Browse By

*Menimbang Kesesatan Syiáh Lewat Fatwa MUI Pusat_Part: 1* (Tanggapan Terhadap Haidar Bagir) *Oleh: Masúd Izzul Mujahid*

An-Najah.net–  Menimbang Kesesatan Syiáh Lewat Fatwa MUI Pusat. Syiah menjadi bintang yang dibicarakan di beberapa tempat, di kampus. Hal ini, tidak lepas dari usaha beberapa tokoh Syiah untuk melakukan pendekatan terhadap kampus-kampus Islam yang ada di Indonesia.

Syiah menjadi bintang yang dibicarakan di beberapa tempat, di kampus. Hal ini, tidak lepas dari usaha beberapa tokoh Syiah untuk melakukan pendekatan terhadap kampus-kampus Islam yang ada di Indonesia.

Ibadah Syiáh

Seperti yang terjadi di Malang, salah satu penulis Syiah, Dina Sulaiman, berupaya untuk masuk kampus UNIBRAW Malang. Tetapi diusir dan ditolak kedatangannya oleh umat Islam. Sebab, umat Islam Malang, sudah tercerahkan tentang kesesatan Syiah, lewat berbagai media Islam dan penjelasan para ulama.

Dulunya, kesesatan Syiah menjadi sesuatu yang sangat susah untuk dicari dan dibuka tabirnya. Sekarang dengan canggihnya informasi dan kemajuan media yang luar biasa, berbagai macam kebobrokan Syiah dan kesesatannya tampak di depan mata umat Islam.

Kejadian yang hampir mirip, terjadi di IAIN Surakarta. Rencana kedatangan tokoh Syiah yang dikenal selalu mempersentasikan pemikiran Syiah dengan pendekatan filsafat dan tasawuf, Haidar Bagir, di kampus tersebut menjadi sesuatu yang sangat menegangkan bagi panitia pelaksana acara.

Diakibatkan protes dan penolakan dari umat Islam, yang diwakili beberapa ormas Islam seperti ANNAS Solo Raya & Dewan Syariah Kota Surakarta, dan beberapa ormas Islam lainnya.

Sejatinya, di awal pertemuan dengan tokoh umat Islam, Rektor IAIN Surakarta Bapak Mudhoffir, menyatakan kesiapan untuk tidak menghadirkan Haidar Bagir, dan berjanji untuk mengganti pembicara dengan pembicara lain.

Entah bagaimana ceritanya, pihak IAIN menampik kesepakatan ini. Bahkan, menganggap bedah buku “Islam Tuhan Islam Manusia” karya tokoh Syiah Haidar Bagir tersebut, sebagai sebuah kebebasan ekspresi mimbar kampus.

Tentunya, hal yang sulit dipahami adalah sebuah sekte sesat yaitu Syiah, dijadikan sebagai bahan untuk dibicarakan dan dipromosikan di tengah mahasiswa yang masih awam keislamannya.

Untuk diketahui, semua ulama yang memiliki otoritas dalam berbicara agama Islam, bersepakat bahwa semua Syiah sesat. Bahkan tokoh-tokoh Ormas Islam Indonesia menyatakan hal itu. Seperti Hadhratusy Syaikh Hasyim Asyáriy, dan Buya Hamka. Dengat tegas, sang kiyai pendiri NU ini menolak Zaidiyah dan Imamiyah, dan divonis bidáh oleh beliau, (Lih. Buku MUI: Mewaspadai Penyimpangan Syiáh, hal. 34-35)

Hanya saja tingkat kesesatan mereka berbeda-beda. Yang lebih dahsyat adalah kalangan Rofidhoh, Ismailiyah dan Nushairiyah, yang berkembang di Iran, Irak, Suriah dan Pakistan.

Ketiga kelompok ini dianggap sebagai Gerakan Bathiniyyah yaitu gerakan orang-orang yang merusak Islam atas nama Islam Imam Al Ghazali telah mengelompokkan bahwa kelompok-kelompok ini terutama Nusairiyah sebagai kelompok yang sangat sesat, bahkan lebih sesat dari orang-orang Yahudi maupun Kristen.

*Kesesatan Syiáh Dalam Fatwa MUI*

Agar lebih jelas Mari kita timbang kesesatan Syiah berdasarkan kriteria kelompok sesat yang telah disepakati oleh MUI kemudian kita merujuk kepada kitab-kitab asli Syiah yaitu kitab-kitab hadits yang dianggap sebagai kitab rujukan Syiah sejak kurung lalu hingga sekarang.

