seorang muslim ragu tentang kekafiran mereka, padahal mereka yakin bahwa nabi Muhammad berdusta. Seandainya mereka tidak menganggap nabi Muhammad berdusta, tentu mereka akan beriman kepadanya.

Musuh Islam tidak henti-hentinya menghembuskan syubhat ke telinga kaum muslimin. Sebagian mereka mengatakan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi untuk bangsa Arab saja, bukan untuk seluruh kaum muslimin. Barang siapa yang ragu atas kafirnya ucapan ini maka ia termasuk bagian di dalamnya. Sebab Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat manusia.

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28)

Dengan tegas Rasulullah SAW mengultimatum kafirnya orang-orang yang berpendapat seperti itu. Beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ditangan-Nya. Tiada seorang-pun dari umat ini yang mendengar seruanku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada seruan yang aku sampaikan, kemudian ia mati, pasti ia termasuk penghuni neraka”.

Baca Juga : Haram Memilih Pemimpin Kafir

Yang lebih buruk dari itu adalah paham pluralisme agama. Yang menganggap semua agama sama. Mereka mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan. Hanya pembahasan dan tata caranya saja yang berbeda. Pada akhirnya semua orang baik akan masuk surga. Baik dia muslim maupun non muslim. Sebaliknya, semua orang jahat akan masuk neraka sekalipun dia seorang muslim.

Mereka menyerukan pada pendekatan terhadap agama. Mereka mengatakan bahwa Islam, Yahudi, dan Nashrani adalah berasal dari Tuhan yang satu. Mereka semua beriman kepada Allah. Tidak pantas bagi kita untuk saling mengkafirkan satu sama lainnya. Sungguh ucapan tersebut adalah ucapan kufur yang dapat mengeluarkan manusia dari Islam. Padahal Allah berfirman:

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam.” (QS. Al-Maidah: 17)

Di antara mereka juga ada yang mengatakan bahwa Yahudi dan Nashrani juga mengikuti ajaran para nabi terdahulu. Yuhudi mengikuti ajaran nabi Musa. Sementara Nashrani mengikuti ajaran Isya. Sungguh ucapan ini hanyalah kepalsuan belaka.

Sungguh, kaum Yahudi sama sekali tidak mengikuti nabi Musa. Seandainya mereka mengikuti ajaran nabi Musa, tentu mereka akan beriman kepada nabi Muhammad. Sebab nabi Musa telah mengabarkan akan datangnya nabi Muhammad. Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka…” (QS. Al’A’raf: 157)

Demikian juga dengan orang Nashrani, mereka tidak pernah beriman kepada nabi Isa. Bagaimana dikatakan mereka mengikuti nabi Isa, sementara mereka merubah isi Injil lantaran adanya Berita nabi Muhammad di dalamnya. Allah berfirman:

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 146)

Orang-orang yang mengkampanyekan takrib atau pendekatan antara Islam, Yahudi, dan Nashrani seolah melupakan tabiat ahlu kitab. Lupa terhadap firman Allah yang menyatakan bahwa tidak mungkin orang Yahudi dan Nashrani ridho dengan umat Islam. Seolah mereka ingin mencari keridhoan ahlu kitab. Padahal Allah telah menerangkan bahwa:

لَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Baca Juga : Permusuhan Abadi Antara Muslim dan Kafir

Sederhananya, seorang muslim wajib tunduk pada putusan Allah. Jika Allah mengkafirkan mereka, maka kita harus mengatakan mereka kafir. Bukankah Allah lebih mengerti daripada kita?

Referensi : Majalah An-najah Edisi 143 Rubrik Aqidah

Editor : Anwar