Menimbang Logika Awam

Mereka (orang munafiq) berkata: “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya”. Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi RasulNya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.(Al Munafiqun: 8)

Tak biasa, orang munafiq turut serta dalam perang Bani Musthaliq. Kebetulan dua sahabat terlibat pertikaian saat itu. Adalah Jahjah bin Sa’id al Ghifari bertengkar dengan Sinan bin Wabr al Jahni di dekat telaga al-Muraisi. Dalam pertengkaran yang mengarah saling membunuh itu, Sinan berteriak: “Wahai kaum Anshar”, Jahjah juga berteriak: “Wahai kaum Muhajirin”.

Mendengar kejadian itu, tokoh munafiq, Abdullah bin Ubay bin Salul berang dan berkata di depan kaum munafiq: “Mereka (muhajirin) telah menyaingi dan mengungguli jumlah kita di negeri sendiri. Demi Allah, antara kita dengan orang-orang Quraisy ini tak ubahnya seperti ungkapan orang: “Gemukkan anjingmu, niscaya menerkammu, Demi Allah, jika kita telah sampai Madinah, orang-orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina (muhajirin)”.

Zaid bin Arqom yang mendengarkan ucapan itu melapor kepada Rasulullah saw, dan Allah membenarkannya melalui ayat diatas.

***

“Demi Allah, jika kita telah sampai Madinah, orang-orang yang mulia pasti akan mengusir kaum yang hina (muhajirin)”, demikian ujar Abdullah bin Ubay. Perkataan berbisa yang menyakitkan; muncul dari musuh dalam selimut yang tidak seperti biasa bersikap hipokrit, melainkan telah mengancam hendak mengusir Rasulullah beserta sahabatnya dari Madinah.

Umar bin Khottob yang mendengar berita itu berkata: “Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal leher orang munafiq ini”. Sebuah permintaan izin yang berangkat dari kesimpulan atas layaknya hukuman mati bagi si Munafiq. Tidak hanya Umar radhiyallahu ‘anhu yang berkesimpulan demikian, para sahabat, sekembali mereka ke Madinah menunggu tindakan keras yang akan dilakukan Rasulullah terhadap kaum munafiq. Mereka percaya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bakal membunuh Abdullah bin Ubay. Desas-desus begitu santer, hingga Abdullah bin Abdullah bin Ubay, anak Abdullah bin Ubay, datang menemui Rasulullah dan berkata: “Saya mendengar engkau ingin membunuh ayahku. Jika benar, maka perintahkanlah aku. Aku bersedia membawa kepalanya kepadamu…”.

Namun, baik permohan Umar radhiyallahu ‘anhu. maupun permohonan Abdullah bin Abdullah bin Ubay radhiyallahu ‘anhu. sama-sama ditolak oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Kepada Umar bin Khottob beliau menjawab: “Wahai Umar, bagaimana nanti jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya ?”. Kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay, Rasulullah berujar: “…Bahkan kita akan bertindak lemah lembut dan berkata baik kepadanya, selama dia masih tinggal bersama kita”.

***

Kenapa Rasulullah tidak mengizinkan pembunuhan Abdullah bin Ubay? sebuah hukuman yang pantas bagi si munafiq? hukuman yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mampu untuk melakukannya?

“Wahai Umar, bagaimana nanti jika orang-orang berbicara bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya ?”, demikian alasan Rasulullah. Sebuah ungkapan yang berangkat dari kematangan berpikir dan bertindak. Saat itu, beliau dihadapkan realitas logika awam yang tidak bisa membenarkan jika kaum munafiq dibunuh. Beliau khawatir hal itu justru menjadi iklan buruk atas citra Rasulullah, dan tentu, citra Islam juga. Dalam hal ini tampak Rasulullah memperhatikan perspektif umum untuk sebuah parameter, dan bukan perspektif seorang sahabat semacam Umar bin Khottob ra., atau kelompok sahabat masa itu.

***

Dakwah dan Jihad memerlukan simpati dan dukungan luas. Jika tidak, bersiap-siaplah memiliki banyak musuh. Simpati atau antipati masyarakat tergantung perspektif yang dimilikinya. Itulah sebabnya, kenapa Barat repot-repot membikin opini untuk menciptakan ‘common enemy’? tak lain, untuk meraih simpati dan dukungan yang seluas-luasnya. Sebagai strategi perjuangan, menggalang opini adalah lumrah belaka, bahkan ia bersifat aksiomatik dan kauniyah. Tidak selayaknya dakwah islamiyah memasuki perlawanan terbuka dengan seluruh front “penentang Islam” dalam satu waktu, melainkan harus ada skala prioritas dan pembatasan wilayah konflik. Termasuk potensi “penentang Islam” di sini, adalah perspektif (faham) masyarakat yang keliru, yang jika salah “menanganinya” bisa menjadi penentang yang sebenarnya, atau bisa digalang musuh untuk menentang.

Ali bin Abi Thalib pernah berpesan; “Jangan kalian sembarang berbicara didepan orang bodoh, saya takut mereka mendustakan Allah dan Rasulnya lantaran omongan kalian”. Disinilah letak kematangan pikiran dan tindakan. Kebodohan masyarakat adalah sebuah realitas. Yang Alim, dituntut arif, dan bukan sikap egois agar masyarakat harus memahami dirinya.

Penggalan sirah diatas memberikan pelajaran berharga, untuk sebuah sikap menimbang logika awam, yang dalam satu pespektif kadang logika dimaksud bisa dinilai absurd karena kebodohannya, namun demikian, dalam konteks tertentu ia justru menjadi parameter sebuah tindakan, dalam hal ini Rasulullah khawatir tindakan membunuh kaum munafiq menjadi citra negatif baginya, sebuah tindakan yang –jika dilakukan– dalam logika kebanyakan sahabat syah-syah saja dan termasuk jihad. Wallahu a’lam. (Bambang Sukirno)