Yang perlu menjadi catatan, sengaja di sini saya tidak membagi-bagi Syiáh. Seperti Zaidiyah, Druziyah dan lain sebagainya. Sebab Zaidiyah yang dianggap dekat dengan Ahlu Sunnah wal Jamaáh tetap saja memiliki keyakinan yang menyimpang.

Logika sederhananya; yaitu jarak antara matahari dan bumi. Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi. Bintang lainnya berjarak jutaan tahun cahaya dari bumi. Meski  matahari dianggap dekat dengan bumi, namun antara kedua benda langit ini terbentang jarak 146 juta kilo meter. Seperti itulah jauhnya Syiah Zaidiyyah dari ajaran Ahlu Sunnah wal jamaah.

Juga, Syiáh Zaidiyah yang ada sekarang telah banyak berubah. Tidak sebagaimana pendahulunya dulu. Akidah dan pemikiran mereka, telah dirasuki oleh Rofidoh dan Ismaíliyah. Syiáh Hautsi di Yaman, salah satu contohnya. Lebih lengkap silahkan dibaca di (http://mig.an-najah.net/menguak-syubhat-syiah-zaidiyyah/ )

Selain itu, Syiáh yang aktif dalam menyebarkan ideologynya hari ini adalah rofidhoh dan Ismaíliyah. Sebuah sekte yang telah disepakati kekafiran dan kesesatannya oleh ulama Ahl Sunnah, seperti imam Bukhari, imam Asy-Syafií, imam Malik, dan selainnya. Apalagi disokong oleh negara Iran, yang memang resmi menjadikan Syiáh Rofidhoh sebagai ideology negaranya.

Syiáh Rofidhoh jugalah yang dianut oleh orang-orang Indonesia. Bukan Syiáh Zaidiyah. Kalaupun ada Zaidiyah-nya itu hanya segelintir orang saja. Jadi bisa dikata, kalau ada kajian Syiáh hari ini, maka yang dimaksud adalah Syiáh Rofidhoh.

Menimbang Kesesatan Syiáh

Setidaknya ada 10 kriteria sesat menurut MUI. Berikut kami sebutkan, sekaligus fakta yang ada pada Syiáh.

*Pertama: Mengingkari salah satu dari rukun iman yang enam.*

Kriteria ini ada pada Syiáh. Syiáh tidak mengakui rukun iman yang enam. Syi’ah hanya memiliki lima rukun Iman. Sebagaimana diterangkan oleh ulama Syiáh Mudzaffar dalam bukunya, al-Aqaíd. Kelimanya yaitu: Tauhid (Keesaan Allah swt), al-‘Adl (Keadilan Allah swt), Nubuwwah (Kenabian), Imamah (Kepemimpinan Imam), dan Ma’ad (Hari kebangkitan dan pembalasan). Rukun iman ini disebutkan dalam buku-buku Syi’ah, (lih. Muhammad Ridho Mudzaffar, Al-Aqa’id Al-Imamiyah)

Rukun iman Syi’ah jelas berbeda dengan rukun iman dalam ajaran Islam. Syi’ah tidak menyertakan: Iman kepada Malaikat Allah swt, Para Rasul, Qadha dan Qadar

*Kedua: Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan sunnah.* Pada Syiá ini sugguh sangat banyak. Salah satunya; menghina keluarga rasulullah SAW, baik itu istri, mertua, dan juga sahabat-sahabat rasulullah SAW.

Penghinaan ini ada pada kitab-kitab induk dan kitab-kitab hadits mereka. Dan juga diulang-ulang oleh tokoh, dan ulama-ulama Syiáh kontemporer.

Dalam salah satu kitab induk Syiáh, Arraudhah minal Kaafi disebutkan, Syi’ah meyakini bahwa sepeninggalan Rasulullah saw, semua sahabatnya murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti; al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary, dan Salman al-Farisi RA., (Arraudhah minal Kafi, 8/245).

Mereka telah memutus rantai pertama sanad keislaman dan keilmuan dalam Islam. Yaitu mengkafirkan sahabat. Jika sahabat telah dikafirkan, maka tidak ada maknanya alQurán dan hadits yang ada pada kita. Sebab, semuanya diriwayatkan oleh murid-murid rasulullah SAW yang dikafirkan Syiah ini.

Padahal Allah SWT telah memuji para sahabat rasulullah SAW dalam banyak ayat. Misalnya dalam surat at-Taubah, ayat 100. Allah memuji mereka, dan menjadikan mereka sebagai neraca kebenaran.

*Ketiga: Meyakini turunnya wahyu setelah al-Quran.* Point ini tidak bisa dipungkiri oleh Syiáh manapun. Baik yang dahulu maupun sekarang. Jika ada tokoh-tokoh Syiah yang menolak ini, itu hanya taqiyyah, atau ia belum menguasai kitab-kitab induknya Syiáh.

*Keempat: Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Quran.* Ini juga menjadi akidah pokok ajaran Syiáh.  Syi’ah berpendapat bahwa Al-Qur’an tidak bisa dijadikan hujjah kecuali setelah dilegalisir oleh para imam Syi’ah. Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, Ulama besar Syi’ah, yang diberi gelar Tsiqat al-Islam berkata, “Al-Qur’an tidak dapat dijadikan hujjah kecuali dengan rekomendasi imam.” (Ushulul Kaafi, 1/188).

Pendapat seperti ini sama saja dengan mengatakan bahwa perkataan Imam Syi’ah lebih layak untuk dijadikan Hujjah ketimbang Al-Qur’an yang merupakan  firman Allah. Jelas ini merupakan penistaan terhadap Al-Qur’an.

Menurut Syiáh, hanya Imam Syi’ah Yang Mengerti Al-Qur’an. Hurr al-Amili, salah satu ulama Syi’ah yang terkenal berkata, “Sesungguhnya Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad. Barang siapa yang menyelisihinya akan tersesat. Barang siapa yang ingin belajar ilmu Al-Qur’an selain dari Ali maka ia akan celaka.” (Wasailil Syi’ah, 18/138).

Jelas ini adalah pelecehan dan penyesatan terhadap Al-Qur’an. Menganggap Al-Qur’an tidak dapat dipahami selain golongan mereka. Menganggap Al-Qur’an tidak meresap pada sahabat-sahat Rasulullah yang lain.

Syiah juga meyakini , para imam memiliki wewenang untuk menghapus Al-Qur’an. Al-Kulaini –sala satu ahli hadits Syiah- dalam buknya berkata, “Masalah menghapus, menghususkan (takhsis) dan mengikat (taqyid) tidak lain merupakan bagian dari tugas para imam.” (Ushulul Kafi, 1/265)

Seolah para Imam memiliki hak untuk membuat syariat. Sebab mereka berhak untuk menentukan mana ayat yang harus dihapus dan mana yang dipertahankan. Tentunya sesuai dengan selera dan nafsu para imam mereka.

Jika kaum muslimin begitu marah ketika ada seorang yang menistakan salah satu dari ayat Al-Qur’an, tentunya kaum muslimin harus lebih marah dengan kelompok yang satu ini. Sebab Syi’ah menjadikan pelecehan terhadap Al-Qur’an sebagai bagian dari aqidah mereka.

Duh, miris sekali jika Syiáh dipandang sebagai sebuah madzhab fikih, dan mengesampingkan kesesatan akidah mereka. Seharusnya, mengkaji Syiáh bukan dari sisi fikih, sebagaimana ditulis oleh Haidar Bagir dalam bukunya, Islam Tuhan Islam Manusia, Bab: Relativitas Madzhab-Madzhab Dalam Islam (hal. 121-127).

Untuk kajian pemikirannya, seharusnya mengkaji Syiáh dimasukkan dalam Bab Firoq, bukan Madzahib Fikih. Jika dimasukkan dalam Bab Fikih, ini adalah sebuah bentuk pengkaburan. Seakan-akan Syiáh baik Ja’fariyah, Ismaíliyah dan sejenisnya, disejajarkan dengan madzhab fikih dalam Islam; Hanafiah, Malikiyah, Syafiíyyah, dan Hambali.

Pendiri-pendiri dan ulama madzahib Islam ini, telah menyatakan baroáhnya dari penyimpangan Syiáh. Bahkan, dengan jelas mengkafirkan Syiáh. Akidah ulama madzahib ini, satu. Tidak ada satupun meyakini seperti yang diyakini Syiáh.*

 

*Penulis: Pimpinan Redaksi Majalah An-Najah, Sekjen ANNAS Solo Raya & Anggota Dewan Syariáh Kota Surakarta*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *