Mengukur Kemenangan

Kemenangan
Kemenangan

An-Najah.net – Tidak semua kemenangan itu dinilai dengan kemenangan yang hakiki. Kemenangan adalah tujuan dari setiap peperangan. Baik kemenangan maknawi maupun hakiki, ia adalah salah satu tujuan dari sebuah pertempuran.

An-Nasr Dalam Pandangan Manusia

Namun perlu kita garis bawahi, kebanyakan kaum muslimin yang berjihad di medan perang, menilai kemenangan terbatas dengan kemenangan di medan tempur saja, melupakan kemenangan-kemengangan secara maknawi yang banyak mereka capai.

Baca Juga Jangan Kau Tunda Kemenangan Dengan Maksiatmu

Padahal Allah Ta’ala mensyariatkan jihad ini kepada kita dan tidak memberikan jaminan kepada orang yang menyambut seruannya untuk selalu menang (menang secara hakiki). Bahkan, Allah Ta’ala telah menetapkan kekalahan bagi kaum muslimin sekali waktu, seperti dalam firman-Nya:

إنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. (Q.S. Ali Imran: 140)

Ayat ini turun untuk menegaskan sunnah terjadinya kekalahan yang pasti berjalan. Sunnah kekalahan di medan perang yang dialami kaum muslimin pada perang Uhud ini berlaku bagi siapa saja.

Seandainya manusia mau membuka lebih lebar pemahaman mereka tentang makna kemenangan, mereka akan berkesimpulan bahwa siapa saja yang berjihad dan merupakan puncak tertinggi dari ajaran Islam, ia tidak pernah rugi sedikitpun.

Bahkan, seorang mujahid sejatinya selalunya berada dalam posisi menang. Apapun kondisinya. Berjaya, tertawan, terusir bahkan terbunuh, sejatinya mereka tetaplah menang. Jihad sebenarnya adalah sebuah keberuntungan dalam segala kondisinya, walaupun kenyataan di lapangan berbeda dengan yang diharapkan.

An-Nash Dalam Pandangan Allah Ta’ala

Dalam AI-Qur‘an dan As-Sunnah akan kita temukan hakikat kemenangan bagi seorang mujahid, baik secara individu maupun berjamaah. Kami akan paparkan agar menjadi renungan kita bersama. Sehingga kita semakin mantap melangkah di jalan yang diridho ini.

Pertama, Kemenangan seorang mujahid ketika berhasil mengalahkan hawa nafsunya, bujuk rayuan setan serta delapan perkara yang disukai semua manusia, mengalahkan urusan-urusan duniawi, di mana dalam hal ini banyak sekali kaum muslimin yang gagal, bahkan bisa dibilang hampir seluruh manusia gagal untuk mengalahkan perkara-perkara ini. Allah Ta’ala menyebutkan kedelapan perkara ini dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

”Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah Iebih kamu cintai Iebih daripada Allah Ta’ala dan RasuI-Nya dan (dari) beriihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Ta’ala mendatangkan keputusan-Nya, Dan Allah Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Q.S. At-Taubah: 24)

Kedua, Jika seorang hamba berangkat berjihad, berarti ia telah mewujudkan kemenangan yang lainnya. kemenangan kali ini berupa kemenangan atas setan yang senantiasa menghalanginya dari jihad dengan berbagai cara. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah w. bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

”Syetan duduk menghadang anak Adam di atas jalan iman, syetan itu berkata kepadanya, ”Apakah kamu mau beriman dan meninggalkan agamamu dan agama ayahmu?” Anak Adam itu tidak memperdulikannya dan terus beriman. Kemudian syetan duduk di jalan hijrah, ia berkata kepadanya: ”Apakah kamu mau berhijrah dengan meninggalkan harta dan keluargamu?” Ia tidak memperdulikannya dan terus berhijrah. Kemudian syetan duduk di atas jalan jihad, ia berkata kepadanya: “Apakah kamu mau berjihad? Nanti kamu terbunuh dan isterimu akan dinikahi orang, hartamu akan dibagibagikan kepada orang lain.” Ia kembali tidak memperdulikannya dan terus berjihad hingga terbunuh. Siapa yang seperti ini keadaannya, menjadi hak Allah untuk memasukkannya ke dalam jannah. ” (H.R. Bukhori)

Ketiga, Ketika seorang mujahid teguh di atas jalan dan prinsip jihad, apapun yang menimpa dirinya, baik kepayahan dan kegoncangan serta komentar-komentar yang melemahkannya, pada dasarnya ini sudah merupakan satu kemenangan. Bukankah Allah Ta’ala berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

”Alloh meneguhkan (iman) orang-orang beriman dengan perkataan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,  dan Allah Ta’ala menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia Kehendaki (Q.S. lbrahim: 27)

Keempat, Di antara bentuk kemenangan yang Allah Ta’ala berikan kepada para mujahidin adalah dengan menghancurkan musuh mereka dengan menimpakan musibah dari sisi-Nya. Musibah ini terjadi disebabkan karena jihad yang dilakukan para mujahidin.

Seringnya para mujahidin kalah menghadapi musuhnya di medan tempur, ini mengingat tidak seimbangnya kekuatan kedua belah pihak. Akan tetapi Allah Ta’ala yang Mahakuat lagi Mahaperkasa, tiada Dzat yang mampu menandinginya.

Karena para mujahidin telah berusaha secara maksimal, mencurahkan segala teaga dan upayanya, berjuang dengan kekuatan yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka, ber-I’dad dengan serius, maka Allah Ta’ala akan menjadikan usaha dan perlawanan mereka yang tidak seberapa itu menjadi sebab kehancuran musuh mereka dengan menurunkan kegoncangan dari sisi-Nya.

Demikianlah beberapa kemenangan-kemenangan maknawi  yang jarang disadari oleh para pejuang Allah Ta’ala, para mujahidin. Sebagian mereka beranganggapan kemenangan itu hanya kemenangan dalam medan perang saat melumpuhkan musuh. Inilah kenyataan yang masih sering terjadi di kalangan para mujahidin.

Semoga risalah singkat ini bisa memantapkan jiwa dan raga bagi para pengembannya saat berjuang dijalan Allah Ta’ala yang sangat agung ini.  Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber            : Majalah An-Najah edisi 60, hal 11,12

Penulis             : Tengku Azhar

Editor              : Ibnu Alatas