Browse By

Menilai Manusia Berdasar Profesi

Profesi

Profesi

An-Najah.net –

السَادِسَةُ وَالثَّمَانُوْنَ: الافْتِخَاُربِالصَّنَائِعِ, كَمَاافْتَخَرَأَهْلُالرِّحْلَتَيْنِعَلَىأَهْلِالْحَرْثِ

Matan ke-86: Bangga karena profesi, sebagaimana saudagar Qurasy mengganggap dirinya lebih tinggi dibanding para Petani

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik. Itulah yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Allah membekali manusia dengan bentuk fisik yang ideal yang berfungsi untuk menopang segala kebutuhan aktifitas harian. Allah juga memberi manusia akal yang dapat digunakan untuk berpikir, memilih,merenung dan lain sebagainya.

Dengan Segala kelebihan yang melekat pada diri seorang manusia, bukan berarti ia tidak lagi membutuhkanbantuan orang lain. Karena manusia bukanlah makhluk individualis yang mampu mengerjakan banyak pekerjaan.

Banyak perkara yang tidak mungkin diselesaikan kecuali dengan melibatkan banyak pihak. Rasa saling membutuhkan dan saling mengisi adalah fitrah manusia. Dari sinilah kehidupan sosial bermula.

Sadar akan keterbatasan kemampuannya, akhirnya manusia memilih bekerja sesuai bakat dan minat. Lambat laun lahir orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu yang kemudian menjadi profesi baginya.

Menilai Orang Berdasar Profesi

Adalah sesuatu yang sangat naif jika seseorang menilai orang lain berdasar profesi yang digelutinya. Menjadikan titel dan pekerjaan sebagai standar kemuliaan.

Seperti, menganggap saudagar, pejabat dan pekerja kantoran sebagai manusia kelas elit. Sedangkan orang yang bekerja di sawah, ladang dan tempat-tempat kuumuh sebagai manusia kelas dua.

Fenomena menilai seseorang berdasarkan profesi hampir merata di seluruh bangsa. Sebut saja Arab misalnya. Kondisi alam yang tidak bersahabat untuk bercocok tanam menjadikan mereka lebih suka berdagang ketimbang menggeluti profesi lain.

Berbagai profesi yang berbasis keterampilan seperti tukang bangunan, bertani, pandai besi dan pengrajin lainnya biasanya dikerjakan para pelayan dan budak.

Fakta sosial seperti itu membentuk pola pikir masyarakat, bahwa berdagang adalah profesi orang-orang elit, sedangkan pekerjaan lainnya adalah profesi manusia kasta kedua.

Gejala seperti di atas juga dapat kita jumpai di negeri yang kita cintai ini,sebut saja dalam acara pernikahan misalnya. Dikotomi strata sosial berdasarkan profesi begitu terasa di dalamnya.

Di beberapa daerah, biasanya istri-istri petani, pekerja serabutan dan yang sejenisnya ditempatkan di bagian belakang, bekerja di dapur bersama kepulan asap.

Sedangkan istri-istri saudagar, pejabat dan yang semisalnya dipersilahkan duduk manis, sekalipun mereka adalah tetangga yang paling dekat dengan yang empunya hajatan.

Adapun di ruang tamu, nasib para petani, pekerja serabutan dan yang lainnya tidak jauh beda dengan suratan istri-istri mereka. Mereka dipersilahkan duduk dikursi khusus, khusus dibelakang para saudagar dan pejabat dan yang lainnya.

Islam Memandang Profesi

Islam adalah agama yang menghasung umatnya untuk giat bekerja. Banyak ayat dan hadits yang mengisyaratkan agar seorang musim rajin bekerja demi terpenuhinya kebutuhan pribadi dan orang yang berada di bawah tanggungannya.

Karena kehormatan seorang muslim terletak pada etos kerjanya, bukan pada profesi yang ia geluti. Sebab pada hakikatnya, profesi hanyalah sebuah sarana yang menjadi amanah baginya.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mencari pekerjaan yang layak adalah sebuah pilihan, sedangkan mencari rezeki yang halal adalah tuntutan. Artinya apapun profesi yang digeluti, selama itu halal, tidak ada jalan untuk saling mencela.

Bukankah nabi Adam adalah seorang petani, nabi Nuh adalah tukang kayu, nabi Idris adalah tukang jahit, nabi Ibrahim dan Luth adalah petani, nabi Dawud adalah pandai besi, dan nabi Isa, Syu’aib serta Rasulullah SAW menjadi penggembala.

Inilah prinsip bekerja dan berprofesi dalam Islam, mencari rezeki yang halal. Sebuah konsep yang tidak melihat seseorang berdasar profesi, tapi bagaimana profesi tersebut dapat menghilangkan ketergantungan terhadap orang lain.

Sebab, profesi hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Siapa yang mampu meraih ketakwaan dengan pekerjaannya, sejatinya dialah yang paling mulia.

Pada dasarnya profesi adalah hasil dari Interaski sosial.Interaksi tersebut menghasilkan sikap saling membutuhkan dan membantu. Orang kaya membutuhkan tenaga si papa. Demikan sebaliknya, si papa membutuhkan harta si kaya.

Allah melebihkan seseorang di atas yang lain agar roda kehidupan terus berputar. Tidak bisa dibayangkan jika dunia ini hanya satu warna. Semua orang hanya memiliki satu profesi. Pasti akan terjadi kekosongan di mana-mana.

Oleh karena itu, para salaf tidak pernah mempermasalahkan profesi apa yang ditekuni oleh anak-anak mereka. Sebab mereka memiki neraca yang tepat untuk menilai seseorang. Satu pesan mereka, “Carilah rezeki yang halal!”Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya:

Wahai anakku, berusahalah untuk mencari rezeki yang halal. karena tidaklah seseorang tertimpa kemelaratan melainkan akan mendapat tiga masaah; lemah agamanya, kurang akalnya dan hilang wibawanya.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin, 82).

Ketika menulis bab ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab memberikan salah satu contoh perilaku jahiliah adalah meremehkan orang lain karena profesinya. Lebih khusus beliau mengatakan seperti seorang saudagar memandang para petani dengan sebelah mata.

Hal ini bukan bermaksud memojokkan para saudagar. Namun fenomena yang marak pada masa itu adalah orang akan lebih menghormati pedagang dari pada yang lainnya.

Harus diakui, perdagangan memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi suatu bangsa. Tidak jarang hubungan antar bangsa bermula dari perdagangan. Sejarah mencatat, bahwa Islam tersebar di nusantara atas jasa para saudagar.

Namun besarnya pengaruh mereka terhadap perkembanga ekonomi tidak menjadikan mereka memiliki hak untuk sewenang-wenang dan meremehkan orang lain.

Dunia indah dengan beragam warna. Seseorang tidak mungkin hidup tanpa bantuan orang lain. Jadi mulailah menilai pekerjaan orang dari segi kemanfaatanya.

 

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 125 Rubrik Aqidah

Penulis : Sahlan Ahmad

Editor : Helmi Alfian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *